Rachmat Pambudy: Kita Perlu Belajar dari Tiongkok Mengelola Air, Energi dan Pangan
Kamis, 11 Des 2025, 10:25 WIBJAKARTA-Â Kemampuan mengelola air, energi, dan pangan, menentukan jatuh bangunnya peradaban, kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy.
âSepanjang sejarah, kemampuan mengelola air, energi, dan pangan telah menentukan jatuh bangunnya peradaban. Kita dapat belajar dari peradaban kuno seperti mereka yang membangun sistem irigasi kuno di Dujiangyan, Tiongkok, pada 150 sebelum masehi, secara intuitif memahami hubungan penting dalam menyeimbangkan air, tanah, pangan, dan energi bahan bakar,â katanya dalam Peluncuran Peta Jalan Water, Energy, Food Nexus Indonesia di Jakarta, Rabu (10/12).
Di era industri saat ini, terjadi peningkatan hubungan air, pangan, energi secara global. Produksi pangan dan energi saling membutuhkan air dalam jumlah besar, sehingga menciptakan tekanan terhadap sumber daya Indonesia yang terbatas.
Karena itu, Indonesia dinilai perlu mengintegrasikan manajemen hubungan tersebut untuk mencapai berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan, termasuk bebas kelaparan, serta mampu menghasilkan air dan energi bersih.
Di bawah kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto, telah disahkan mandat melalui Astacita untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional, dalam hal ini memandang kemandirian pangan, energi, serta air sebagai pilar vital kemerdekaan bangsa.
Untuk menginterpretasikan tujuan Astacita itu, Indonesia menerapkan trisula pembangunan, yaitu pembangunan yang berfokus pada penanggulangan kemiskinan ekstrem, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan percepatan pembangunan ekonomi berkelanjutan.
âPertanyaan selanjutnya adalah bagaimana Indonesia dapat mencapai tujuan-tujuan tersebut. Tentu saja, peristiwa hari ini krusial, namun membutuhkan kolaborasi dan partisipasi kita semua. Dalam peristiwa krusial ini, saya juga ingin menggaungkan pentingnya air, energi dan pangan yang saling bergantung (nexus) bagi kehidupan kita,â ungkapnya.
Fondasi Utama
Peneliti Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI), Erwin Syahrial, menilai pernyataan Kepala Bappenas itu merupakan pengingat fundamental bagi arah pembangunan nasional. Menurutnya, sejarah memang menunjukkan bahwa ketahanan atas tiga elemen tersebut selalu menjadi fondasi utama kemajuan sebuah peradaban.
Erwin mengatakan bahwa ekonomi dan politik semestinya dibangun di atas kesadaran terhadap keterhubungan air, energi, dan pangan, bukan diperlakukan sebagai isu sektoral yang berdiri sendiri.
âKalau fondasinya rapuh, seluruh bangunan kebijakan akan ikut rapuh. Karena itu, nexus WEF harus menjadi basis berpikir kita dalam merancang strategi pembangunan jangka panjang,â ujarnya.
Ia menilai peluncuran Peta Jalan Water, Energy, Food (WEF) Nexus Indonesia menjadi momentum penting untuk menggeser paradigma perencanaan, dari sekadar mengejar pertumbuhan menuju ketahanan struktural.
Erwin menekankan bahwa tata kelola air yang berkelanjutan, transisi energi yang adil, dan kemandirian pangan bukan hanya isu teknokratis, tetapi juga menentukan stabilitas sosial dan politik dalam jangka panjang.
Erwin menambahkan, implementasi peta jalan tersebut membutuhkan keberanian politik, koordinasi lintas lembaga, serta partisipasi masyarakat dan pelaku usaha. âKalau kita serius ingin membangun peradaban modern yang kokoh, maka seluruh desain ekonomi-politik Indonesia harus berangkat dari kesadaran bahwa air, energi, dan pangan adalah urat nadi keberlanjutan negara,â katanya.
- ketahanan pangan
Redaktur: Diapari S
Penulis: Diapari S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.