JAKARTA, KUCANTIK.COM - Apa sebenarnya kunci perkawinan bahagia? Jawabannya ternyata bukan hanya cinta, komunikasi, atau keuangan. Melainkan, pembagian peran yang adil antara suami dan istri.
Data Mahkamah Agung menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2005–2010, satu dari sepuluh pasangan suami istri di Indonesia memutuskan untuk bercerai. Angka ini terus meningkat, dan lebih dari 70 persen hingga 80 persen gugatan cerai diajukan oleh istri.
Pertanyaannya, kenapa perempuan lebih banyak mengajukan cerai? Beberapa orang menuding feminisme, tapi faktanya tak sesederhana itu. Penelitian dari Lembaga Litbang Kementerian Agama RI menyebutkan tiga alasan utama penyebab perceraian, ketidakharmonisan, kurangnya tanggung jawab, dan masalah keuangan. Semuanya kembali pada satu akar, ketimpangan peran dalam rumah tangga.
Perempuan kini menjalani banyak peran, sebagai anak yang merawat orang tuanya, istri yang harus melayani suami, ibu yang mengasuh anak-anak, pekerja profesional yang dituntut disiplin, sekaligus anggota masyarakat yang aktif secara sosial. Sementara itu, banyak laki-laki masih terpaku pada satu peran tradisional yakni pencari nafkah.
Ketimpangan ini menciptakan beban ganda bahkan tripel pada perempuan, yang membuat mereka mudah lelah, tertekan, dan akhirnya mempertanyakan ulang nilai sebuah pernikahan.
Rekomendasi juga buat kamu:
Solusinya? Fleksibilitas.
Pembagian peran yang fleksibel bukan berarti suami dan istri harus melakukan semuanya secara 50:50. Tapi keduanya sepakat untuk saling berbagi tanggung jawab, mulai dari urusan domestik seperti mencuci, memasak, hingga pengasuhan anak, hingga soal mencari nafkah.
Contoh nyatanya, suami tak masalah mengasuh anak saat istri bekerja. Atau, ketika istri punya gaji lebih besar, suami mendukung tanpa merasa kehilangan harga diri. Semuanya demi stabilitas dan keharmonisan keluarga.
Survei di Yogyakarta 2018 yang melibatkan 106 pasangan menikah menunjukkan bahwa semakin fleksibel peran dalam rumah tangga, semakin bahagia pasangan tersebut. Dari responden yang merasa sangat bahagia, mayoritas memiliki sistem peran yang cair dan tidak kaku dalam pernikahan mereka.
Buat generasi milenial dan Gen Z yang dinamis dan terbuka, ini adalah kabar baik. Karena pernikahan yang bahagia tak lagi harus dibatasi oleh peran tradisional.
Bahagia dalam pernikahan bukan soal siapa yang paling berkorban, tapi soal siapa yang mau bekerja sama. Karena rumah tangga bukan milik satu orang saja, tapi milik dua insan yang setara.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Bukan Cinta atau Uang, Ini Rahasia Perkawinan Bahagia Sampai Tua .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!