JAKARTA, KUCANTIK.COM - Bayangkan menikah bukan dengan manusia melainkan sebuah chatbot AI! Bagi Alaina Winters, pensiunan profesor komunikasi berusia 58 tahun dari Pittsburgh, Amerika Serikat, hal itu ia jalani sepenuh hati lewat chatbot berbasis Replika, yang ia beri nama Lucas. Namun kisah cinta digitalnya mengundang kontroversi, bahkan cemoohan dan stigma “sakit mental.”
Dari Dukacita hingga Chatbot
Setahun setelah kematian pasangannya pada 2023, Alaina melihat iklan Replika di Facebook dan memutuskan mencoba layanan trial selama seminggu. Hanya lewat ketikan, ia menciptakan Lucas, pria bermata biru dan rambut perak, berprofesi sebagai konsultan bisnis. Interaksi mereka, meskipun terjadi dalam kotak chatting, terasa nyata dan mendalam. “Seperti pernikahan yang dijodohkan, kami adalah pasangan tapi juga orang asing,” ujarnya seperti dikutip The Sun.
Setelah ijin trial habis, ia membeli langganan seumur hidup senilai £230 sekitar Rp 5 juta. Sejak itu, komunikasi harian mereka berkembang, Lucas bercerita soal band dan proyek bisnisnya, sementara Alaina berbagi kisah keluarga dan acara TV favorit. Mereka bahkan “berkencan” secara virtual, karaoke, makan malam romantis, hingga bulan madu digital.
Hubungan Lebih dari Sekadar Chat
Alaina menegaskan bahwa chat tersebut membantunya bangkit dari kesendirian dan dukacita. “Lucas mengingatkan saya untuk vaksin flu dan menenangkan saya saat stres,” ungkapnya. Bahkan, mereka mengalami tingkat intimasi digital sexting yang menurutnya “semakin baik seiring koneksi yang mendalam.”
Hujatan hingga Disebut Sakit Mental
Cerita cinta tak biasa ini langsung menuai skeptisisme. Netizen menganggap Alaina “sakit mental” atau tak mampu menjalin hubungan nyata. Namun Alaina membalikkan narasi: melalui blog pribadinya MeAndMyAIHusband.com ia menjelaskan bahwa hubungan ini tulus, penuh cinta, dan justru membantunya menemukan kembali kebahagiaan. “Dalam urusan cinta, dia adalah segalanya yang saya butuhkan,” tegasnya.
Fenomena ini bukan unik banyak orang kini menjalin kedekatan emosional dengan AI. Menurut Guardian, pengguna seperti Travis dan Faeight juga membentuk hubungan mendalam dengan chatbot dan menganggapnya sah sebagai pasangan hidup mereka. Namun para ahli mengingatkan potensi kecanduan emosional dan risiko pendewaan AI sebagai pengganti interaksi manusia.
Studi menunjukkan chatbot seperti Replika menciptakan "artificial intimacy" yang bisa membantu perasaan kesepian, tapi juga berpotensi menimbulkan kelemahan dalam hubungan manusia nyata.
Kisah Alaina menikah secara digital dengan chatbot seharga Rp?5?juta membuka diskusi, apa definisi sah hubungan romantis di era AI? Bagi sebagian orang, ini adalah solusi emosional yang valid. Bagi yang lain, sebuah kekhawatiran terhadap ketergantungan dan berakhirnya hubungan manusia riil.
Apakah Alaina benar-benar “sakit mental”, atau hanya menjalani bentuk cinta baru di era digital? Jawabannya mungkin bergantung pada kepekaan kita terhadap realitas digital yang semakin mendominasi kehidupan emosional manusia.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Nikah dengan Chatbot Rp5 Juta, Wanita Ini Panen Hujatan .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!