Mengapa Soekarno Pilih Rumah Pelacuran Untuk Tempat Rapat Melawan Belanda? Tenyata Ini Alasannya!
Senin, 10 Nov 2025, 09:30 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Pada masa antara tahun 1926 hingga 1927, situasi politik di Hindia Belanda berada pada titik didih.Â
Gerakan nasionalis mulai tumbuh kuat, sementara pemerintah kolonial Belanda semakin ketat mengawasi setiap langkah para tokoh pergerakan.
Soekarno, yang saat itu menjadi motor utama gerakan kemerdekaan bersama kawan-kawannya di Bandung, hidup di bawah bayang-bayang pengintaian. Ia tahu, sedikit saja kesalahan dapat berujung pada penangkapan.
Dalam keadaan serba terbatas itu, Soekarno harus berpikir keras untuk menemukan tempat aman guna merencanakan strategi perjuangan.
Polisi kolonial memantau setiap pertemuan, mencatat setiap tamu yang datang ke rumahnya, bahkan mengikuti jejak langkahnya di jalanan.
Maka, ia mencari cara agar rapat tetap bisa berjalan tanpa menimbulkan kecurigaan. Dari sinilah lahir ide yang mungkin terdengar nyeleneh, mengadakan pertemuan di rumah pelacuran.
Alasan Pilih Rumah Bordil
Menurut penuturannya yang dituangkan dalam buku Soekarno Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams, tempat itu dipilih bukan karena alasan pribadi, melainkan karena alasan strategis.
Rumah pelacuran, bagi aparat kolonial, bukanlah tempat yang dianggap serius atau berbahaya.
Aktivitas di sana berlangsung ramai dan acak, sehingga sulit membedakan mana pelanggan, mana pejuang yang sedang berdiskusi.
Di tengah musik, tawa, dan hiruk-pikuk malam, Soekarno dan rekan-rekannya bisa berbicara tanpa takut didengar.
"Tempat lain yang kami pergunakan untuk pertemuan ialah rumah pelacuran. Aduh, ini luar biasa bagusnya. Hanya semataâmata untuk memenuhi kepentingan tugasku. Kemana lagi seseorang yang dikejarâkejar harus pergi, supaya aman dan bebas dari kecurigaan dan dimana kelihatannya seolahâolah kepergiannya itu tidak untuk menggulingkan pemerintah? Coba .... dimana lagi? Jadi berapatlah kami disana" kata Soekarno dalam buku tersebut.
Rapat dilakukan sekitar pukul delapan hingga sembilan malam. Mereka datang tidak bersamaan, ada yang lewat pintu depan, ada yang lewat samping, dan Soekarno sendiri sering memilih jalan belakang.
Setelah pembahasan usai, masing-masing keluar dengan rute berbeda agar tak menimbulkan kecurigaan. Itulah siasat licik yang ia sebut sebagai âcara gila-gilaan untuk membingungkan polisi.â
Cerdik Mengelabui Belanda
Langkah ini mencerminkan kecerdikan dan keberanian luar biasa. Soekarno memahami bahwa perjuangan tidak selalu bisa berjalan di ruang terhormat, terkadang, demi kemerdekaan, tempat yang dianggap hina sekalipun bisa menjadi medan strategi.
Ia tidak memandang tempat itu dari sisi moral, tetapi dari segi keamanan dan efektivitas perjuangan.
Soekarno menunjukkan bahwa revolusi membutuhkan lebih dari semangat, ia menuntut kecerdikan, keberanian, dan kemampuan membaca keadaan. Di rumah pelacuran itulah, di tengah dunia yang penuh stigma, lahir sebagian rencana besar menuju Indonesia merdeka.***
- Soekarno
Redaktur: Weti Aprianti
Penulis: Weti Aprianti
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.