Tak Ingin Publik Membully Karakter di Buku Broken Strings, Aurelie Moeremans Jujur Ungkap Alasan di Balik Pembuatannya

Doc: Instagram/@aurelie

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Memoar Aurelie Moeremans berjudul Broken Strings menjadi sorotan publik dalam sepekan terakhir. Buku tersebut menyita perhatian karena untuk pertama kalinya Aurelie secara terbuka mengungkap pengalaman pahitnya sebagai korban child grooming yang ia alami saat berusia 15 tahun. Kisah yang dituliskan dengan jujur dan emosional itu pun memantik empati sekaligus perdebatan di ruang publik.

Seiring viralnya Broken Strings, sejumlah netizen mulai berspekulasi mengenai sosok-sosok yang muncul dalam cerita. Karakter-karakter dalam buku tersebut diduga memiliki keterkaitan dengan figur nyata di dunia hiburan. Nama Roby Tremonti ikut menjadi perhatian setelah ia mengaku merasa tersindir dengan karakter bernama Bobby yang muncul dalam kisah Aurelie.

Tak berhenti di situ, publik juga ramai menebak identitas karakter lain seperti Jo, Mama Jo, Kelly, Milo, Zane, hingga Tom. Dugaan demi dugaan tersebut menyebar luas di media sosial, bahkan sebagian netizen mulai melontarkan komentar bernada menyerang terhadap orang-orang yang mereka duga menjadi “tokoh asli” di balik cerita tersebut.

Menanggapi fenomena ini, Aurelie Moeremans akhirnya angkat bicara. Melalui unggahan di media sosial pada Minggu (18/1/2026), ia menyampaikan permintaan tegas kepada publik agar tidak melakukan perundungan terhadap karakter-karakter dalam bukunya.

“Please…. Aku mau minta satu hal notes penting soal Broken Strings. Tolong jangan membully atau menyerang karakter-karakter yang ada di dalam buku, apalagi kalau itu masih sebatas tebakan-tebakan,” tulis Aurelie.

Aurelie menegaskan bahwa asumsi yang berkembang belum tentu benar dan justru membuatnya merasa tidak nyaman. Ia menilai fokus pembaca mulai bergeser dari esensi utama buku tersebut. Padahal, Broken Strings bukan ditulis untuk membuka identitas siapa pun atau mengundang penghakiman publik.

Ungkap Alasan Pembuatan Buku

Lebih jauh, Aurelie menjelaskan bahwa alasan utama ia menulis memoar ini adalah sebagai bentuk keberanian untuk berdamai dengan masa lalu. Ia berharap kisahnya dapat menjadi pengingat bahwa kasus child grooming bisa terjadi pada siapa saja dan sering kali meninggalkan luka panjang yang tidak terlihat.

“Fokus dari cerita ini bukan untuk mencari siapa-siapa di dunia nyata, bukan untuk menghakimi, apalagi mengeroyok. Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku bagikan dengan sangat jujur,” ungkapnya.

Bagi Aurelie, Broken Strings adalah ruang aman untuk berbagi, bukan senjata untuk menyudutkan pihak lain. Ia pun mengajak pembaca untuk lebih berempati dan memahami pesan penyembuhan yang ingin ia sampaikan, alih-alih terjebak dalam spekulasi yang berpotensi melukai banyak pihak.***

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN