Dituding Nirempati, Prilly Latuconsina Klarifikasi Unggahan “Open to Work” di LinkedIn

Doc: Instagram/@prillylatuconsina96

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Prilly Latuconsina akhirnya menyampaikan klarifikasi terkait polemik unggahan “Open to Work” di LinkedIn yang sempat memicu kritik tajam dari publik.

Setelah sebelumnya menuai kekecewaan karena unggahan tersebut dikaitkan dengan kampanye pemasaran, Prilly memilih angkat bicara untuk meluruskan persepsi yang berkembang, khususnya tudingan bahwa ia tidak berempati terhadap kondisi pencari kerja di Indonesia.

Dalam pernyataannya di laman Instagramnya Selasa malam (03/02), Prilly mengawali dengan permintaan maaf secara terbuka. Ia mengaku menyesal apabila apa yang terjadi justru menimbulkan rasa tidak nyaman maupun kesalahpahaman di tengah masyarakat. 

Menurutnya, situasi tersebut sama sekali bukan hal yang ia rencanakan atau harapkan sejak awal. Ia menekankan bahwa dampak emosional yang muncul di publik berada di luar niat pribadinya.

Tidak Beniat Nirempati

Lebih lanjut, Prilly menegaskan bahwa sejak awal ia tidak pernah berniat untuk bersikap tidak sensitif, apalagi mengabaikan empati terhadap realitas sosial yang sedang dihadapi banyak orang.

Ia menyadari betul bahwa isu pekerjaan adalah topik yang sangat sensitif, terutama di tengah kondisi ekonomi yang membuat banyak orang masih berjuang mencari penghidupan yang layak. Karena itu, ia memahami mengapa unggahannya bisa terasa menyakitkan bagi sebagian pihak.

Prilly juga secara terbuka mengakui adanya jarak pengalaman hidup antara dirinya dan masyarakat luas. Ia menyadari posisi serta privilese yang ia miliki tidak dapat disamakan dengan semua orang.

Kesadaran inilah yang, menurutnya, membuat kritik yang datang menjadi bahan refleksi penting. Ia mengaku mendengar dan memahami kemarahan serta kekecewaan yang muncul, meskipun hal tersebut tidak pernah ia maksudkan.

Ungkap Alasan 

Terkait penggunaan fitur “Open to Work” di LinkedIn, Prilly menjelaskan bahwa langkah tersebut ia maknai sebagai upaya membuka peluang kolaborasi lintas industri. Ia ingin memperluas jejaring profesional dan menjajaki ruang-ruang baru di luar bidang yang selama ini identik dengan dirinya.

Bagi Prilly, fitur tersebut bukan dimaksudkan sebagai representasi kebutuhan kerja secara ekonomi, melainkan simbol keterbukaan terhadap kemungkinan baru, terutama di sektor yang belum pernah ia coba sebelumnya.

Meski demikian, polemik ini menjadi pelajaran besar baginya tentang pentingnya konteks dan sensitivitas dalam komunikasi publik. Di era media sosial, pesan yang disampaikan figur publik tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu bersinggungan dengan pengalaman kolektif audiens.

Prilly menyadari bahwa niat personal bisa ditafsirkan berbeda ketika bertemu dengan realitas sosial yang kompleks.

Klarifikasi ini menandai upaya Prilly untuk memulihkan dialog dengan publik. Terlepas dari pro dan kontra yang masih bergulir, kasus ini kembali menegaskan bahwa empati, kejelasan niat, dan kesadaran posisi menjadi aspek krusial bagi figur publik dalam membangun kepercayaan di ruang digital.***

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN