Wapres Gibran Diroasting Pandji Pragiwaksono 'Wajah Ngantuk', dr Tompi Beri Pembelaan Menohok Hingga Penjelasan Medis

Doc: Kolase foto Instagram

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Nama Pandji Pragiwaksono kembali menjadi perbincangan publik setelah salah satu materi roasting-nya menyinggung wajah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang disebut tampak “mengantukan”.

Candaan tersebut muncul dalam konteks kritik politik yang dibalut humor satir, gaya yang memang sudah lama menjadi ciri khas Pandji. Namun, alih-alih hanya menuai tawa, potongan materi itu justru memicu diskusi lebih luas tentang batas antara kritik, humor, dan komentar terhadap fisik seseorang.

dr Tompi Beri Pandangan

Perdebatan tersebut semakin ramai setelah dr. Tompi, dokter sekaligus musisi dan figur publik, angkat bicara dari sudut pandang medis. Lewat pernyataannya, Tompi menegaskan bahwa menertawakan kondisi fisik seseorang apa pun konteksnya bukanlah bentuk kritik yang cerdas.

Ia menjelaskan bahwa kondisi mata yang tampak “mengantuk” dalam dunia medis dikenal sebagai ptosis, yaitu keadaan ketika kelopak mata atas turun lebih rendah dari normal.

Menurut Tompi, ptosis bukan sekadar soal penampilan, melainkan kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau berkaitan dengan masalah medis tertentu. “Apa yang terlihat ‘mengantuk’ pada mata sama sekali bukan bahan lelucon,” tegasnya.

Ia menilai bahwa menjadikan kondisi tubuh sebagai punchline justru menunjukkan kemalasan berpikir, karena kritik yang tajam seharusnya diarahkan pada gagasan, kebijakan, atau tindakan, bukan fisik yang tidak pernah dipilih oleh pemiliknya.

Tompi juga menekankan bahwa dunia publik tetap membutuhkan kritik, satire, dan humor. Namun, ketiganya harus dijalankan dengan standar etika yang lebih tinggi. Dalam pandangannya, martabat manusia seharusnya tidak dijadikan bahan tertawaan, terlebih ketika menyangkut kondisi kesehatan atau anatomi tubuh.

Ia mengajak publik untuk menaikkan standar diskusi, agar ruang demokrasi diisi dengan perdebatan substansial, bukan ejekan personal.

Tetap Bersikap Objektif

Menariknya, Tompi tetap bersikap objektif terhadap karya Pandji secara keseluruhan. Ia mengaku menonton pertunjukan tersebut di Netflix dan menyebut materinya keren serta banyak menyampaikan kebenaran. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kritik Tompi bukanlah penolakan terhadap humor politik, melainkan pengingat akan batas yang sebaiknya tidak dilanggar.

Terkait ptosis sendiri, Tompi menjelaskan bahwa kondisi ini memang bisa dikoreksi melalui tindakan operasi. Namun, ia menegaskan bahwa keputusan tersebut sepenuhnya merupakan hak dan kemerdekaan setiap pasien. Tidak semua orang perlu, atau ingin, mengubah kondisi fisiknya demi memenuhi standar estetika publik.

Kontroversi ini akhirnya membuka diskusi yang lebih luas: di tengah kebebasan berekspresi dan tradisi roasting, publik diajak untuk lebih peka membedakan antara kritik cerdas dan ejekan fisik. Karena pada akhirnya, demokrasi yang sehat bukan hanya soal kebebasan berbicara, tetapi juga tentang menghormati martabat manusia.***

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN