Baek Se Hee Penulis Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki Meninggal Dunia, Berhasil Selamatkan 5 Orang Lewat Aksi Mulia

Ket. Penulis buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki, Baek Se Hee meninggal dunia.

Doc: Koreaboo

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Penulis fenomenal asal Korea Selatan, Baek Se Hee, yang meraup kesuksesan dunia melalui memoar jujur tentang perjuangan depresi dan kecintaan terhadap tteokbokki lewat buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki meninggal dunia pada usia 35 tahun. Kabar duka ini langsung mengejutkan para pembaca dan komunitas sastra dunia.

Hingga saat ini, penyebab kematian Baek Se Hee belum diumumkan ke publik. Namun yang menarik, dan menggetarkan hati adalah bahwa bahkan dalam detik-detik terakhir, Baek Se Hee mampu memberi keajaiban melalui donasi organ, ia menyelamatkan lima nyawa.

Baek Se Hee mendonasikan jantung, paru-paru, hati, dan kedua ginjalnya di Rumah Sakit National Health Insurance Service di Ilsan. Keputusannya itu diungkapkan oleh Korea Organ Donation Agency pada 17 Oktober 2025 waktu Korea.

Dari Kata Jadi Terapi, Suara yang Menyentuh Banyak Jiwa

Nama Baek Se Hee menanjak ke permukaan publik ketika karyanya, I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki, terbit pada 2018 dan menjadi bestseller dunia. Buku itu memuat dialog antara dirinya dan psikiaternya, mengungkap kondisi distimia (depresi berkepanjangan) yang ia alami selama lebih dari satu dekade.

Pada 2024, ia merilis sekuel yang tak kalah mengguncang, I Want To Die But I Still Want To Eat Tteokbokki, yang kembali mendapat sambutan hangat dari pembaca global. Kedua bukunya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dianggap sebagai suara otentik dari penderita gangguan mental di era modern.

Melalui karya-karya tersebut, Baek Se Hee membuka ruang dialog tentang stigma terhadap penyakit mental, topik yang selama ini diselimuti rasa malu dan kesunyian di banyak masyarakat. Ia memperlihatkan bahwa tidak apa-apa untuk berbicara, bersedih, dan berjuang.

Reaksi Dunia, Kesedihan, dan Harapan

Kabar kepergian Baek Se Hee memantik duka mendalam dari pembaca di seluruh belahan dunia. Banyak yang menyatakan bahwa naluri menulis Baek Se Hee tak semata untuk dirinya sendiri, tapi untuk menghibur dan menyelamatkan orang lain secara emosional. Bahkan ketika Baek Se Hee tiada, nyawanya tetap menyala lewat lima orang yang ia bantu melalui donasi organ.

Seperti kata adiknya dalam pernyataan resmi, Baek Se Hee ingin melalui tulisannya berbagi hati kepada orang lain. Dalam kehalusan karakternya, tidak ada kebencian, melainkan usaha menebar semangat dan pengertian. Kini, kita hanya bisa berharap bahwa ia dapat beristirahat dengan damai.

Renungan dan Warisan Abadi

Kematian Baek Se Hee mengajarkan kita bahwa, "Sakit jiwa bukan sesuatu yang bisa diabaikan. Ia membawa kisah nyata tentang betapa sulitnya hidup dengan penyakit mental, dan betapa pentingnya dukungan serta keberanian untuk terbuka".

Menulis bisa menjadi obat. Melalui pena, Baek Se Hee menyembuhkan dirinya sendiri dan orang lain. Buku-bukunya menjadi saluran empati dan pemahaman.

Di akhir hidup pun, masih ada pengorbanan heroik. Dengan mendonasikan organ, Baek Se Hee memastikan bahwa kematiannya bukan sekadar akhir, melainkan jembatan bagi kehidupan baru bagi orang lain.

Meskipun kita belum mengetahui detail kematian Baek Se Hee, cerita sang penulis akan terus hidup, melalui kata-kata, inspirasi, dan kelima nyawa yang ia selamatkan. Semoga nama besarnya terus dikenang sebagai simbol keberanian, penderitaan yang dihadapi dengan kejujuran, dan kasih yang melampaui batas kehidupan.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN