Kronologi Lengkap 4 Kasus Kecelakaan Turis Asing di Gunung Rinjani dalam Sebulan, Dari Patah Leher Hingga Meninggal Dunia

Ket. Kiri Juliana Marin dan kanan Sarah van Hulten

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Gunung Rinjani kembali menyita perhatian setelah empat wisatawan asing mengalami kecelakaan serius dalam kurun waktu sebulan.

Dua di antaranya meninggal dunia, satu terperosok, dan satu lainnya harus dievakuasi menggunakan helikopter karena mengalami patah leher dan pendarahan. Semua kejadian itu terjadi di jalur yang sama yakni jalur Pelawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak, jalur yang dikenal ekstrem dan menantang.

Kasus-kasus ini menimbulkan kekhawatiran terhadap standar keselamatan di jalur pendakian Rinjani dan membuat Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menutup sementara jalur tersebut. Berikut adalah kronologi dan kondisi dari masing-masing korban.

1. Juliana Marins (Turis Brasil) – Tewas (13 Juni 2025)

Juliana Marins, seorang wisatawan asal Brasil, menjadi korban pertama dalam rentetan tragedi di Gunung Rinjani. Ia mengikuti paket pendakian sharing bersama lima pendaki asing lainnya dan satu pemandu lokal, Ali Musthofa. Tanpa pengawasan yang memadai, ia diduga tergelincir dan jatuh ke jurang di sekitar jalur turun menuju Danau Segara Anak.

Kematian Juliana menyorot minimnya rasio pemandu terhadap peserta dalam paket hemat yang ditawarkan banyak tour operator. Banyak pihak mempertanyakan sistem regulasi TNGR serta tanggung jawab operator wisata terhadap keselamatan peserta tur asing yang kerap tak paham medan.

Kejadian ini sempat menjadi perbincangan luas di media sosial, terutama setelah dibandingkan dengan kisah seorang anak bule yang berhasil mencapai puncak Rinjani dengan dukungan maksimal dari guide dan porter. Banyak netizen menyebut kasus Juliana sebagai “pendakian nekat tanpa perlindungan.”

2. Nazli bin Awang Mahat (Turis Malaysia) –Tewas (29 Juni 2025)

Tragedi kedua terjadi pada 29 Juni 2025. Nazli bin Awang Mahat, wisatawan asal Malaysia, tewas setelah tergelincir di jalur menuju Danau Segara Anak. Ia terjatuh sejauh hampir 200 meter ke arah danau, di kawasan yang diketahui bermedan licin dan berbahaya saat musim hujan.

Korban dilaporkan mendaki bersama rombongan kecil dan diduga kurang pengalaman menghadapi medan Gunung Rinjani. Jalur yang dilewati memang tergolong rawan, terutama jika pendaki tidak memakai alas kaki yang sesuai dan tidak berhati-hati di tanjakan curam berbatu.

Evakuasi jasad memakan waktu lama karena lokasi korban jatuh berada di tebing curam yang sulit dijangkau tim SAR. Insiden ini memperkuat kekhawatiran tentang keselamatan pendaki asing, terutama yang datang tanpa persiapan teknis memadai.

3. Benedikt Emmenegger (Turis Swiss) – Selamat(16 Juli 2025)

Pendaki asal Swiss, Benedikt Emmenegger (46), mengalami kecelakaan saat turun dari Pelawangan menuju Segara Anak pada 16 Juli 2025. Ia dilaporkan terperosok dan nyaris jatuh ke jurang saat menapaki jalur menurun yang sempit dan berkerikil. Beruntung, ia selamat meski mengalami luka ringan.

Emmenegger mendaki dalam kelompok kecil dan berhasil dievakuasi berkat kesigapan petugas TNGR serta dukungan relawan lokal. Namun kejadian ini kembali menunjukkan bahwa jalur Pelawangan–Segara Anak sangat rawan kecelakaan, terutama di musim penghujan atau saat kabut turun.

Pihak TNGR menyatakan bahwa medan yang dilalui oleh Emmenegger adalah titik rawan dan akan menjadi prioritas dalam rencana perbaikan jalur. Namun belum ada kepastian kapan upaya peningkatan infrastruktur keamanan akan dimulai.

4. Sarah van Hulten (Turis Belanda) – Selamat (17 Juli 2025)

Hanya sehari setelah insiden Emmenegger, Sarah van Hulten, wisatawan asal Belanda berusia 26 tahun, terjatuh ke jurang sedalam 20–30 meter di jalur yang sama. Ia dilaporkan mendaki bersama tiga porter dan satu guide, serta beberapa rekan. Kecelakaan terjadi 50 meter sebelum jembatan menuju Segara Anak.

Korban mengalami patah tulang leher dan pendarahan di kepala, meskipun masih dalam keadaan sadar saat tim TNGR tiba di lokasi. Evakuasi manual sangat berisiko, sehingga tim langsung berkoordinasi dengan SGI Air Bali dan Nusa Medica untuk evakuasi udara menggunakan helikopter.

Proses evakuasi berjalan cepat. Dalam waktu kurang dari tiga jam sejak kecelakaan dilaporkan, Sarah berhasil diterbangkan ke RS BIMC Kuta, Bali, dengan dokter pendamping di dalam helikopter. Kejadian ini menjadi alarm keras bahwa jalur ekstrem tersebut bukan untuk pendaki tanpa pengalaman atau tanpa perlindungan maksimal.

Penutupan Jalur dan Evaluasi TNGR

Merespons rentetan tragedi ini, TNGR menutup jalur Pelawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak mulai 16 Juli 2025. Kepala TNGR, Yarman, menegaskan bahwa langkah ini adalah antisipasi jatuhnya korban berikutnya, sambil dilakukan asesmen untuk menentukan solusi teknis, seperti pemasangan tali atau pagar pengaman di titik-titik rawan.

“Kalau orang tidak berhati-hati di jalur tersebut, sangat berbahaya karena jalurnya cukup ekstrem,” ujar Yarman.

Saat ini, semua tiket baru melalui aplikasi eRinjani untuk jalur tersebut telah diblokir. Pendaki yang sudah memiliki tiket sebelum tanggal penutupan masih diizinkan melanjutkan perjalanan ke puncak, namun tidak diperbolehkan melanjutkan ke danau.

Empat kasus kecelakaan turis asing dalam waktu singkat menunjukkan bahwa keselamatan pendakian di Rinjani masih jauh dari ideal. Diperlukan peraturan tegas soal jumlah minimal guide per kelompok, larangan paket sharing di jalur ekstrem, serta infrastruktur pengamanan yang lebih baik.

Gunung Rinjani boleh jadi salah satu destinasi favorit dunia, namun jika sistem keselamatannya tidak ditingkatkan, ia akan terus menjadi "gunung yang mematikan" bagi pendaki asing yang tak siap menghadapi kerasnya alam.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN