Inul Daratista Sindir Keras Oknum Pencitraan di Tengah Banjir Sumatera, Sentil Siapa?

Doc: Instagram/@inul.d

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Bencana banjir yang menimpa sebagian wilayah Sumatera membawa duka mendalam bagi masyarakat.

Namun di balik kesedihan itu, perhatian publik justru tersedot oleh unggahan pedas dari penyanyi dangdut senior Inul Daratista.

Melalui Instagram Story, Inul meluapkan kekesalannya terhadap pihak-pihak yang dianggap menjadikan momen bencana sebagai ajang pencitraan.

Dalam unggahan tersebut, Inul menyinggung fenomena orang turun ke lapangan namun dengan tujuan yang ia nilai lebih condong ke pencitraan ketimbang membantu.

Ia menulis bahwa kini mulai banyak yang datang ke lokasi bencana hanya untuk foto manis bersama korban kelaparan, lengkap dengan ekspresi menangis agar terlihat menyentuh hati.

20251202162752_Screenshot_121.jpg

Kalimat sindirannya terdengar sangat tajam, memperlihatkan rasa kecewa yang tak bisa ia pendam.

“Wis mulai byk yg turun lapangan, tapi pencitraan full, futu futu manja sama yg kelaparan sambil nangis2. Halaahh mbuhhh… cuma bisa elus dada.”

Di bagian lain, Inul menambahkan bahwa ia sampai kehabisan kata-kata melihat fenomena tersebut. Baginya, amat memprihatinkan ketika penderitaan manusia justru dijadikan panggung pencitraan demi kamera dan media sosial.

Ia menekankan bahwa bencana seharusnya menjadi ruang solidaritas dan aksi nyata, bukan sekadar kesempatan untuk membangun citra.

Pesan yang Ingin Disampaikan

Meski ditulis dalam nada satir dan penuh emosi, unggahan Inul menyampaikan pesan yang jelas, korban bencana membutuhkan bantuan nyata, bukan kamera.

Foto bersama warga yang sedang lapar atau menderita bukan bentuk empati, melainkan eksploitasi penderitaan.

Lebih baik diam namun membantu daripada heboh di media sosial namun tidak membawa manfaat.

Inul terlihat kecewa karena mereka yang memiliki kekuatan dan akses untuk membantu justru lebih sibuk mengabadikan momen.

Sementara warga terdampak sedang berjuang dengan hidup seadanya, ada yang kehilangan rumah, ada yang belum mendapatkan makanan, dan ada yang masih mencari anggota keluarga.

Dukungan Netizen

Unggahan tersebut cepat mendapat dukungan luas. Banyak warganet yang merasa suara Inul mewakili hati masyarakat: lelah melihat penderitaan dijadikan konten, dan lelah melihat empati bergeser menjadi sekadar pose dramatis untuk mendapat pujian.

Sindiran keras Inul ini pada akhirnya tidak hanya menyoroti banjir Sumatera, tetapi juga mengkritik budaya pencitraan di era media sosial. Pada momen bencana, publik seolah dihadapkan pada dua macam orang:

mereka yang bekerja diam-diam, fokus pada penyelamatan dan distribusi bantuan dan mereka yang datang sebentar, mengambil foto, lalu pergi.

Unggahan Inul adalah pengingat agar kemanusiaan jangan sampai dikalahkan oleh hasrat ingin terlihat peduli.***

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN