Ressa Rosano Ungkap Luka Terdalam, Hingga Nekat Bongkar Dirinya Adalah Anak Kandung Denada

Doc: YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Luka terdalam dalam hubungan Ressa Rosano dengan Denada bukan hanya soal pengakuan sebagai anak kandung. Bagi Ressa, puncak sakit hati justru terjadi ketika sosok yang paling berjasa dalam hidupnya, Ratih Puspita Dewi, diperlakukan dengan cara yang ia anggap sangat merendahkan. Ratih bukan sekadar ibu angkat, tetapi juga tante kandung Ressa yang telah merawatnya sejak usia 10 hari.

Peristiwa itu terjadi saat Ratih datang langsung ke rumah Denada di Jakarta dengan niat mengurus perpanjangan STNK mobil. Kedatangannya bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan urusan administratif. Namun niat baik tersebut justru berujung pada pengalaman pahit yang hingga kini membekas dalam ingatan Ressa.

Dalam pengakuan yang disampaikan di kanal YouTube Denny Sumargo, Ratih dan suaminya, Ronald, mengungkapkan bahwa mereka sama sekali tidak disambut saat tiba di rumah Denada. Meski sudah berada di depan rumah, pintu tak kunjung dibuka. Yang lebih menyakitkan, kehadiran mereka sebenarnya sudah diketahui oleh pihak Denada.

“Sampai sana nggak dibukakan pintu. Dibiarkan menunggu di depan rumahnya, 3 jam setengah. Padahal Papa sudah komunikasi dengan Denada pakai nomor satpamnya, tapi nggak dibukain pintu,” ujar Ratih dan Ronald bersamaan, dengan nada getir.

Yang membuat situasi ini semakin memilukan, kejadian tersebut tidak hanya berlangsung satu kali. Perlakuan serupa disebut terjadi selama dua hari berturut-turut. Ratih dan Ronald harus menunggu di luar pagar rumah dalam waktu lama, tanpa kejelasan, bahkan ketika kondisi cuaca tidak bersahabat.

Bagi Ressa, kejadian ini menjadi titik balik emosional. Ia mengaku sangat terpukul melihat orang yang ia anggap sebagai ibu sendiri diperlakukan demikian. Ratih adalah sosok yang membesarkannya dengan kasih sayang, mengorbankan waktu, tenaga, dan perasaan, tanpa pernah menuntut apa pun darinya.

Ressa menilai perlakuan tersebut bukan sekadar soal ditutupnya pintu rumah, melainkan simbol dari sikap yang merendahkan martabat orang tua. Dalam pandangannya, membiarkan orang yang lebih tua menunggu berjam-jam di luar rumah adalah tindakan yang sulit diterima secara moral.

Kemarahan dan kekecewaan Ressa bukan lahir dari dendam, melainkan dari rasa sakit melihat orang yang ia cintai disakiti. Ia merasa Bu Ratih tidak pantas diperlakukan seperti itu, terlebih mengingat peran besarnya dalam hidup Ressa sejak bayi.

Peristiwa ini menjadi salah satu alasan mengapa luka antara Ressa dan Denada terasa begitu dalam. Bukan semata soal masa lalu, tetapi tentang bagaimana rasa hormat seharusnya diberikan kepada mereka yang telah mengabdikan hidup demi keluarga. Bagi Ressa Rosano, kejadian itulah puncak dari sakit hati yang sulit ia lupakan.***

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN