Sadis! Harga Tetes Tebu Anjlok ke Rp700, Petani Tebu dan Pabrik Gula Nyaris Ambruk

Ket. Petani Gula di Ambang Kepunahan!

Doc: Antara Foto

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Kalau kamu sering dengar tentang gula dan molase, mungkin belum sepenuhnya tahu bahwa turunnya harga tetes tebu yakni produk sampingan dari gula bisa berdampak ke dapur, ke keuangan rumah tangga, bahkan ke komunitas petani lokal. Ini kisahnya, kenapa tiba‑tiba “manis” menjadi pahit?

Apa Itu Tetes Tebu dan Kenapa Harganya Penting

Tetes tebu (molasses atau molase) adalah cairan hasil samping dari proses pemurnian gula. Biasanya digunakan sebagai bahan baku dalam produksi etanol, pakan ternak, dan beberapa makanan/minuman. Bukan hanya gula yang petani andalkan, tetes adalah tambahan yang selama ini jadi “uang bonus” bagi petani dan pabrik gula.

Selama lima tahun terakhir, harga tetes relatif stabil, di kisaran Rp2.100‑Rp2.400 per kg.

Penyebab Kejatuhan

Tahun 2025, Pemerintah mengeluarkan Permendag Nomor 16 Tahun 2025, yang mengizinkan impor molases dan etanol dari Thailand tanpa persetujuan teknis atau kuota yang ketat. Kebijakan ini dirasa “meledakan” pasar: produk impor lebih murah, sehingga industri lebih memilih impor daripada membeli dari produsen lokal.

Akibatnya:

Dampak ke Kehidupan Kita (Ibu Rumah Tangga, Komunitas, dan Pecinta Gaya Hidup)

Meskipun kamu tidak langsung terlibat industri gula, efeknya bisa terasa:

  • Harga naik/minimnya produk lokal: Tetes yang sebelumnya bisa digunakan dalam produksi pakan ternak atau produk fermentasi lokal mungkin makin sulit didapat. Jika industri memilih impor karena lebih murah, komoditas lokal bisa bergeser atau hilang.

  • Kualitas dan keberlanjutan pangan: Komunitas yang memakai bahan lokal akan kehilangan akses atau harus bayar mahal. Di komunitas kecil, produksi rumahan bisa terganggu jika tetes lokal tidak lagi stabil pasokannya.

  • Lingkungan dan energi hijau: Tetes adalah bahan baku alternatif untuk bioetanol. Bila impor mengambil alih, peluang energi terbarukan lokal bisa terhambat. Kemandirian petani juga bisa tergerus.

  • Pilihan gaya hidup dan konsumsi: Kita bisa mulai memilih produk makanan dan minuman yang menggunakan bahan lokal, mendukung produk rumahan, pedesaan, sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan.

Ketika “harga manis” (tetesi tebu) jatuh ke angka Rp700/kg, itu bukan cuma angka statistik tapi juga menjadi ancaman nyata bagi petani, komunitas industri gula, dan masa depan produk lokal. Gaya hidup kita sebagai konsumen punya peranan, kita bisa memilih produk yang mendukung kemandirian lokal, menuntut kebijakan adil, dan menjaga bahwa industri pangan tetap ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN