Diculik Sejak Remaja, Dijual Seperti Barang: Pengakuan Mencekam Wanita Yazidi yang Bertahan dari Neraka Budak Seks ISIS

Ket. Sipan Khalil, wanita asal Yazidi, Irak mengungkapkan kisah mengerikan hidupnya saat diculik ISIS hingga jadi budak dan disiksa.

Doc: Middle East Eye, Rudaw

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Apa yang dialami Sipan Khalil bukan sekadar cerita perang, melainkan kesaksian hidup tentang kekejaman paling gelap dalam sejarah modern. Perempuan asal komunitas Yazidi di Irak utara ini akhirnya berani membuka suara, mengungkap pengalaman pahit yang mengubah hidupnya selamanya setelah menjadi korban penculikan dan perbudakan kelompok teror ISIS.

Sipan berasal dari suku Kurdi kuno yang menganut Yazidisme, sebuah kepercayaan minoritas yang selama bertahun-tahun menjadi sasaran kekerasan. Pada 2014, saat usianya baru 13 tahun, masa remajanya hancur dalam semalam.

ISIS menyerbu desa Kocho, wilayah tempat tinggal komunitas Yazidi, membunuh banyak penduduk dan menculik perempuan serta anak-anak. Sipan termasuk di antara mereka yang digiring paksa, dipisahkan dari keluarga, lalu dibawa ke Raqqa, Suriah.

Di sana, Sipan tidak lagi diperlakukan sebagai manusia. Ia diperjualbelikan sebagai budak dan hidup dalam penahanan yang penuh teror. Setiap hari, ia menyaksikan gadis-gadis muda Yazidi mengalami kekerasan yang sistematis. Penderitaan itu pun menjadi bagian dari hidupnya sendiri, ia harus bertahan dari pemukulan, kelaparan, dan kekerasan seksual yang dilakukan berulang kali oleh para petinggi ISIS.

Kondisi Sipan semakin memburuk ketika ia dipindahkan ke kediaman pemimpin tertinggi ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi. Di tempat itu, ia dipaksa menjadi pembantu rumah tangga sekaligus mengurus anak-anak, hidup di bawah bayang-bayang ketakutan tanpa kepastian nasib. Setiap hari baginya terasa seperti hidup di neraka tanpa pintu keluar.

Dalam wawancara dengan media Rudaw, Sipan yang kini berusia 26 tahun mengungkapkan ia kerap melihat para budak Yazidi lain dipilih satu per satu. Tak butuh waktu lama hingga kekejaman itu juga menimpanya secara langsung. Ia diikat, disiksa, dan diperlakukan dengan brutal selama berbulan-bulan.

Penderitaannya belum berakhir. Pada 2017, seperti dilaporkan Mail Online, Sipan dipaksa menikah dengan Abu Azam Lubnani, militan ISIS asal Lebanon yang masih berusia 22 tahun. Pria tersebut dikenal sadis dan sering memperlihatkan rekaman penembakan tahanan sambil meneriakkan slogan-slogan ekstrem.

Setelah kekalahan ISIS, Lubnani mencoba memperdagangkan Sipan ke Lebanon. Namun upaya itu berakhir tragis ketika ranjau darat meledak di tengah perjalanan. Meski terluka dan harus melindungi bayi laki-lakinya yang masih berusia tiga bulan, Sipan melakukan tindakan nekat demi kebebasan. Ia merebut senjata dan menembak Lubnani serta penyelundup yang membawanya.

“Jika aku tidak melawan, aku tak akan pernah bebas,” katanya.

Sipan kemudian diselamatkan sebuah keluarga Badui yang menyembunyikannya selama dua tahun. Dengan bantuan ponsel, ia mencari keluarganya lewat media sosial hingga akhirnya menemukan kembali ibu dan beberapa saudara yang selamat. Pada 2021, ia resmi kembali ke Irak dan dipersatukan dengan keluarganya.

Kini, Sipan tinggal di Berlin dan aktif bersama Farida Organization, lembaga HAM yang didirikan para penyintas Yazidi. Di tengah upaya membangun hidup baru, ia tetap membawa luka lama, sebagian besar keluarganya tewas dalam genosida. Kisahnya menjadi pengingat dunia kejahatan kemanusiaan ISIS meninggalkan trauma yang tak mudah disembuhkan.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN