Bukan Rojali dan Rohana Lagi, Fenomena Roh Halus Hantui Mal! Konsumen Datang, Elus Barang, Kabur Beli Online Lebih Murah!

Doc: Freepik

JAKARTA, KUCANTIK - Pusat-pusat perbelanjaan di Indonesia kini dihantui makhluk baru, Roh Halus! 

Bukan makhluk gaib dari dunia lain, tapi sekelompok konsumen misterius yang hanya datang ke mal untuk menyentuh dan mencoba barang, tanpa niat membeli, lalu kabur dan belanja di e-commerce!

Setelah munculnya istilah Rojali (rombongan jarang beli) dan Rohana (rombongan hanya nanya), kini ada lagi istilah yang bikin para pelaku ritel di mal geleng-geleng, Roh Halus rombongan hanya ngelus-ngelus! 

Mereka datang, melihat-lihat, mengelus produk, tapi tidak bertransaksi di tempat. 

Tujuannya? Cek ukuran dan kualitas barang, lalu checkout via online yang lebih murah!

Fenomena ini bukan isapan jempol. Ketua Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budiharjo Iduansjah, menegaskan toko-toko ritel fisik, terutama di mal dan department store, kini terpukul keras oleh dominasi e-commerce. 

Dari alat rumah tangga, fesyen, sampai elektronik, banyak yang ditinggal konsumen karena harga online jauh lebih miring.

Menurutnya, toko offline makin kalah saing karena berbagai hambatan yang membuat biaya operasional tinggi, mulai dari perizinan dagang yang ruwet, izin impor, hingga urusan neraca komoditas. 

Sementara toko online, dengan biaya lebih efisien, bisa menawarkan harga yang jauh lebih menarik.

“Barang di offline nggak lengkap. Kami harus ajukan perizinan panjang dan mahal dulu, sedangkan online tinggal unggah barang, langsung jual,” keluh Budiharjo. 

Ia juga menyoroti seharusnya PPN 11 persen juga ditegakkan secara adil di semua kanal, baik online maupun offline, agar kompetisi lebih sehat.

Sementara itu, ekonom senior INDEF, Tauhid Ahmad, mengungkap kemunculan Roh Halus adalah dampak nyata dari persaingan harga yang tak seimbang. 

Konsumen masa kini lebih cerdas, mereka datang ke mal hanya untuk “riset” barang secara langsung, lalu membelinya di toko online karena selisih harga bisa mencapai 10-20 persen.

“Bagi masyarakat dengan daya beli terbatas, kenyamanan mal tak sebanding dengan harga yang harus dibayar,” jelasnya. 

Di tengah digitalisasi dan penurunan daya beli, logika konsumen pun berubah: mengutamakan efisiensi, bukan gengsi.

Inilah tantangan nyata dunia ritel saat ini. Jika tak segera berbenah, mal bisa-bisa berubah jadi museum barang yang hanya dilihat, dielus, lalu ditinggalkan. 

Sementara toko online? Mereka terus pesta pora, menikmati hasil elusan dari Roh Halus yang beralih ke klik transaksi digital!

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN