Program MBG Dorong Penggunaan Produk Lokal Sekaligus Berdayakan Petani dan Peternak
Senin, 24 Nov 2025, 10:28 WIBJAKARTA- Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka padaKonferensi Tingkat Tinggi KTT negara-negara kelompok 20 (G20) di Johannesburg, Afrika Selatan, akhir pekan lalu, menyatakan ketahanan pangan dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar agenda ekonomi.
Gibran menyatakan bahwa program prioritas MBG yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto merupakan investasi strategis.
âPresiden Indonesia berfokus pada ketahanan pangan dan MBG bagi 80 juta pelajar dan ibu hamil sebagai investasi strategis. Hal ini mendorong penggunaan produk lokal, memberdayakan petani dan peternak, sekaligus memperluas kegiatan ekonomi di berbagai bidang,â kata Wapres.
Pada pertemuan tingkat tinggi itu, Gibran mengatakan program MBG telah membawa efek berganda, seperti penggunaan bahan baku lokal dan pemberdayaan petani dan peternak sebagai pemasok.
Dalam sesi kedua KTT G20, tema yang dibahas berfokus pada pembangunan dunia yang tangguh (resilient world), yang mencakup isu kebencanaan, perubahan iklim, transisi energi berkeadilan (just energy transition), serta sistem pangan.
Gibran pun menyatakan bahwa solidaritas global dan kepemimpinan yang tegas dibutuhkan untuk mengatasi krisis yang semakin intensif. Pemerintah Indonesia pun mengajak Afrika Selatan untuk memajukan ketahanan energi, air dan pangan.
Indonesia yang merupakan negara kepulauan terletak di cincin api Pasifik, menghadapi lebih dari 3.000 bencana setiap tahun, mulai dari gempa bumi, banjir, hingga letusan gunung berapi.
Dengan kondisi geografis tersebut, maka ketahanan pangan, air, dan energi bukan sebuah slogan bagi Indonesia, melainkan kenyataan yang harus dihadapi sehari-hari.
âBerangkat dari pengalaman-pengalaman ini, Indonesia mempromosikan konsep ketahanan berkelanjutan, sebuah kerangka kerja yang memungkinkan pembangunan manusia, pertumbuhan ekonomi, dan perlindungan lingkungan berjalan selaras,â kata Wapres.
Pendekatan Kolektif
Peneliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Awan Santosa yang diminta tanggapannya menyoroti masih rendahnya penggunaan produk lokal dan pangan lokal dalam program MBG, karena dominannya pengaruh bisnis dalam program strategis tersebut, ketimbang pemberdayaan potensi lokal seperti produk lokal.
âMultiplier efek MBG tidak akan optimal jika menggunakan pendekatan proyek yang didominasi oleh para elit bermodal besar,âtegas Awan.
Semestinya kata Awan, program jumbo itu menggunakan pendekatan kolektif, gotong royong, dan partisipasi multi pihak, sehingga nilai tambah sosial ekonominya lebih besar.
Dengan skema kolektif, keuntungannya tidak hanya dinikmati segelintir pihak tetapi dinikmati banyak kalangan bahkan sampai ke level paling bawah yakni petani produsen pangan lokal.
Pengamat pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jawa Timur, Surabaya, Ramdan Hidayat, mengatakan, program MBG sebenarnya menunjukkan visi Presiden ke depan mengejar ketertinggalan RI dari negara-negara maju melalui pembangunan SDM yang unggul sekaligus menggerakkan industri pertanian yang menjadi mayoritas profesi rakyat.
âMBG ini menunjukkan keinginan Presiden untuk mengejar ketertinggalan penguasaan teknologi dan industrikita dengan negara-negara majudengan membenahi hulunya,â kata Ramdan.
- pelajar dan ibu hamil
Redaktur: Diapari S
Penulis: Diapari S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.