Mengapa Selebriti Gampang Kawin Cerai? 3 Faktor Ini Bisa Jadi Penyebabnya

Ket. Foto ilustrasi perceraian

Doc: Freepik

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Tahun 2025 menjadi salah satu periode paling ramai dalam dunia hiburan Indonesia.

Satu demi satu kabar perceraian selebriti muncul ke permukaan, dari Tasya Farasya yang menggugat cerai suaminya hingga Raisa yang kini viral karena perpisahannya dengan Hamish Daud.

Publik pun bertanya-tanya, kenapa para selebriti tampak begitu mudah menikah dan sama mudahnya berpisah?

Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar soal ketidakcocokan biasa. Ada pola sosial dan psikologis yang membentuk kebiasaan baru di kalangan publik figur, yang membuat pernikahan mereka lebih rapuh dibanding pasangan pada umumnya.

1. Dikelilingi lawan jenis yang menarik

Kehidupan selebriti dipenuhi interaksi intens dengan banyak orang, termasuk lawan jenis yang sama-sama berpenampilan menarik, sukses, dan percaya diri.

Godaan untuk membandingkan pasangan sendiri dengan orang lain sangat besar. Di dunia yang menilai segala sesuatu dari tampilan luar, rasa puas dalam hubungan pun mudah tergeser oleh rasa penasaran terhadap sosok lain.

Inilah salah satu alasan kenapa ikatan emosional dalam rumah tangga selebriti sering kali cepat luntur.

Selain itu, sebagian besar selebriti bekerja di industri yang menuntut mereka tampil sempurna dan menggoda.

Saat perhatian publik terus datang, rasa ingin diinginkan menjadi candu. Akibatnya, ketika perhatian pasangan berkurang sedikit saja, bisa muncul rasa diabaikan yang akhirnya berubah jadi konflik.

2. Lingkar pergaulan yang normalisasi perceraian

Perceraian di kalangan selebriti bukan lagi dianggap aib. Justru, bagi sebagian mereka, bercerai bisa menjadi bentuk “kebangkitan diri”.

Karena lingkungan sosialnya juga diisi oleh orang-orang dengan pengalaman serupa, maka perceraian tak lagi terasa sebagai akhir, tapi justru awal dari babak baru karier atau citra pribadi.

Contohnya terlihat di tahun ini, ketika beberapa figur publik perempuan memilih berpisah tanpa rasa takut akan stigma.

Keputusan seperti itu menular, ketika satu teman bercerai dan hidupnya tampak baik-baik saja, yang lain merasa tak ada salahnya melakukan hal serupa.

Norma sosial pun bergeser, bertahan bukan lagi simbol kesetiaan, melainkan pilihan yang harus seimbang dengan kebahagiaan pribadi.

3. Ego dan ekspektasi yang besar

Seorang selebriti terbiasa dengan kontrol, mengatur citra, karier, hingga cara publik melihatnya. Tapi dalam pernikahan, kontrol itu sering kali berbenturan dengan kebutuhan kompromi.

Dua individu dengan ego kuat dan sorotan besar bisa sulit menundukkan kepala ketika konflik muncul.

Selain itu, ekspektasi terhadap pernikahan di kalangan selebriti sering tidak realistis. Mereka terbiasa hidup dalam pencapaian cepat, proyek sukses, popularitas instan, pengakuan publik yang datang setiap hari.

Ketika pernikahan tidak memberi kepuasan yang sama cepatnya, rasa frustrasi muncul. Ego dan ekspektasi yang tak tertempa kesabaran akhirnya menjelma alasan klasik, “kita sudah tak sejalan.”***

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN