JAKARTA, KUCANTIK.COM - Siapa yang tak ingin tampil awet muda meski usia terus bertambah? Di Korea Selatan, tren slow aging kini jadi pembahasan panas, bahkan di kalangan generasi muda. Jika dulu penuaan hanya identik dengan orang tua, kini milenial dan Gen Z pun tak mau tua sebelum waktunya.
Asal Mula Ledakan Tren Slow Aging
Fenomena ini digagas Profesor Jung Hee-won, dokter spesialis geriatri dari Asan Medical Center, Seoul. Ia memperkenalkan MIND diet, gabungan pola makan Mediterania dan DASH. Intinya sederhana: lebih banyak makanan utuh, minim olahan, seimbang antara biji-bijian dan protein.
Buku Jung, Slow Aging Diet, merumuskan enam prinsip utama:
- Konsumsi biji-bijian utuh dan kacang-kacangan
- Perbanyak sayuran dan buah beri
- Gunakan minyak zaitun sebagai bahan masak utama
- Lebih sering makan ikan dan unggas
- Batasi daging merah, keju, dan makanan olahan
- Hindari camilan manis, gorengan, serta minuman bersoda
Rekomendasi juga buat kamu:
Bagi masyarakat Korea yang terbiasa makan nasi, Jung menyarankan campuran unik: beras putih, beras merah, gandum, dan lentil (2:2:2:4). Kombinasi ini diklaim bisa menstabilkan gula darah sekaligus menambah protein nabati.
Lebih dari Sekadar Diet
Menurut Jung, slow aging bukan trik instan.
“Penuaan bukan hanya soal makanan atau olahraga, tapi juga stres, tidur, dan keseimbangan hidup,” ujarnya.
Kurang tidur, misalnya, bisa memicu stres, mengacaukan hormon, dan akhirnya membuat seseorang ketagihan gula. Inilah lingkaran setan yang merusak kesehatan.
Kenapa Generasi Muda Ikut Panik Soal Penuaan?
Survei Embrain Trendmonitor (Juli 2024) mencatat 55 persen orang berusia 20-an dan 49,5 persen usia 30-an aktif menjaga kesehatan. Lebih dari 80% bahkan rela keluar uang demi menunda keriput dan menjaga vitalitas.
Milenial dan Gen Z kini melihat menjaga tubuh bukan hanya kebutuhan, tapi juga bagian dari self-development. Sehat dianggap keren, bahkan jadi bentuk rekreasi modern.
Industri Makanan Berebut Pasar Slow Aging
Melihat peluang besar, industri makanan ikut panen cuan. CJ CheilJedang meluncurkan nasi instan Hetbahn ala Prof. Jung yang terjual 18,6 juta kemasan di 2024.
Ottogi merilis rice ball berbahan oat, 7-Eleven menjual sandwich gandum dan gimbap ayam, hingga Mega MGC Coffee sukses dengan acai bowl—laku 300 ribu porsi hanya sebulan!
Prof. Jung menegaskan, slow aging tetap bisa dipraktikkan orang sibuk.
“Bahkan makanan minimarket pun bisa sehat sekaligus enak,” katanya.
Tren Sementara atau Perubahan Jangka Panjang?
Tak semua pakar yakin tren ini akan langgeng. Prof. Choi Chul dari Sookmyung Women’s University menilai fenomena ini mungkin hanya gelombang sesaat. Meski begitu, ia mengakui pasar gaya hidup sehat tak akan pernah benar-benar mati.
Pada akhirnya, entah slow aging ini tren atau gaya hidup permanen, satu hal pasti: obsesi manusia untuk melawan penuaan tidak akan pernah berhenti.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Diet Slow Aging Bikin Heboh Korea, Benarkah Bisa Bikin Awet Muda? .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!