Simbol Kematian di Ultah RI ke-80! Penampilan Gustika Jusuf Cucu Bung Hatta Konon Sindir DPR?

Doc: Instagram/@gustikajusuf

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia di Istana Negara tidak hanya diwarnai dengan gegap gempita parade budaya dan pidato kenegaraan, tetapi juga kehadiran seorang tamu yang mencuri perhatian publik. 

Ia adalah Gustika Jusuf, cucu dari Wakil Presiden pertama Indonesia, Mohammad Hatta. Kehadirannya sontak menjadi bahan pembicaraan, bukan hanya karena status keluarganya yang sarat sejarah, melainkan juga karena busana yang ia kenakan dianggap menyampaikan pesan kritis.

Pada peringatan tersebut, Gustika tampil dalam balutan kebaya hitam dipadukan dengan batik Slobog. Bagi sebagian orang, ini tampak seperti pilihan busana formal nan elegan. Namun, makna simbolis di baliknya segera menjadi perbincangan. 

Makna batik Slobog

20250820124424_Screenshot_71.jpg

Batik Slobog, yang secara tradisi kerap dikenakan dalam prosesi kematian atau acara berkabung, seakan menghadirkan kontras di tengah suasana perayaan kemerdekaan. 

Kombinasi warna hitam dan motif yang sarat makna itu ditafsir publik sebagai bentuk kritik simbolik terhadap kondisi politik Indonesia saat ini.

Spekulasi kian menguat ketika warganet mengaitkan penampilan Gustika dengan kritiknya terhadap DPR. Ia disebut-sebut sedang menyuarakan kekecewaan atas dinamika parlemen yang belakangan menuai sorotan, mulai dari kontroversi legislasi hingga isu etika politik. 

Meski Gustika tidak secara terbuka menyatakan maksud di balik busananya, publik menilai pilihan itu bukanlah kebetulan. Kehadiran seorang cucu proklamator dengan simbol berkabung di hari perayaan kemerdekaan jelas menjadi pesan yang kuat.

Kerap suarakan pandangan

Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Gustika memang dikenal vokal menyuarakan pandangannya terkait demokrasi, kebebasan sipil, dan transparansi pemerintahan. Aktivisme yang ia lakukan tidak lepas dari warisan pemikiran sang kakek, Bung Hatta, yang sepanjang hidupnya menekankan pentingnya integritas dan moralitas politik. 

Melalui media sosial maupun forum publik, Gustika kerap mengingatkan generasi muda agar tidak apatis terhadap kondisi bangsa.

Busana yang ia kenakan pada HUT RI ke-80 itu lantas menjadi semacam pernyataan sunyi. Tanpa kata-kata panjang, simbol kebaya hitam dan batik Slobog sudah cukup untuk memicu diskusi tentang bagaimana publik menilai wakil rakyat dan kualitas demokrasi Indonesia. 

Bahkan, sejumlah pengamat budaya menilai tindakan Gustika adalah bentuk protes halus khas tradisi Jawa, menyampaikan ketidak setujuan lewat simbol, bukan teriakan.

Respons masyarakat pun terbelah. Ada yang mengapresiasi keberanian Gustika membawa pesan moral di panggung nasional, mengingat posisinya sebagai bagian dari keluarga besar proklamator.

Namun, ada pula yang menganggap tindakannya tidak tepat karena perayaan kemerdekaan seharusnya menjadi momen persatuan, bukan kritik. Meski begitu, perdebatan ini justru menegaskan bahwa ekspresi simbolik Gustika berhasil menggugah kesadaran publik.

HUT RI ke-80 akhirnya tidak hanya diingat sebagai pesta kenegaraan yang meriah, melainkan juga sebagai momentum ketika suara kritis seorang cucu Bung Hatta bergema lewat kain batik dan warna kebaya. 

Gustika Jusuf mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati tidak hanya dirayakan, tetapi juga dijaga dengan sikap berani menyuarakan kebenaran, meski lewat simbol sederhana.***

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN