Jutaan Turis Datang, Tapi Restoran di Mallorca Justru Sepi! Fenomena ‘Turis Sandwich’ Jadi Biangnya?

Ket. Wisata Mallorca yang overtourism tapi justru banyak restoran yang bangkrut!

Doc: Instagram.com/mallorca.tourism

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Industri kuliner di Mallorca, destinasi wisata unggulan di Spanyol, tengah berada di ujung tanduk. Meskipun musim panas 2025 tampak ramai oleh wisatawan, kenyataannya ratusan restoran menghadapi ancaman penutupan akibat turunnya daya beli pengunjung.

Fenomena ini dipicu oleh maraknya wisatawan berhemat yang dijuluki sebagai “turis sandwich”, yaitu wisatawan yang memilih membawa bekal dari supermarket ketimbang makan di restoran.

Kekhawatiran ini diungkap langsung oleh Juanmi Ferrer, Presiden CAEB Restaurants Association, yang menyebut bahwa musim panas tahun ini adalah yang terburuk sejak sebelum pandemi COVID-19. Ia menilai bahwa meskipun kota-kota dan pantai terlihat padat, bisnis restoran justru mengalami keterpurukan.

Ramai Tapi Sepi: Jumlah Pengunjung Turun Drastis

Menurut Ferrer,aktivitas bisnis restoran mulai merosot tajam sejak bulan Mei, dipengaruhi cuaca buruk, dan terus berlanjut hingga Juli tanpa ada pemulihan signifikan.

Penurunan paling mencolok terjadi pada jam makan siang, sementara perdagangan malam hari hanya sedikit lebih baik namun tetap jauh dari standar normal musim panas.

Secara rata-rata, jumlah pelanggan restoran turun 5–6%, namun di kawasan wisata favorit seperti Port Soller, Sant Elm, dan Port d’Alcudia, penurunannya bahkan mencapai 40%. Ferrer menyebut bahwa restoran yang sebelumnya penuh reservasi kini kesulitan mencapai tingkat hunian 60%.

Kawasan wisata populer seperti Paseo Marítimo di Palma juga mencatat penurunan pengunjung restoran hingga 20% dibanding tahun sebelumnya.

"Turis masih datang, tapi mereka tidak ke restoran. Mereka makan sandwich," kata Ferrer.

Kondisi ini makin parah karena meningkatnya harga tiket pesawat dan biaya akomodasi, memaksa banyak wisatawan datang dengan anggaran ketat. Akibatnya, belanja untuk makanan dan minuman ditekan. Ferrer mencatat bahwa rata-rata pengeluaran per meja turun antara 10–12%.

Di sisi lain, para pemilik restoran harus menghadapi lonjakan biaya operasional, mulai dari kenaikan harga bahan makanan, pajak, sewa tempat, hingga upah karyawan yang meningkat karena perjanjian kerja baru. Tekanan ganda ini membuat banyak pelaku usaha kecil dan menengah kesulitan bertahan.

“Banyak bisnis tidak akan mampu memenuhi kebutuhan dasar operasional,” ujar Ferrer dengan nada prihatin.

Ratusan Restoran Sudah Tutup, Jumlahnya Diprediksi Naik

Sebagai gambaran, pada tahun 2024 lalu, sebanyak 370 restoran di Mallorca telah gulung tikar. Ferrer memperkirakan angka ini akan terus meningkat di tahun 2025.

Beberapa restoran bahkan telah mengambil langkah ekstrem untuk bertahan, seperti memberikan cuti kepada staf selama bulan Juli, padahal bulan ini biasanya merupakan puncak musim wisata.

Situasi ini mencerminkan perubahan pola konsumsi wisatawan pascapandemi dan tekanan ekonomi global, yang kini berdampak langsung pada sektor jasa kuliner di destinasi utama seperti Mallorca.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN