Industri Fashion Ikut Terancam! Curhatan Desainer Indonesia Rugi Puluhan Juta Setiap Hari Akibat Ricuh Demo DPR

Ket. Pameran busana di Plaza Indonesia Fashion Week oleh desainer Wilsen Willim

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - September biasanya menjadi bulan emas bagi para desainer Tanah Air. Inilah momen yang mana karya mereka tampil gemilang di panggung prestisius seperti Plaza Indonesia Fashion Week (PIFW) hingga Jakarta Fashion Week (JFW). 

Namun tahun ini, suasananya justru berubah jadi mimpi buruk. Bukan sorotan lampu catwalk yang mereka hadapi, melainkan asap, ricuh, dan ketidakpastian politik akibat ulah segelintir anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang memicu amarah rakyat.

Wilsen Willim dan Yosafat Dwi Kurniawan adalah dua desainer yang harus menelan pil pahit. 

Hanya beberapa hari sebelum koleksi terbaru mereka ditampilkan di PIFW 2025, penyelenggara terpaksa membatalkan seluruh acara akibat situasi Ibu Kota yang semakin mencekam. 

Keputusan itu langsung mengguncang industri mode yang bergantung pada momen besar seperti ini.

“September–Oktober itu bulan jayanya desainer. Omzet bisa melonjak tiga kali lipat. Sekarang semua hilang begitu saja,” keluh Wilsen.

Bagi Yosafat, fashion show bukan sekadar ajang glamor, tapi mesin penggerak bisnis. 

Koleksi baru biasanya langsung mendongkrak penjualan, bahkan ada desainer yang sengaja menimbun stok agar bisa dijual cepat setelah rilis di runway. 

Namun kali ini, semua persiapan yang memakan biaya besar jadi sia-sia.

Kerugian yang mereka hadapi tidak main-main. Wilsen mengaku tiap hari bisa rugi puluhan juta rupiah. 

Department store tempat ia menitipkan koleksi ikut menutup gerai lebih awal karena ketegangan di jalanan. Klien pun menahan belanja. 

“Kalau situasi begini terus, bisnis saya bisa gulung tikar dalam tiga sampai empat bulan,” ujarnya dengan nada getir.

Kondisi ini mengingatkan Wilsen pada trauma lama, kerusuhan Mei 1998. Bahkan ibunya di Singapura memintanya segera mengungsi. Namun ia menolak. 

“Saya tidak bisa kabur seperti DPR. Ada 30 karyawan yang hidupnya bergantung pada saya,” tegasnya.

Yosafat yang harus menunda debut koleksi busana prianya pun mengaku pasrah. Baginya, perjuangan rakyat untuk perubahan jauh lebih penting ketimbang glamor catwalk.

“This fashion show can wait. Yang tidak bisa ditunda adalah perubahan,” ujarnya lantang.

Industri mode, salah satu tulang punggung ekonomi kreatif nasional, kini terancam stagnan. 

Pemerintah diminta bertindak cepat. RUU Perampasan Aset hingga konsistensi regulasi menjadi sorotan utama. 

“Bagaimana kami bisa produktif kalau aturan berubah setiap bulan?” kata Yosafat.

Bagi para desainer ini, dunia mode bukan sekadar tentang estetika. Ini soal keberlangsungan hidup ribuan pelaku UMKM yang menopang ekonomi negeri. 

Kini, semuanya dipertaruhkan hanya karena kelalaian para “wakil rakyat” yang gagal menjaga martabatnya.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN