Financial Deepening Layak Dilakukan, syaratnya BI Harus Kredibel dan Independen

Doc: istimewa

JAKARTA- Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti sependapat jika financial deepening memang harus dilakukan. Namun Bank Indonesia (BI) diminta agar lebih kredibel dan independen jika ingin mendorong pasar keuangan yang lebih dalam (finansial deepening).

“Kredibilitas dan independensi otoritas moneter itu penting, supaya pasar tetap percaya semua kebijakan bank sentral. Ini pekerjaan rumah (PR) besar dari dulu sampai sekarang masih shallow financial sector,” kata Esther, Minggu (28/9).

Menurut |Esther, sektor finansial Indonesia selain dangkal juga masih rentan terhadap external shock dari luar negeri. Ada sedikit guncangan di luar negeri, maka rentan menyebabkan terjadinya capital outflow ke luar negeri.

“Jika independensi Bank Indonesia terkoyak karena segala bentuk skema burden sharing maka kepercayaan pasar terhadap BI juga akan berkurang,”tegasnya.

Pembentukan Harga

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (28/9) menegaskan bank sentral terus mendorong pendalaman pasar keuangan melalui peningkatan volume transaksi dan pembentukan harga yang lebih kredibel.

Di pasar uang, fokus diarahkan pada transaksi repo dan Overnight Index Swap (OIS) yang mengacu pada suku bunga acuan INDONIA.

Sedangkan di pasar valuta asing (valas), penguatan dilakukan lewat Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan FX Swap, dengan referensi kurs JISDOR serta kurs acuan non-USD/IDR. Adapun pada Jumat (26/9), BI telah meluncurkan matchmaking OIS.

Destry seperti dikutip dari Antara menjelaskan bahwa matchmaking OIS berfungsi memfasilitasi pencocokan transaksi antarbank sehingga harga terbentuk lebih efisien dan interaksi pasar lebih lancar.

Ketersediaan suku bunga acuan berbasis INDONIA juga diharapkan memperkuat mekanisme harga instrumen OIS yang bersifat forward looking.

BI mencatat perkembangan positif di pasar valas. Hingga Agustus 2025, rata-rata harian transaksi DNDF mencapai 212 juta dollar AS atau sekitar sepuluh kali lipat lebih tinggi dibanding awal penerapannya pada 2018. Menurut BI, capaian tersebut masih perlu ditingkatkan.

“Tentunya BI tidak bisa sendirian, perlu sinergi dan kerja sama kita bersama," ujar Destry.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae, penggunaan INDONIA sebagai acuan OIS merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kredibilitas, transparansi, dan efektivitas suku bunga rupiah, sejalan dengan reformasi suku bunga global.

OJK berkomitmen melakukan pemantauan, pendampingan, dan mendorong pemanfaatan instrumen berbasis INDONIA agar memberi manfaat optimal bagi stabilitas sistem keuangan.

“Dengan sinergi seluruh pemangku kepentingan, kita optimis pasar keuangan Indonesia semakin kompetitif dan berdaya saing global,” kata Dian.

Dari sisi industri, dukungan nyata ditunjukkan dengan penandatanganan 105 kontrak perjanjian induk derivatif baru dan 23 komitmen kontrak penerapan margin oleh 56 bank.

Langkah tersebut mencerminkan keseriusan perbankan untuk memperkuat fondasi pasar domestik, khususnya dalam pengembangan OIS dan DNDF.

Destry pun berharap agar komitmen tersebut tidak berhenti di atas kertas, melainkan diwujudkan melalui peningkatan transaksi nyata di pasar.

Sinergi lintas otoritas dan pelaku pasar diharapkan akan semakin memperdalam, melikuidkan, dan memperkuat daya tahan pasar uang serta valas domestik. Dengan demikian, pasar keuangan Indonesia dapat menjadi pilar penting bagi pembiayaan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN