KDrama Terancam Krisis Produksi, Benarkah Drama Korea Mulai Kalah Saing dari Dracin?
Ket. KDrama Terancam Krisis Produksi, Benarkah Drama Korea Mulai Kalah Saing dari Dracin?
Doc: Istimewa
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Industri drama Korea Selatan tengah menghadapi krisis produksi akibat meningkatnya biaya produksi, menurunnya investasi, dan berkurangnya slot penayangan di stasiun televisi.
Kondisi ini mendorong 12 organisasi industri terkait mendesak pemerintah dan parlemen untuk segera mengambil langkah penyelamatan.
Mereka menilai krisis tersebut dapat mengancam keberlangsungan rumah produksi sekaligus mempersempit kesempatan kerja bagi para pekerja kreatif dan talenta baru.
Penurunan Produksi dan Slot Tayang
Berdasarkan data Asosiasi Produser Drama Korea (KODA), jumlah drama yang diproduksi turun dari 141 judul pada 2022 hingga lebih dari 30 persen dalam dua tahun terakhir.
Rekomendasi juga buat kamu:
Sementara itu, jumlah drama yang ditayangkan di tiga stasiun televisi utama merosot dari 91 judul pada 2012 menjadi 32 judul pada 2023. Bahkan, beberapa saluran telah menghentikan penayangan drama pada hari kerja.
Penurunan ini dipicu lonjakan biaya produksi, melemahnya kemampuan investasi stasiun televisi, serta semakin sulitnya rumah produksi mengamankan hak kekayaan intelektual (IP) dan keuntungan jangka panjang.
Dampaknya turut dirasakan para pekerja industri. Kesempatan penulis pemula, aktor pendukung, hingga staf produksi untuk mengembangkan karier semakin terbatas.
"Ekosistem produksi yang sudah terlanjur runtuh tidak akan bisa pulih begitu saja meskipun kondisi pasar membaik kelak,” ujar perwakilan organisasi dalam Konferensi Pers Bersama Penanganan Krisis Industri K-Drama, dikutip dari Maeil Business, Jumat, 6 November 2026.
Kontradiksi Nilai Ekspor dan Pemotongan Anggaran
Di tengah krisis tersebut, industri hiburan Korea Selatan justru memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
Data Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata bersama KOFICE menunjukkan nilai ekspor terkait Hallyu mencapai 18,975 miliar dolar AS atau sekitar Rp343,03 triliun pada 2025. Kontribusi barang konsumsi dan pariwisata mencapai 8,788 miliar dolar AS atau sekitar Rp158,87 triliun.
Namun, dukungan anggaran pemerintah untuk sektor penyiaran dan audiovisual justru mengalami pemangkasan. Dalam rancangan anggaran 2027, anggaran Kementerian Kebudayaan berkurang 4,5 miliar won menjadi 87,3 miliar won.
Sementara anggaran promosi konten dari Komisi Komunikasi dan Penyiaran Media turun 4,4 miliar won menjadi 12,4 miliar won. Kondisi ini dinilai bertolak belakang dengan besarnya kontribusi industri budaya Korea terhadap perekonomian negara.
Tiga Rekomendasi Kebijakan Utama
Untuk mengatasi krisis, gabungan organisasi industri mengajukan tiga rekomendasi kebijakan kepada pemerintah dan parlemen Korea Selatan.
- Menjadikan pemulihan jumlah produksi drama tahunan sebagai kebijakan negara guna menjaga lapangan kerja dan regenerasi talenta, termasuk produksi skala menengah dan kecil.
- Membentuk dana awal atau seed money yang melibatkan pemerintah, stasiun televisi, dan platform OTT untuk mendukung investasi hingga distribusi.
- Mendorong kementerian terkait bekerja sama dengan praktisi industri serta meminta parlemen mengalokasikan anggaran 2027 bagi produksi skala menengah-kecil dan kreator muda.
Selain meminta dukungan pemerintah, pelaku industri juga berkomitmen membenahi struktur biaya produksi dan menerapkan standar kerja yang lebih adil.
Mereka menilai penyelamatan industri K-Drama harus berorientasi pada strategi jangka panjang untuk 10 tahun mendatang, bukan sekadar mengandalkan kesuksesan masa lalu.
Ketergantungan pada Platform Global
Ekspansi platform OTT global turut menjadi perhatian karena mendorong peningkatan biaya produksi. Meski membuka peluang pasar internasional, kondisi tersebut membuat rumah produksi lokal semakin sulit membiayai proyek secara mandiri dan bergantung pada modal asing.
Penulis Park Hae-young, yang dikenal melalui drama My Mister dan My Liberation Notes, turut menyoroti persoalan tersebut.
"Masuknya platform OTT global memang membawa perubahan besar bagi pasar drama Korea. Kita meraih popularitas global, tetapi biaya produksi melonjak sangat tinggi hingga tidak ada lagi rumah produksi lokal yang mampu berproduksi mandiri,” jelasnya.
Ia menilai Korea Selatan perlu membangun sistem produksi mandiri sebelum ketergantungan terhadap modal asing semakin besar.
“Sebelum terlambat, kita harus memutus rantai ketergantungan pada modal raksasa asing dan membangun skema produksi mandiri khas Korea,” lanjutnya.
Krisis ini menjadi pengingat bahwa popularitas K-Drama di pasar global perlu diimbangi dengan ekosistem produksi yang kuat di dalam negeri. Dukungan pemerintah, pendanaan berkelanjutan, dan kesempatan bagi kreator muda menjadi faktor penting untuk menjaga masa depan industri drama Korea.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk KDrama Terancam Krisis Produksi, Benarkah Drama Korea Mulai Kalah Saing dari Dracin? .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!