Candaan Mata Sayu Gibran Dipersoalkan, Tompi Ingatkan Pandji Pragiwaksono

Ket. Tompi (kiri) dan Pandji Pragiwaksono (kanan)

Doc: Tangkapan Layar

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Dr. Tompi melayangkan kritik terbuka kepada komika Pandji Pragiwaksono setelah Pandji menjadikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming sebagai bahan roasting dalam pertunjukan stand up comedy bertajuk Mens Rea yang digelar beberapa waktu lalu.

Kritik tersebut disampaikan dr. Tompi melalui media sosial dan langsung menarik perhatian publik.

Dalam pertunjukan tersebut, Pandji menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat yang menentukan pilihan pemimpin hanya berdasarkan penampilan fisik semata. Ia kemudian secara spesifik menyinggung Wakil Presiden Gibran dengan menyebut raut wajahnya terlihat seperti orang yang mengantuk.

Candaan tersebut menuai reaksi keras dari dr. Tompi yang dikenal sebagai dokter spesialis bedah plastik sekaligus musisi. Menurutnya, menjadikan kondisi fisik seseorang sebagai bahan roasting merupakan tindakan yang kurang pantas dalam konteks apa pun.

20260105085400_tompi.jpeg

“Menertawakan kondisi fisik seseorang, apa pun konteksnya, bukanlah bentuk kritik yang cerdas,” tulis dr. Tompi melalui unggahannya di akun Instagram @dr_tompi. Unggahan tersebut kemudian menyebar luas dan memancing beragam tanggapan dari warganet.

Dr. Tompi menjelaskan bahwa kondisi mata yang tampak sayu atau mengantuk bisa disebabkan oleh faktor genetik maupun medis. Ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak semestinya dijadikan bahan candaan atau olok-olok di ruang publik.

“Apa yang terlihat “mengantuk” pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali BUKAN BAHAN LELUCON,” tulis dr. Tompi.

Penjelasan tersebut disampaikan untuk memberi pemahaman bahwa tidak semua hal yang tampak secara fisik bisa dikontrol oleh seseorang.

Lebih lanjut, dr. Tompi menekankan bahwa kritik dan satire merupakan bagian dari kebebasan berekspresi yang sah. Namun, menurutnya, hal tersebut menjadi tidak tepat ketika menyasar kondisi tubuh seseorang secara merendahkan.

"Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir,” lanjutnya. Ia menilai pendekatan semacam itu justru menurunkan kualitas diskusi publik.

Dr. Tompi juga mengajak masyarakat untuk lebih dewasa dalam menyampaikan kritik terhadap tokoh publik. Ia mendorong agar fokus kritik diarahkan pada gagasan, kebijakan, dan tindakan, bukan pada aspek fisik.

“Mari naikkan standar diskusi publik kita: kritisi gagasan, kebijakan, dan tindakan,bukan fisik yang tidak pernah dipilih oleh pemiliknya. Karena martabat manusia seharusnya tidak menjadi punchline,” tuturnya. Pesan tersebut mendapat dukungan dari sejumlah warganet yang sepakat dengan pandangannya.

Meski melayangkan kritik, dr. Tompi tetap menyampaikan apresiasi terhadap karya Pandji Pragiwaksono. Ia mengaku menikmati pertunjukan Mens Rea dan menilai materi yang disampaikan Pandji tetap berkualitas.

“Btw saya nonton show-nya di Netflix, keren kok materinya. Banyak benernya,” ujar Tompi. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan tidak dimaksudkan untuk menjatuhkan secara personal.

Unggahan dr. Tompi tersebut kemudian mendapat respons langsung dari Pandji Pragiwaksono di kolom komentar. Alih-alih bersikap defensif, Pandji justru menyambut kritik tersebut dengan sikap terbuka.

“Keren Tom, terima kasih koreksinya,” tulis Pandji. Interaksi ini pun dipandang sebagai contoh dialog sehat dalam perbedaan pandangan di ruang publik.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN