Raja Keraton Solo Paku Buwana XIII Meninggal Dunia, Sosok yang Dikenal Bijak dan Teguh Menjaga Tradisi

Doc: Wikipedia

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Kabar duka datang dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Raja Keraton Solo, Sri Susuhunan Paku Buwana (PB) XIII, meninggal dunia pada Minggu, 2 November 2025, sekitar pukul 07.30 WIB.

Sang Raja tutup usia setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Indriyati Solo Baru, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.

Kerabat Keraton Surakarta Hadiningrat sekaligus adik ipar mendiang, KPH Eddy Wirabhumi, membenarkan kabar duka tersebut.

“Sudah lama beliau sakit, terakhir komplikasi, macam-macam, termasuk gula darah tinggi, dan seterusnya, sudah sepuh juga,” ujar Eddy kepada awak media di Keraton Solo.

Menurut Eddy, almarhum PB XIII sempat beberapa kali keluar-masuk rumah sakit untuk menjalani perawatan intensif sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya pagi tadi.

Profil Singkat Paku Buwana XIII

Sri Susuhunan Paku Buwana XIII memiliki nama lengkap Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Hangabehi. Ia lahir di Surakarta pada 15 April 1948, sebagai salah satu putra dari Paku Buwana XII.

Setelah wafatnya PB XII pada tahun 2004, Hangabehi diangkat menjadi Raja Keraton Surakarta Hadiningrat dengan gelar PB XIII.

PB XIII dikenal sebagai sosok yang lembut, bersahaja, dan konsisten menjaga adat tradisi Jawa.

Di bawah kepemimpinannya, Keraton Surakarta terus berupaya mempertahankan eksistensinya sebagai pusat budaya Jawa, dengan berbagai kegiatan budaya seperti Sekaten, Kirab Pusaka 1 Suro, hingga tradisi Labuhan yang rutin digelar setiap tahun.

Perjalanan Hidup dan Pengabdian

Selain dikenal sebagai pemimpin spiritual dan simbol adat, PB XIII juga berperan aktif dalam pelestarian budaya dan warisan leluhur.

Ia berusaha membuka keraton kepada masyarakat dan akademisi agar nilai-nilai luhur Jawa tetap terjaga dan bisa dipelajari generasi muda.

PB XIII kerap menekankan pentingnya harmoni, gotong royong, dan kesederhanaan dalam kehidupan. Dalam berbagai kesempatan, ia mengajak masyarakat untuk “nguri-uri kabudayan Jawa” (melestarikan budaya Jawa) agar tidak luntur di tengah arus modernisasi.

Duka dan Doa dari Kerabat Keraton

Setelah kabar duka tersebar, suasana haru menyelimuti kompleks Keraton Surakarta Hadiningrat. Sejumlah kerabat, abdi dalem, serta tokoh masyarakat mulai berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang.

Rencananya, jenazah PB XIII akan disemayamkan di keraton sebelum dimakamkan di Astana Imogiri, makam raja-raja Mataram, di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kepergian Paku Buwana XIII menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Jawa dan bangsa Indonesia. Ia bukan hanya raja, tetapi juga penjaga nilai-nilai luhur budaya Nusantara yang selalu mengajarkan arti keteguhan, kesabaran, dan cinta terhadap tradisi.

Selamat jalan, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Hangabehi, Sri Susuhunan Paku Buwana XIII. Semoga amal dan baktimu kepada budaya Jawa menjadi warisan abadi bagi generasi penerus.***

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN