Kenali Gejala Henti Jantung Mendadak, Silent Killer yang Mengintai Tanpa Gejala

Ket. ilustrasi sakit jantung

Doc: Freepik

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Henti jantung mendadak atau sudden cardiac arrest kerap dijuluki sebagai silent killer karena bisa terjadi secara tiba-tiba tanpa tanda peringatan yang jelas.

Kondisi ini menjadi sorotan publik setelah dialami oleh figur publik seperti Lula Lahfah, yang sempat membuat banyak orang tersadar bahwa ancaman henti jantung tidak selalu berkaitan dengan usia lanjut atau riwayat sakit berat.

Secara medis, henti jantung mendadak adalah kondisi ketika jantung tiba-tiba berhenti memompa darah ke seluruh tubuh. Berbeda dengan serangan jantung, henti jantung mendadak lebih sering disebabkan oleh gangguan listrik jantung yang membuat irama detaknya kacau.

Akibatnya, aliran darah ke otak dan organ vital terhenti dalam hitungan detik dan dapat berujung fatal jika tidak segera ditangani.

Penyebab

Penyebab paling umum dari henti jantung mendadak adalah gangguan kelistrikan jantung atau aritmia, khususnya fibrilasi ventrikel. Pada kondisi ini, bilik bawah jantung bergetar sangat cepat dan tidak terkoordinasi, sehingga jantung gagal memompa darah secara efektif.

Fibrilasi ventrikel sering kali terjadi secara mendadak dan sulit terdeteksi tanpa pemeriksaan khusus sebelumnya.

Selain aritmia, penyakit jantung koroner juga menjadi faktor utama. Penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan kolesterol dapat mengganggu suplai oksigen ke otot jantung.

Kondisi ini tidak hanya memicu serangan jantung, tetapi juga dapat mengacaukan sistem listrik jantung dan berujung pada henti jantung mendadak.

Serangan jantung yang pernah dialami seseorang juga meningkatkan risiko henti jantung. Kerusakan otot jantung akibat serangan jantung meninggalkan jaringan parut yang dapat memicu gangguan irama jantung berbahaya.

Tak hanya itu, kelainan struktural jantung seperti kardiomiopati, baik penebalan maupun pelebaran otot jantung, serta penyakit katup jantung juga berperan besar dalam meningkatkan risiko.

Faktor Lain

Faktor lain yang sering luput diperhatikan adalah gangguan elektrolit, seperti kadar kalium atau magnesium yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dalam darah.

Ketidakseimbangan ini dapat mengganggu sinyal listrik jantung. Penggunaan obat-obatan terlarang seperti kokain dan amfetamin, overdosis obat tertentu, hingga trauma berat pada dada akibat kecelakaan atau sengatan listrik juga dapat memicu henti jantung mendadak.

Selain itu, kekurangan oksigen drastis atau hipoksia, misalnya akibat asma berat atau tersedak serta gangguan genetik seperti Sindrom Brugada turut menjadi penyebab yang tidak kalah serius. Gangguan genetik ini memengaruhi saluran ion jantung dan sering kali tidak menimbulkan gejala hingga terjadi kondisi fatal.

Kasus-kasus seperti yang dialami Lula Lahfah menjadi pengingat bahwa henti jantung mendadak bisa menyerang siapa saja. Pemeriksaan jantung rutin, gaya hidup sehat, dan kewaspadaan terhadap gejala sekecil apa pun menjadi kunci penting untuk mencegah silent killer ini datang tanpa peringatan.***

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN