Gen Z Dianggap Generasi Rapuh, Perusahaan Ogah Rekrut Lulusan Baru, Salah Siapa?
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Generasi Z alias Gen Z kembali menjadi sorotan panas di dunia kerja.
Sebuah survei dari General Assembly memicu perdebatan setelah mengungkap bahwa lebih dari seperempat eksekutif di Amerika Serikat tidak ingin merekrut pekerja dari kalangan Gen Z, terutama para fresh graduate.
Alasannya? Bukan sekadar minim pengalaman, melainkan dianggap kurang terampil dalam hal yang paling penting, soft skills.
Menurut laporan yang dikutip Forbes, 16 Agustus 2025, para manajer menilai kelemahan terbesar Gen Z terletak pada keterampilan interpersonal, kemampuan berkomunikasi, memecahkan masalah, berkolaborasi, beradaptasi, hingga menyelesaikan konflik.
Padahal, keterampilan ini menjadi pondasi sukses di hampir semua pekerjaan.
Akibatnya, banyak lulusan baru gagal menembus pasar kerja.
Data dari Strada Institute for the Future of Work dan Burning Glass Institute menunjukkan lebih dari setengah lulusan perguruan tinggi empat tahun terakhir masih menganggur setahun setelah lulus.
Bahkan, bagi yang berhasil diterima, tidak sedikit yang akhirnya dipecat karena kesulitan beradaptasi di dunia kerja.
Salah satu penyebab yang disorot adalah isolasi sosial selama pandemi. Gen Z yang bersekolah dan kuliah di masa COVID-19 kehilangan banyak interaksi tatap muka yang biasanya mengasah kemampuan sosial.
Laporan Gartner menyebut 46 persen karyawan Gen Z merasa pandemi menghambat pencapaian tujuan karier dan pendidikan mereka.
Rekomendasi juga buat kamu:
Tanpa pengalaman bernegosiasi, membangun jaringan, atau berbicara percaya diri di depan umum, mereka kesulitan beradaptasi di lingkungan kerja fisik yang menuntut stamina sosial tinggi.
Namun, para pakar menegaskan masalah ini bukan sepenuhnya kesalahan Gen Z.
Kesenjangan keterampilan ini adalah tanggung jawab lintas generasi, sekolah, universitas, hingga perusahaan harus ikut terlibat membekali generasi muda dengan keterampilan relevan.
Kurikulum pendidikan sebaiknya tidak hanya fokus pada teori, tapi juga menanamkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi efektif, kolaborasi, dan pembelajaran mandiri.
Di sisi lain, perusahaan juga punya PR besar. Mengabaikan Gen Z sama saja melewatkan talenta yang sangat melek teknologi, inovatif, berani, dan adaptif terhadap perubahan.
Beberapa perusahaan mulai sadar akan potensi ini dan berinvestasi dalam pelatihan soft skills.
Survei ResumeBuilder mencatat 45 persen perusahaan kini menawarkan kelas khusus untuk mengasah keterampilan interpersonal Gen Z, dan dua pertiga di antaranya mengaku program ini sukses besar.
Kesimpulannya, Gen Z bukanlah generasi rapuh yang tak layak direkrut, melainkan investasi masa depan.
Dengan strategi pelatihan yang tepat, mereka bisa menjadi ujung tombak inovasi dan transformasi di era digital yang serba cepat ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Gen Z Dianggap Generasi Rapuh, Perusahaan Ogah Rekrut Lulusan Baru, Salah Siapa? .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!