Dokter Spesialis Lulusan UI dan Singapura Ini Pilih Tinggal di Kolong Jembatan: 'Semua Itu Tak Ada Artinya Tanpa Keluarga'

Ket. Mantan dokter spesialis THT yang kini tinggal di kolong jembatan

Doc: Instagram.com/Nyinyir_update_official

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Sosok Hafid mendadak jadi sorotan publik setelah kisah hidupnya yang luar biasa kontras viral di media sosial. Bukan karena prestasinya sebagai dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan (THT), melainkan karena keputusan hidupnya yang tak lazim: tinggal di bawah kolong jembatan di kawasan Kadilangu, Demak, Jawa Tengah.

Hafid bukanlah orang biasa. Ia adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), yang kemudian menempuh pendidikan spesialis THT di Singapura dan memperdalam ilmunya selama empat tahun di Italia.

Namun, alih-alih menjalani hidup mapan di ruang praktik megah, Hafid memilih menepi meninggalkan dunia kedokteran dan tinggal di ruang sempit di bawah langit-langit beton jalan layang.

Kisahnya pertama kali menyentuh publik setelah diangkat dalam dokumentasi kanal YouTube Sinau Hurip, yang dipandu Sukaryo Adiputro, dan viral pada Selasa (29/7/2025). Dalam video tersebut, Hafid berbagi kisah pahit yang menjadi alasan di balik keputusan radikalnya.

Tragedi yang Mengubah Segalanya

Hidup Hafid berubah total setelah kehilangan dua sosok paling berarti dalam hidupnya: sang istri dan anak semata wayangnya. Keduanya meninggal dalam tragedi yang tak dijelaskan secara rinci, namun cukup untuk meruntuhkan seluruh fondasi hidupnya.

“Setelah mereka meninggal, saya tinggalkan semuanya. Apotek saya tutup, pekerjaan saya lepas,” ungkap Hafid dengan tatapan kosong namun jujur. Baginya, segala pencapaian akademik dan profesional terasa hampa tanpa kehadiran keluarga tercinta.

Sejak sembilan tahun terakhir, Hafid menjalani kehidupan yang sepenuhnya berbeda. Setiap hari, ia berjalan kaki menuju Masjid Kadilangu untuk salat, lalu berziarah ke kompleks makam Sunan Kalijaga. Aktivitas ini menjadi rutinitas spiritualnya, bentuk pencarian makna dan cara untuk menyembuhkan luka batin yang mendalam.

Meski secara fisik hidup menggelandang, Hafid tidak sepenuhnya sendiri. Ia masih memiliki keluarga besar, termasuk pondok pesantren di Jember yang masih ia kunjungi sesekali. Namun, ia mengaku tak betah lama di sana.

“Saya anak tunggal, tapi punya tiga adik angkat yang semuanya sarjana kesehatan. Kadang pulang ke Jember, tapi enggak kerasan, lalu balik ke sini lagi,” ujarnya.

Dulu Dokter Sukses, Kini Pilih Damai dengan Kesendirian

Sebelum tragedi itu menghantam, Hafid sempat membangun karier medis yang menjanjikan. Bersama istrinya juga seorang dokter asal Cianjur, mereka membuka apotek di Jember dan hidup dalam kenyamanan. Namun kini, semua itu hanya menjadi kenangan.

Jubah putih dan ruang praktik digantinya dengan keheningan di kolong jembatan. Tempat sederhana itu, yang bagi orang lain mungkin tak layak disebut rumah, justru memberinya ruang untuk berdamai dengan kehilangan dan meresapi hidup dengan cara yang berbeda.

Hafid adalah cerminan bagaimana kesedihan dapat mengubah hidup seseorang secara total. Dari gelar prestisius dan pengalaman internasional, menjadi pribadi yang memilih kesunyian dan kontemplasi, jauh dari sorotan dunia profesional yang pernah ia geluti.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN