Kronologi Stevia Beeru Diduga Mengandung Sukralosa, Konsumen Diabetes Emosi hingga Bikin Orang Keguguran?

Kamis, 29 Okt 2026, 13:40 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Polemik pemanis stevia merek Beeru Indonesia tengah menjadi sorotan di media sosial. Produk yang digunakan sebagian konsumen sebagai alternatif gula tersebut menuai kritik setelah beredar dugaan ketidaksesuaian antara komposisi pada label kemasan dan hasil pengujian laboratorium yang dibagikan warganet.

Perbincangan ini semakin ramai setelah sejumlah konsumen menceritakan pengalaman mereka menggunakan produk tersebut selama bertahun-tahun. Ada yang mengaku membelinya untuk anggota keluarga dengan diabetes, ada pula yang menggunakannya sebagai pemanis makanan anak. Mereka mempertanyakan apakah kandungan produk yang sebenarnya telah sesuai dengan informasi yang selama ini mereka percayai.

Meski begitu, dugaan mengenai kandungan produk tersebut perlu dibedakan dari fakta yang telah terverifikasi. Hasil uji yang beredar di media sosial belum dapat dianggap sebagai kesimpulan final tanpa pemeriksaan dokumen, identitas sampel, metode pengujian, serta konfirmasi dari pihak berwenang.

Komposisi Beeru Stevia Dipertanyakan, Sukralosa dan Neotam Jadi Sorotan

20261029132322_869658225_17986721106120129_7432312899255076840_n.webp

Ket. Foto: Viral kontroversi Stevia Beeru. — Sumber: Threads

Dok. Istimewa

Isu ini bermula dari unggahan yang membandingkan informasi pada kemasan Beeru Stevia dengan hasil pengujian laboratorium yang diklaim menunjukkan adanya sukralosa dan neotam.

Pada foto kemasan yang beredar, komposisi produk disebut mencantumkan glikosida steviol dan air. Sementara itu, unggahan lain menyoroti dugaan keberadaan pemanis tambahan yang tidak tercantum pada label tersebut.

Perbedaan informasi inilah yang memicu pertanyaan konsumen. Mereka ingin mengetahui apakah produk yang dibeli benar-benar sesuai dengan keterangan komposisi dan klaim yang disampaikan saat pemasaran.

Unggahan tersebut juga mencantumkan angka energi sebesar 188,84 kkal per 100 gram serta karbohidrat sebesar 47,21 persen. Data ini ikut menjadi bahan perdebatan karena sebagian konsumen menganggapnya tidak sejalan dengan persepsi produk pemanis stevia yang rendah atau tanpa kalori.

Namun, angka energi dan karbohidrat saja tidak cukup untuk memastikan jenis bahan yang terkandung di dalam produk. Karbohidrat total juga tidak otomatis sama dengan gula. Penentuan komposisi sebenarnya memerlukan dokumen pengujian yang lengkap dan dapat diverifikasi.

Konsumen Diabetes Ceritakan Pengalaman, Gula Darah Tinggi Ikut Disorot

20261029133405_FotoJet---2026-10-29T133316.246.jpg

Dok. Threads

Salah satu unggahan yang menarik perhatian datang dari akun umimins. Ia mengaku selama bertahun-tahun membeli produk tersebut untuk ayahnya yang menderita diabetes.

Dalam unggahannya, ia mengungkapkan kekecewaan karena keluarganya telah menggunakan produk itu sebagai pengganti gula. Ia juga mempertanyakan mengapa kadar gula darah ayahnya masih tinggi meskipun konsumsi gula telah dikurangi.

Menurut cerita yang dibagikannya, dokter sempat menyarankan sang ayah untuk berhenti mengonsumsi gula sekaligus tidak mencari penggantinya. Namun, sang ayah tetap menggunakan stevia karena berharap produk tersebut dapat menjadi alternatif.

Pengalaman itu kemudian dikaitkan dengan dugaan kandungan pemanis yang sedang ramai dibahas. Meski demikian, kadar gula darah yang belum stabil tidak serta-merta membuktikan bahwa suatu produk menjadi penyebabnya. Pengendalian diabetes dipengaruhi banyak faktor, termasuk pola makan secara keseluruhan, obat-obatan, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan masing-masing pasien.

Karena itu, konsumen dengan diabetes sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi mengenai penggunaan pemanis pengganti, alih-alih mengandalkan klaim produk semata.

Orang Tua Balita dan Konsumen Diet Ikut Mempertanyakan Produk

20261029133438_FotoJet---2026-10-29T133330.502.jpg 

20261029133534_FotoJet---2026-10-29T133358.241.jpg

Dok. Threads

Kekecewaan juga disampaikan oleh akun agnesfirdaus. Ia mengaku menggunakan Beeru untuk membuat jelly bagi anak-anaknya yang masih balita. Ia mempertanyakan keamanan dan transparansi komposisi produk setelah membaca klaim mengenai keberadaan sukralosa.

Sementara itu, akun lain mengungkapkan pernah menggunakan produk tersebut ketika menjalani program diet. Ia juga menceritakan pengalaman terkait kehamilan dan keguguran, kemudian mempertanyakan apakah kadar gula yang tinggi berkaitan dengan produk yang dikonsumsinya.

Namun, hubungan sebab-akibat antara penggunaan pemanis, kadar gula darah, dan keguguran tidak dapat disimpulkan hanya dari pengalaman pribadi. Klaim medis semacam itu membutuhkan evaluasi tenaga kesehatan dan bukti ilmiah yang memadai.

Berbagai cerita tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan konsumen terhadap informasi pada kemasan. Ketika muncul dugaan ketidaksesuaian, wajar apabila pembeli meminta penjelasan yang terbuka, lengkap, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Beeru Indonesia Hentikan Sementara Penjualan dan Lakukan Verifikasi

20261029132345_870167694_18066210953618965_7806564901085366830_n.jpg

Dok. Threads/beeruindonesia

Di tengah polemik tersebut, akun Beeru Indonesia mengunggah pernyataan resmi. Pihak merek menyatakan mengetahui informasi yang beredar dan sedang melakukan penelusuran lebih lanjut.

Dalam klarifikasinya, Beeru menjelaskan bahwa produk tersebut dibuat melalui kerja sama dengan mitra manufaktur yang menangani formulasi, pengadaan bahan baku, serta proses produksi. Perusahaan menyebut sedang berkoordinasi dengan pihak manufaktur untuk melakukan verifikasi.

Beeru juga menyampaikan permohonan maaf atas kekhawatiran dan ketidaknyamanan yang muncul. Selain itu, pihaknya menyatakan telah menghentikan sementara penjualan Beeru Stevia hingga proses pemeriksaan selesai.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Beeru tetap bertanggung jawab sebagai pemilik merek. Namun, sebagian konsumen masih mempertanyakan kapan hasil verifikasi akan diumumkan, bagaimana nasib produk yang telanjur dibeli, dan apakah akan ada penjelasan terperinci mengenai dugaan ketidaksesuaian komposisi.

Sejumlah warganet menilai penghentian sementara penjualan perlu disertai informasi lanjutan yang jelas, termasuk jadwal pembaruan dan langkah yang dapat dilakukan konsumen. Ada pula yang meminta agar persoalan tersebut tidak hanya dijelaskan melalui peran mitra manufaktur, tetapi juga melalui hasil pemeriksaan yang transparan.

Konsumen Menunggu Kejelasan Komposisi dan Perlindungan

20261029133508_FotoJet---2026-10-29T133345.186.jpg

Dok. Threads

Polemik Beeru Stevia kini tidak hanya berkaitan dengan dugaan kandungan sukralosa dan neotam, tetapi juga menyangkut kepercayaan terhadap label, klaim pemasaran, serta tanggung jawab produsen kepada pembeli.

Apabila ditemukan ketidaksesuaian antara komposisi yang dicantumkan dan kandungan produk, konsumen tentu membutuhkan penjelasan yang dapat diverifikasi serta tindak lanjut sesuai ketentuan yang berlaku. Sebaliknya, kesimpulan mengenai pelanggaran tetap perlu menunggu hasil pemeriksaan yang sah.

Bagi konsumen yang masih memiliki produk tersebut, langkah bijak adalah menyimpan kemasan, nomor batch, bukti pembelian, dan dokumentasi terkait. Informasi itu dapat membantu proses pengaduan atau pemeriksaan lebih lanjut. Konsumen juga dapat menghubungi pihak merek dan otoritas terkait untuk menanyakan status produk serta arahan penggunaan yang tepat.

Hingga ada hasil verifikasi yang jelas, dugaan kandungan yang beredar di media sosial belum bisa diperlakukan sebagai fakta final. Publik kini menantikan penjelasan lebih lengkap dari Beeru Indonesia maupun pihak berwenang agar konsumen memperoleh kepastian mengenai komposisi produk yang telah mereka gunakan.

  • Beeru Indonesia
  • Beeru

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.