Di Balik Julukan ‘Alcatraz Indonesia’, Ini Sisi Lain Nusakambangan yang Jarang Diketahui

Ket. Sisi lain Pulau Nusakambangan

Doc: Tangkapan Layar Instagram

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Pulau Nusakambangan kembali menjadi sorotan publik setelah aktor Ammar Zoni resmi dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, yang dikenal sebagai lapas dengan sistem keamanan super ketat.

Pulau ini sering dijuluki sebagai “Alcatraz-nya Indonesia”, karena menampung para narapidana kelas berat, mulai dari pengedar narkoba hingga terpidana kasus terorisme.

Namun, di balik citra angker dan menyeramkan yang melekat, ternyata Pulau Nusakambangan menyimpan sisi lain yang jarang diketahui publik. Fakta menarik ini pernah diungkap oleh seorang pengguna TikTok dengan akun @irinewardhanie pada April 2024.

Dalam videonya yang viral, ia mencoba memperlihatkan kehidupan di balik tembok penjara yang terkenal itu.

“Saya ingin menunjukkan sisi lain pulau Nusakambangan yang selama ini dinilai seram dan disebut sebagai Alcatraz-nya Indonesia,” ujar Irine membuka videonya.

Siapa sangka, di pulau yang identik dengan penjara tersebut ternyata terdapat kompleks perumahan khusus yang dibangun bagi para petugas lapas. Fasilitas ini disediakan untuk mereka yang mendedikasikan hidupnya menjaga keamanan di pulau itu mulai dari kepala lapas, sipir, hingga staf lapangan lainnya.

“Tidak banyak yang tahu jika di Pulau Nusakambangan ada kompleks perumahan yang dibangun untuk memfasilitasi para pekerja, mulai dari kepala lapas, penjaga, dan orang-orang yang bekerja di lingkungan lapas-lapas,” jelas Irine sambil memperlihatkan suasana sekitar.

Menurutnya, kondisi rumah di kompleks tersebut tergolong layak dan nyaman huni.

“Sebenarnya enak banget tempatnya, rumahnya juga sangat layak huni sekali,” tuturnya.

Meski begitu, keterbatasan fasilitas menjadi alasan utama banyak petugas memilih untuk tinggal di wilayah Cilacap dan hanya menyeberang ke pulau untuk bekerja. Nusakambangan tidak memiliki fasilitas umum yang memadai, seperti sekolah, tempat hiburan, atau ruang bermain bagi keluarga.

“Sayangnya tidak ada fasilitas seperti sekolah, taman bermain, atau hiburan lain. Jadi mereka memilih tinggal di luar Pulau Nusakambangan,” ungkap Irine.

Selain itu, akses komunikasi juga menjadi tantangan tersendiri. Sinyal telepon di area tersebut sangat lemah, bahkan layanan WiFi pun terbatas.

“Sinyal pun susah, walaupun ada WiFi di sini tapi restricted, maksudnya kecepatannya masih terbatas,” tambahnya.

Menariknya, Irine juga membantah anggapan bahwa ancaman terbesar di Nusakambangan berasal dari para narapidana berbahaya. Menurutnya, bahaya justru datang dari alam liar yang masih mendominasi pulau tersebut.

“Satu-satunya hal yang mesti kita waspadai di Pulau Nusakambangan ini adalah binatang liar seperti macan kumbang dan king cobra,” tegasnya.

Nusakambangan ternyata bukan hanya simbol ketegasan hukum, tetapi juga sebuah ekosistem yang kompleks di mana manusia hidup berdampingan dengan alam liar, jauh dari keramaian dan modernisasi. Di balik tembok tinggi dan penjagaan ketat, tersimpan kehidupan sunyi yang penuh dedikasi dan keberanian.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN