Drama Hukum Blake Lively dan Justin Baldoni Berlanjut, Sidang Awal Digelar 22 Januari

Ket. Justin Baldoni (kiri) dan Blake Lively (kanan)

Doc: Tangkapan Layar

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Masalah hukum antara Blake Lively dan Justin Baldoni berlanjut hingga awal tahun baru ini. Sejumlah fakta baru terungkap dalam gugatan bernilai jutaan dolar terkait film It Ends With Us.

Dalam dokumen pengadilan terbaru, Baldoni selaku sutradara menuding bahwa pemeran utamanya, Blake Lively, berusaha “menjebaknya” selama proses produksi. Tuduhan ini menjadi sorotan karena melibatkan salah satu bintang terbesar Hollywood.

Dokumen pengadilan yang diperoleh TMZ mengungkap isi pesan pribadi Baldoni kepada agen lamanya, Danny Greenberg. Dalam pesan tersebut, Baldoni mencurahkan kekhawatirannya mengenai situasi sulit di lokasi syuting, khususnya saat pengambilan adegan intim.

Pesan bertanggal 30 Desember 2023 itu menyebutkan bahwa Baldoni mengalami “minggu yang sangat, sangat buruk” ketika bekerja bersama Lively. Ia merasa tekanan di lokasi syuting memuncak selama periode tersebut.

Dalam pesan itu, Baldoni mengklaim Lively pernah mengundangnya menghadiri pertemuan di rumahnya secara berdua. Ia menilai hal itu membuatnya tidak nyaman selama proses produksi.

Ia juga menuding Lively menolak penggunaan pemeran pengganti tubuh (body double) untuk adegan seks. “Itu seperti sedang menyiapkan jebakan untuk saya,” tulis Baldoni, seraya menambahkan bahwa Lively justru bersikeras agar body double diganti untuk dirinya.

Pesan-pesan tersebut juga mengindikasikan adanya campur tangan eksekutif Sony Pictures serta produser Todd Black dalam situasi ini. Hal ini menambah kompleksitas permasalahan di balik layar produksi film.

Dalam bagian lain, Baldoni mengklaim Lively menolak storyboard yang ia siapkan untuk adegan-adegan intim. Ia juga menuduh sang aktris mendorong agar kedua pemeran tetap “berpakaian lengkap” dalam salah satu momen romantis penting.

“Kalau Anda tahu isi bukunya, ini sungguh tidak masuk akal,” tulis Baldoni dalam pesannya. Pesan itu dikirim lima hari sebelum digelarnya pertemuan besar yang melibatkan seluruh pihak.

Pertemuan tersebut juga dihadiri suami Lively, Ryan Reynolds, serta perwakilan studio. Dalam kesempatan itu, Lively disebut menyampaikan daftar syarat dan perlindungan yang harus dipenuhi sebelum produksi dilanjutkan.

Hal ini menyusul mogok kerja WGA dan SAG-AFTRA yang sedang berlangsung. Kondisi tersebut menambah tekanan pada pihak produksi untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan aktor.

Menurut laporan TMZ, pihak Lively menegaskan bahwa pesan-pesan Baldoni itu baru dikirim setelah Lively menyampaikan keluhannya terkait dugaan lingkungan kerja yang tidak kondusif. Ia menuduh Baldoni dan rekan bisnisnya, Jamey Heath, menciptakan suasana kerja yang bermusuhan.

Disebutkan pula bahwa Baldoni saat itu menyetujui lebih dari selusin langkah perlindungan untuk menjamin keselamatan para pemain dan kru. Upaya ini dilakukan sebagai respons terhadap kekhawatiran yang diajukan Lively.

Pada Desember 2024, Blake Lively secara resmi mengajukan gugatan terhadap Justin Baldoni dan sejumlah rekan kerjanya. Dalam gugatan tersebut, Lively menuding adanya pelecehan seksual dan tindakan balasan (retaliation), serta menuntut ganti rugi sebesar 160 juta dolar AS.

Justin Baldoni membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Ia menegaskan bahwa semua proses produksi dijalankan sesuai standar industri.

Sidang perdana kasus hukum antara Blake Lively dan Justin Baldoni dijadwalkan akan digelar pada 22 Januari mendatang. Kasus ini diprediksi akan menjadi salah satu perhatian besar publik dan media hiburan internasional.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN