- Home
-
- Entertainment
-
- Rachel Vennya vs Netizen...
Rachel Vennya vs Netizen? Dituding Narsistik dan Hobi Bawa Masalah ke Medsos, Jejak Pertemanan Disorot!
Selasa, 27 Okt 2026, 14:50 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Rachel Vennya kembali menjadi bahan perbincangan di media sosial. Kali ini, seorang netizen melontarkan kritik tajam terhadap selebgram tersebut, mulai dari cara menghadapi konflik hingga pola pertemanannya yang dianggap kerap menjadi sorotan.
Lewat unggahan yang viral, seorang pengguna media sosial dengan akun kenhafeez menuliskan kalimat provokatif, "RACHEL VENNYA VS EVERYBODY". Ia menilai ada pola tertentu dalam hubungan pertemanan Rachel yang menurutnya menarik untuk dibahas.
Tak hanya menyinggung dugaan kebiasaan membawa masalah ke media sosial, akun tersebut juga menyoroti anggapan bahwa Rachel ingin teman-temannya memiliki sikap yang sama terhadap orang yang sedang berselisih dengannya.
Pernyataan itu pun memancing diskusi di kalangan warganet. Sebagian mungkin merasa bahwa pertemanan memang bisa membuat seseorang berharap mendapat dukungan saat sedang berkonflik. Namun, muncul pula pertanyaan, apakah seorang teman harus ikut bermusuhan dengan orang yang tidak disukai sahabatnya?
Rachel Vennya Dituding Self Centered, Netizen Soroti Pola Pertemanan

Dok. Threads
Dalam unggahan yang dibagikan, kenhafeez mengaku melihat pola hubungan yang menurutnya berulang dalam kehidupan sosial Rachel. Ia berpendapat hubungan pertemanan sang selebgram terkesan harus mengikuti keinginannya.
Akun tersebut juga menyinggung kesan bahwa seseorang yang merasa sudah berbuat baik kepada teman terkadang berharap mendapatkan perlakuan atau dukungan serupa sebagai balasan.
"Karena terkesan semuanya harus menuruti kemauan dia karena dia ngerasa udah 'baik'," tulis akun tersebut dalam unggahannya.
Ia kemudian mengaitkan pandangannya dengan istilah self-centered, yaitu kecenderungan memusatkan perhatian pada diri sendiri atau melihat suatu persoalan terutama dari sudut pandang pribadi.
Kritik itu juga diperkuat dengan pengakuannya pernah menonton podcast yang menghadirkan Rachel. Menurut penilaiannya, cara Rachel berbicara dalam tayangan tersebut memberikan kesan bahwa pembahasan sering berpusat pada dirinya sendiri.
Meski demikian, kesan seseorang ketika tampil dalam podcast tidak serta-merta bisa dijadikan dasar untuk menilai keseluruhan kepribadiannya. Begitu pula dengan hubungan pertemanan yang berlangsung di luar sorotan kamera.
Disebut Suka Membawa Masalah ke Media Sosial

Dok. Threads
Hal lain yang disorot adalah anggapan konflik pribadi kerap dibawa ke media sosial. Kenhafeez menyebut Rachel seolah memahami besarnya pengaruh yang dimilikinya di platform digital.
Dalam unggahan tersebut, ia bahkan menggunakan istilah "jago kandang" untuk menggambarkan penilaiannya terhadap cara Rachel menghadapi persoalan.
Pernyataan itu terbilang tajam karena menyentuh cara seseorang menyelesaikan konflik. Di satu sisi, media sosial memang bisa menjadi ruang bagi figur publik untuk menyampaikan sudut pandang atau membela diri ketika menghadapi tudingan.
Namun, di sisi lain, persoalan pribadi yang dibawa ke ruang publik berpotensi membuat konflik semakin besar. Komentar warganet, spekulasi, hingga dukungan dari pengikut masing-masing pihak bisa membuat masalah yang awalnya melibatkan beberapa orang berkembang menjadi perdebatan luas.
Meski begitu, tanpa mengetahui konteks lengkap dari setiap konflik yang dimaksud, sulit untuk memastikan apakah seseorang sengaja memanfaatkan pengaruh media sosial atau sekadar ingin menyampaikan versinya sendiri.
Haruskah Teman Ikut Memusuhi Orang yang Jadi Musuh Kita?

Dok. Threads
Bagian yang paling mengundang perdebatan dari unggahan tersebut adalah soal loyalitas dalam pertemanan.
Kenhafeez mempertanyakan anggapan bahwa teman harus ikut memusuhi seseorang hanya karena orang tersebut sedang memiliki masalah dengan sahabatnya.
"Menurut gue childish sih kalo kita punya 'enemy', dan tmn2 kita harus musuhin enemy kita juga (?) Temen kita ga ada masalah kok knp harus ikutan?" tulisnya.
Pernyataan tersebut menyentuh persoalan yang cukup sering terjadi dalam hubungan sosial. Ketika dua orang bertengkar, teman-teman di sekitar mereka terkadang merasa harus memilih salah satu pihak.
Bagi sebagian orang, dukungan dari sahabat dianggap sebagai bentuk loyalitas. Mereka mungkin merasa kecewa ketika melihat temannya tetap dekat dengan seseorang yang telah menyakiti mereka.
Namun, ada pula yang berpendapat bahwa setiap orang berhak menentukan hubungan sosialnya sendiri. Selama tidak terlibat dalam konflik yang sama, seseorang tidak harus otomatis memutus hubungan dengan pihak lain.
Perbedaan pandangan inilah yang membuat persoalan tersebut tidak selalu memiliki jawaban sederhana. Ada situasi ketika menjaga jarak menjadi bentuk dukungan kepada sahabat, tetapi ada juga kondisi ketika memaksakan pilihan justru membuat hubungan pertemanan semakin rumit.
Netizen Diajak Menilai, Wajar Cemburu atau Terlalu Mengatur?
Kritik terhadap Rachel Vennya dalam unggahan tersebut akhirnya memunculkan pertanyaan yang lebih luas tentang batas loyalitas dalam pertemanan.
Apakah wajar merasa tidak nyaman ketika teman dekat masih berhubungan akrab dengan seseorang yang pernah menyakiti kita? Atau justru tidak adil jika kita mengharapkan semua orang di sekitar ikut mengambil sikap yang sama?
Jawabannya bisa bergantung pada situasi. Perasaan kecewa atau tidak nyaman merupakan hal yang manusiawi, terutama ketika konflik melibatkan pengalaman yang menyakitkan. Akan tetapi, perasaan itu berbeda dengan memaksa orang lain untuk mengikuti pilihan kita.
Dalam hubungan yang sehat, seseorang bisa mengungkapkan perasaan dan batasan tanpa harus mengendalikan semua hubungan sosial temannya. Sebaliknya, teman juga perlu memahami bahwa kedekatan dengan pihak tertentu dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman, terutama jika ada sejarah konflik yang belum selesai.
Hingga kini, pernyataan kenhafeez tersebut masih perlu dipahami sebagai opini pribadi, bukan kesimpulan pasti mengenai karakter maupun seluruh hubungan pertemanan Rachel Vennya.
Lantas, bagaimana menurutmu? Wajar nggak sih merasa risih ketika teman dekat masih akrab dengan orang yang menjadi musuh kita, atau setiap orang memang berhak menentukan pertemanannya sendiri?
- Rachel Vennya
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.