Koruptor Ketangkep Lagi, dr Tompi Ungkap Kekecewaan: 'Sulit Kagum pada Sosok di Negeri Ini'

Doc: Instagram/@dr_tompi

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Musisi sekaligus dokter bedah, Teuku Adifitrian atau yang lebih dikenal dengan nama Tompi, kembali menyuarakan pandangannya terkait isu sosial yang sedang ramai di Indonesia.

Lewat sebuah unggahan di media sosial, Tompi menuliskan kata-kata miris tentang fenomena korupsi yang seolah tak ada habisnya.

“Hari ini membaca berita koruptor ketangkap lagi, semua tentang keserakahan akan UANG. Seolah tak kenal rasa cukup, sudah punya segala, tapi kok masih ajaaa nilep. Begitu ketangkep, baru merasa khilaf. Kalau belum ketahuan… maju tak gentar,” tulis Tompi, dikutip Jumat (05/09/2025).

Ungkapan tersebut mewakili kekecewaan banyak masyarakat yang belakangan semakin skeptis terhadap figur-figur publik maupun pejabat.

Tompi menilai, sulit bagi generasi saat ini untuk benar-benar mengagumi seseorang, sebab terlalu sering muncul kabar buruk yang melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh.

Kritik Pedas atas Mentalitas “Tak Pernah Cukup”

Dalam tulisannya, Tompi menekankan soal kerakusan. Baginya, orang yang sudah memiliki segalanya seharusnya bisa berhenti mencari jalan pintas yang merugikan orang lain.

Namun kenyataannya, banyak kasus justru menunjukkan sebaliknya, semakin tinggi jabatan dan semakin besar akses terhadap fasilitas negara, semakin besar pula peluang terjadinya penyalahgunaan wewenang.

Fenomena ini mencerminkan mentalitas “tidak pernah cukup”. Padahal, di saat yang sama, jutaan rakyat masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Ironi inilah yang membuat publik seperti Tompi merasa geram sekaligus kecewa.

Korupsi di Bidang Strategis: Agama dan Pendidikan

Lebih jauh, Tompi juga menyinggung soal bentuk korupsi yang paling menyedihkan, yaitu ketika terjadi di sektor agama dan pendidikan.

Baginya, dua bidang tersebut merupakan pondasi moral sekaligus masa depan bangsa. Jika di wilayah itu pun praktik korupsi merajalela, maka generasi berikutnya akan tumbuh dengan contoh yang keliru.

“Bila korupsi terbesar justru urusan agama, pendidikan… mau jadi apa kelak generasi dibesarkan,” tulisnya lagi.

Kritik tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini. Kasus penyalahgunaan dana di lembaga pendidikan, bantuan sosial, hingga pengelolaan dana umat, menjadi bukti nyata betapa rapuhnya integritas sebagian pengelola institusi penting.

Harapan untuk Kesadaran Kolektif

Meski nadanya getir, unggahan Tompi bukan sekadar sindiran. Ia juga menutup dengan doa agar bangsa ini bisa lebih sadar. “Semoga kita semua disadarkan untuk tidak mencuri hak,” tulisnya.

Pesan ini seolah mengingatkan bahwa pemberantasan korupsi tidak hanya tugas aparat hukum, melainkan juga tanggung jawab moral seluruh lapisan masyarakat.

Mulai dari hal kecil seperti menjaga integritas pribadi, tidak mengambil yang bukan hak, hingga berani bersikap jujur meski dalam situasi sulit.

Sosok Tompi yang Lantang Bersuara

Sebagai figur publik, Tompi memang dikenal tak segan menyuarakan kritik sosial. Selain aktif di dunia musik dan kedokteran, ia juga sering menggunakan platform media sosial untuk membagikan opini tentang isu-isu kebangsaan.

Dengan gaya bahasa lugas, ia menyampaikan keresahan yang kerap dirasakan banyak orang, tapi jarang diucapkan dengan lantang.

Unggahan terbaru tentang koruptor ini kembali membuktikan bahwa suara seniman tetap memiliki kekuatan moral. Tompi bukan sekadar bernyanyi atau berpraktik sebagai dokter, melainkan juga hadir sebagai warga negara yang peduli dengan masa depan bangsanya.

Melalui kata-kata tersebut, Tompi mengingatkan publik untuk tetap kritis dan tidak mudah terlena oleh pencitraan sosok-sosok yang kerap tampil menawan di layar kaca.

Sebab, seperti yang ia singgung, rasa kagum bisa cepat luntur jika ternyata sosok itu terlibat dalam praktik yang mencederai keadilan.***

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN