Fenomena Doom Spending: Healing Lewat Belanja, Tapi Dompet Jadi Korban!

Ket. Ilustrasi wanita sedang belanja

Doc: Freepik

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Rasa puas langsung menyeruak begitu tombol checkout ditekan, notifikasi pembayaran masuk, dan keranjang belanja kosong. 

Healing instan lewat shopping memang terasa manis di awal, tapi beberapa jam kemudian, realita kejam menampar, saldo menipis, cicilan menunggu, sementara tabungan darurat entah kapan terisi. 

Fenomena inilah yang kini dikenal dengan istilah doom spending.

Diketahui, doom spending bukan sekadar kebiasaan belanja impulsif. 

Lebih dari itu, ia menjadi cermin keresahan generasi muda yang memilih hidup untuk hari ini ketimbang memikirkan hari esok yang penuh ketidakpastian. 

“Daripada pusing memikirkan masa depan yang suram, lebih baik memanjakan diri sekarang,” begitu kira-kira logika yang beredar. 

Sayangnya, pelarian sesaat ini justru menjerumuskan pada masalah finansial yang jauh lebih berat.

Saat Dompet Jadi Obat Luka Emosi

Kebanyakan doom spending muncul bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan emosi. 

Stres pekerjaan, berita politik yang bikin lelah, hingga rasa kosong di malam hari, semua bisa berujung pada satu tombol, beli sekarang. 

Media sosial turut memperparah situasi. Influencer yang pamer gaya hidup serba mewah menciptakan ilusi bahwa kebahagiaan bisa dibeli. 

Akibatnya, banyak yang akhirnya belanja bukan karena mampu, tapi demi terlihat bahagia.

Ironinya, kepuasan itu hanya bertahan sekejap. Sementara beban keuangan bisa menghantui hingga berbulan-bulan.

Gen Z di Persimpangan Finansial

Data dari Fortune mengungkap, hampir separuh Gen Z di Amerika Serikat tidak memiliki dana darurat. Lebih parah lagi, 27 persen justru memiliki utang lebih besar dari tabungan. 

Dengan harga rumah yang melambung, inflasi menggila, dan kompetisi kerja kian sengit, banyak anak muda merasa menabung hanya buang-buang energi. 

Alhasil, instant gratification alias kepuasan instan lebih menarik daripada menyusun pondasi keuangan jangka panjang.

Ilusi Dukungan di Media Sosial

Fenomena doom spending juga dinormalisasi oleh komunitas online. 

Video shopping haul di TikTok atau jargon “kalau lelah, belanjalah” membuat konsumsi berlebihan seolah wajar. 

Padahal, itu justru memperparah lingkaran setan, cemas, belanja, pusing, lalu belanja lagi.

Bahaya Tersembunyi di Balik Kepuasan Instan

Sekilas, membeli barang untuk self-reward tampak tidak berbahaya. Tapi apa jadinya jika krisis datang tanpa tabungan darurat? 

Fakta menunjukkan, 53 persen Gen Z yang punya tabungan darurat pun rata-rata hanya menyimpan kurang dari $7.000. 

Jumlah yang bisa habis dalam hitungan minggu jika terjadi musibah.

Jalan Keluar: Menabung Tanpa Rasa Tersiksa

Menghentikan doom spending bukan berarti stop belanja total. Kuncinya ada pada kendali. 

Terapkan jeda sebelum checkout, tanyakan apakah barang ini memberi manfaat jangka panjang atau hanya menghapus cemas sementara.

Selain itu, pakar keuangan menyarankan sistem otomatis, langsung sisihkan sebagian penghasilan ke tabungan atau investasi. 

Dengan begitu, menabung tidak lagi bergantung pada suasana hati.

Pada akhirnya, healing sejati bukan datang dari sepatu baru atau gadget mahal, melainkan dari ketenangan batin saat tahu keuangan aman menghadapi badai hidup. 

Doom spending hanya memberi ilusi kebahagiaan, sementara kontrol diri dan kebiasaan finansial sehat adalah hadiah nyata untuk masa depan.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN