CORTIS Dikecam soal Dugaan Cosplay Kulit Hitam, Gestur Natal Berujung Tuduhan Apropriasi Budaya

Doc: Kbizoom

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Grup idola pria besutan HYBE, CORTIS, mendadak menjadi pusat badai kritik setelah terseret dugaan kontroversi apropriasi budaya yang ramai diperbincangkan di media sosial. 

Isu ini mencuat usai sebuah video bertema Natal yang mereka unggah justru memicu tudingan serius, mulai dari cosplay kulit hitam hingga dugaan penggunaan simbol geng jalanan Amerika.

Kontroversi tersebut memperlihatkan kembali hubungan kompleks antara industri KPop dan budaya musik Black. 

Sejak lama, KPop dikenal banyak mengadopsi unsur dari genre musik yang lahir dan berkembang dari komunitas Afrika-Amerika, seperti hip hop, R&B, hingga soul. 

Tak sedikit pula penulis lagu Black yang namanya tercantum dalam kredit lagu-lagu K-pop populer. Namun, kedekatan ini kerap menimbulkan perdebatan, terutama ketika unsur budaya lain digunakan tanpa pemahaman konteks sejarah dan makna sosialnya.

Kasus yang menyeret CORTIS bermula dari video Natal yang diunggah pada 24 Desember 2025. Dalam video tersebut, para anggota tampil santai dengan busana kasual sambil menyanyikan lagu klasik “It’s Beginning to Look a Lot Like Christmas.” 

Konsep videonya terbilang kreatif, terinspirasi dari tren konten di mana visual dan audio sengaja dibuat tidak sinkron untuk menciptakan kesan unik dan humoris.

Namun, perhatian publik justru tertuju pada adegan awal video, ketika salah satu anggota, Martin, terlihat melakukan gestur tangan tertentu. 

Sejumlah netizen menilai gestur tersebut menyerupai isyarat geng Crips, geng jalanan Amerika yang dikenal luas karena keterkaitannya dengan kriminalitas, kekerasan, dan perdagangan narkoba. 

Tuduhan ini dengan cepat menyebar dan memantik kemarahan, terutama dari mereka yang menilai penggunaan simbol tersebut sebagai bentuk peniruan dangkal terhadap budaya Black.

Para pengkritik menegaskan mengadopsi simbol yang lekat dengan realitas keras kehidupan jalanan tanpa memahami konteksnya dianggap tidak sensitif. 

Bagi sebagian netizen, tindakan tersebut bukan sekadar salah paham, melainkan bentuk apropriasi budaya yang meremehkan pengalaman nyata komunitas tertentu.

Di sisi lain, penggemar CORTIS bergerak cepat memberikan pembelaan. Mereka menyatakan bahwa gestur Martin sama sekali tidak dimaksudkan sebagai simbol geng, melainkan bentuk hati yang kerap digunakan dalam tantangan daring populer. 

Fans juga menegaskan para anggota hanya mengikuti tren media sosial yang sedang digemari remaja, tanpa niat menyinggung atau meniru budaya tertentu.

Perdebatan pun tak terhindarkan. Satu kubu menilai ini sebagai kesalahan fatal yang seharusnya diantisipasi oleh agensi sebesar HYBE, sementara kubu lain menganggap kontroversi ini sebagai reaksi berlebihan dari publik. 

Polemik CORTIS kembali membuka diskusi lama tentang batas tipis antara apresiasi budaya, pengaruh global, dan apropriasi dalam industri KPop yang kian mendunia.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN