Balas Dendam? Alasan Aurelie Moeremans Tulis Buku Broken Strings Terbongkar
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Aktris Aurelie Moeremans kembali menjadi perbincangan hangat publik setelah merilis ebook berjudul Broken Strings.
Buku digital tersebut sontak viral karena memuat pengakuan jujur dan berani tentang masa lalu kelam yang selama ini Aurelie simpan rapat, termasuk pengalaman menjadi korban child grooming serta dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialaminya bertahun-tahun silam.
Namun di tengah sorotan dan kontroversi, Aurelie menegaskan, kisah ini bukan ditulis untuk membalas dendam pada siapa pun.
Dalam Broken Strings, Aurelie menggunakan nama samaran “Boby” untuk menggambarkan sosok pria yang disebut memanipulasi hidupnya. Pilihan ini justru memantik spekulasi publik dan membuat nama aktor Roby Tremonti kembali diseret ke dalam perbincangan.
Meski demikian, Aurelie lebih memilih fokus pada cerita dan proses penyembuhan dirinya, bukan pada polemik yang berkembang di luar.
Ia mengungkapkan proses penulisan buku tersebut tidak terjadi secara instan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk memberanikan diri membuka kembali ingatan yang menyakitkan, dan berbulan-bulan untuk menuangkannya ke dalam tulisan dengan penuh kehati-hatian.
Aurelie menulis secara perlahan, memastikan setiap bagian lahir dari kejujuran, bukan emosi sesaat.
Awalnya, Broken Strings sama sekali tidak ditujukan untuk publik. Tulisan itu lahir sebagai ruang aman bagi dirinya sendiri, sebuah bentuk kejujuran personal setelah trauma masa kecil yang membuatnya takut untuk kembali bersuara.
Ia mengaku pernah mencoba mengungkap kebenaran di masa lalu, namun respons yang diterima justru melukai dan meninggalkan ketakutan mendalam.
Seiring waktu, sudut pandangnya berubah. Aurelie menyadari banyak perempuan, bahkan orang tua, menghadapi situasi serupa namun memilih diam karena merasa sendirian.
Rekomendasi juga buat kamu:
Dari situlah muncul dorongan untuk berbagi, agar kisahnya bisa menjadi penguat, pengingat, sekaligus teman bagi mereka yang tengah berjuang dalam sunyi.
Ia menegaskan, Broken Strings bukan upaya membuka luka lama demi sensasi. Buku ini adalah proses memahami, menerima, dan berdamai dengan masa lalu tanpa pernah membenarkan hal-hal yang salah. Bagi Aurelie, menulis adalah jalan menuju pemulihan, bukan alat untuk menyerang.
Di usia 32 tahun dan di tengah masa kehamilannya, Aurelie mengaku berada dalam fase refleksi diri yang mendalam.
Kondisi tersebut membuatnya lebih produktif menulis, meski ia memastikan buku ini berdiri sendiri.
Jika suatu hari ada karya lanjutan, temanya kemungkinan tetap seputar perempuan, pemulihan, dan penerimaan diri, namun bukan kelanjutan langsung dari kisah ini.
Viralnya Broken Strings kembali membuka tabir masa lalu Aurelie, termasuk pengakuannya menjadi korban grooming sejak usia 15 tahun.
Lewat keberaniannya berbicara, Aurelie Moeremans tak hanya menceritakan luka, tetapi juga menghadirkan pesan kuat tentang harapan, keberanian, dan proses pulih yang tidak instan.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Balas Dendam? Alasan Aurelie Moeremans Tulis Buku Broken Strings Terbongkar .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!