Sisi Gelap Drama China di Balik Layar, Dibayar Seperti Buruh Hingga Penuh Tekanan

Ket. Kisah miris di balik viralnya drama China

Doc: Instagram/@yoedu

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Di balik popularitas drama China yang membanjiri platform streaming Asia, tersimpan realitas pahit yang jarang terungkap ke publik.

Penonton mungkin hanya melihat kisah romantis dan visual yang indah di layar kaca, tapi di baliknya, ada sistem kerja yang keras dan sering kali tak manusiawi bagi para aktor dan kru produksi.

1. Syuting Maraton, Produksi Kilat

Salah satu sisi gelap paling mencolok dari industri drama China adalah proses produksinya yang sangat cepat.

Beberapa rumah produksi bahkan mampu menyelesaikan ratusan episode hanya dalam waktu tiga sampai lima hari syuting.

Jadwal yang padat ini membuat para pemain dan kru nyaris tidak punya waktu istirahat. Syuting bisa berlangsung dari pagi hingga dini hari, tanpa jeda yang layak.

Tujuannya sederhana, mengejar tenggat tayang dan menekan biaya produksi. Namun, hasilnya adalah kualitas akting dan sinematografi yang sering kali seadanya, karena tidak ada waktu untuk pengambilan ulang atau pendalaman karakter.

2. Bayaran Murah, Tenaga Murah

Masalah lain yang menghantui industri ini adalah upah yang rendah. Banyak aktor figuran dan kru teknis hanya dibayar sekitar 300 ribu rupiah per hari, meski mereka bekerja hingga belasan jam tanpa istirahat cukup.

Beberapa bahkan memilih tidur di lokasi syuting karena tidak mampu menyewa tempat tinggal selama proses produksi.

Situasi ini mencerminkan kesenjangan besar antara bintang utama dengan pekerja di level bawah.

Para pemeran utama mungkin dibayar miliaran, tetapi di sisi lain, ratusan kru dan figuran harus berjuang sekadar untuk makan.

3. Naskah Klise, Cerita Berulang

Masalah tak kalah besar muncul dari sisi kreatif, naskah drama yang monoton. Tema yang diangkat cenderung berulang, kisah gadis miskin yang bertemu pria kaya, lalu jatuh cinta meski penuh rintangan.

Alur seperti ini sudah menjadi pola tetap dalam banyak drama China karena dianggap aman dan mudah menarik penonton.

Sayangnya, pola tersebut membuat dunia drama Tiongkok kehilangan variasi dan kedalaman cerita. Alih-alih berkembang, banyak rumah produksi memilih bermain aman demi menjamin rating dan sponsor.

Sementara drama-drama tersebut terus menembus pasar internasional, pekerja di baliknya justru terjebak dalam sistem yang melelahkan dan tidak adil.

Popularitas yang tampak gemerlap di layar, pada akhirnya, menyembunyikan sisi gelap dari sebuah industri yang masih jauh dari kata seimbang.***

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN