Sering Muncul di FYP, 7 Makanan Viral Ini Perlu Dibatasi Konsumsinya

Ket. Sering Muncul di FYP, 7 Makanan Viral Ini Perlu Dibatasi Konsumsinya

Doc: Freepik

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Tren makanan viral di media sosial memang selalu berhasil menarik perhatian. Mulai dari minuman manis dengan aneka topping, dessert berlapis cokelat, hingga camilan gurih dengan bumbu melimpah, semuanya sering kali membuat orang penasaran untuk mencoba.

Tampilan yang menggugah selera dan ulasan dari para food influencer membuat berbagai makanan tersebut semakin populer. Tidak sedikit pula yang rela mengantre panjang demi mencicipi makanan yang sedang ramai diperbincangkan.

Namun, di balik tampilannya yang menarik, beberapa makanan viral memiliki kandungan gula tambahan, garam, lemak jenuh, atau kalori yang cukup tinggi. Jika terlalu sering dikonsumsi tanpa diimbangi pola makan seimbang, kebiasaan ini dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan.

Bukan berarti cantiks harus menghindari semua makanan viral, ya! Kuncinya adalah memahami kandungannya, memperhatikan porsi, dan tidak menjadikannya sebagai makanan sehari-hari. Lantas, apa saja makanan viral yang sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan? Yuk, simak daftarnya!

1. Minuman Boba dengan Topping Melimpah

Minuman boba menjadi salah satu tren yang masih menarik perhatian pencinta kuliner. Perpaduan teh atau susu, bola tapioka yang kenyal, sirup, serta aneka topping membuat minuman ini memiliki banyak penggemar.

Namun, minuman boba dapat mengandung gula tambahan dalam jumlah tinggi, terutama jika menggunakan sirup, krimer manis, dan topping seperti brown sugar. Kandungan kalorinya juga bisa meningkat bergantung pada ukuran gelas dan bahan yang digunakan.

Jika terlalu sering dikonsumsi, asupan gula berlebih dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk kenaikan berat badan dan kerusakan gigi.

Cantiks tetap bisa menikmati boba sesekali dengan memilih ukuran lebih kecil, mengurangi tingkat kemanisan, dan membatasi topping tambahan.

2. Cromboloni dengan Isian Krim Melimpah

Cromboloni sempat menjadi salah satu pastry viral yang banyak diburu karena bentuknya yang unik, teksturnya renyah, serta isiannya yang melimpah.

Perpaduan adonan pastry berlapis dengan cokelat, krim, atau aneka isian manis memang memberikan sensasi tersendiri saat disantap. Namun, makanan ini juga dapat mengandung kalori, gula tambahan, dan lemak jenuh dalam jumlah cukup tinggi.

Kandungan tersebut bergantung pada resep, ukuran, serta jenis isian yang digunakan. Jika dikonsumsi terlalu sering dalam porsi besar, cromboloni bisa menambah asupan energi harian secara signifikan.

Untuk menikmatinya dengan lebih bijak, cantiks bisa memilih satu porsi kecil dan menjadikannya sebagai camilan sesekali, bukan pengganti makanan utama.

3. Dessert Box Cokelat yang Padat Krim

Dessert box dengan lapisan cake, krim, cokelat, dan biskuit menjadi pilihan populer bagi pencinta makanan manis. Tampilannya yang menggoda serta teksturnya yang lembut membuat dessert ini sering muncul di media sosial.

Meski lezat, dessert box dapat mengandung gula tambahan dan lemak jenuh yang cukup tinggi, terutama jika menggunakan krim kental, cokelat manis, dan topping berlimpah.

Mengonsumsi makanan tinggi gula terlalu sering dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi dan menyulitkan pengaturan asupan kalori harian.

Cantiks tidak harus menghindarinya sepenuhnya. Cobalah menikmati dessert box dalam porsi secukupnya dan imbangi dengan konsumsi buah, sayuran, serta sumber protein dalam menu sehari-hari.

4. Seblak dengan Banyak Kerupuk dan Topping

Seblak menjadi makanan favorit banyak orang karena cita rasanya yang pedas dan gurih. Hidangan ini biasanya terdiri dari kerupuk, bumbu cabai, serta tambahan telur, sosis, bakso, ceker, atau aneka seafood.

Namun, kandungan gizinya dapat berbeda-beda tergantung bahan dan cara pengolahan. Seblak dengan banyak kerupuk, sosis, bakso olahan, serta tambahan garam dan minyak bisa mengandung natrium dan kalori cukup tinggi.

Asupan natrium yang berlebihan secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Sementara itu, makanan olahan tertentu juga dapat menambah asupan garam dan lemak dalam menu harian.

Agar tetap bisa menikmati seblak, cantiks dapat meminta bumbu dan garam lebih sedikit, menambahkan sayuran, serta memilih sumber protein seperti telur. Tidak perlu selalu memilih topping dalam jumlah banyak untuk mendapatkan rasa yang lezat.

5. Mi Pedas dengan Level Ekstrem

Tren mi pedas dengan level kepedasan ekstrem sering menarik perhatian karena tantangan yang ditawarkan. Tidak sedikit orang yang sengaja memilih tingkat kepedasan tertinggi demi mengikuti tren atau membuat konten media sosial.

Namun, mi instan atau mi berbumbu pedas belum tentu memberikan asupan gizi yang lengkap. Beberapa produk mengandung natrium cukup tinggi, sedangkan tambahan minyak, saus, keju, dan topping olahan dapat meningkatkan kandungan kalori serta lemak.

Selain itu, makanan yang sangat pedas dapat memicu rasa tidak nyaman pada sebagian orang, seperti nyeri perut, mulas, atau memperburuk gejala refluks asam lambung.

Jika ingin menikmatinya, cantiks bisa memilih tingkat kepedasan sesuai toleransi tubuh, menggunakan sebagian bumbu, serta menambahkan sayuran dan protein agar hidangan lebih seimbang.

6. Kentang Goreng dengan Saus dan Keju Melimpah

Kentang goreng dengan tambahan saus keju, mayones, dan aneka bumbu menjadi camilan yang banyak disukai. Kombinasi tekstur renyah dan rasa gurih membuat makanan ini mudah menggugah selera.

Meski kentang mengandung karbohidrat dan sejumlah nutrisi, proses menggoreng dapat meningkatkan kandungan lemak dan kalori. Tambahan saus keju dan mayones juga bisa meningkatkan asupan lemak jenuh serta natrium.

Jika terlalu sering dikonsumsi dalam porsi besar, camilan ini dapat membuat asupan energi harian berlebihan, terutama jika menggantikan makanan yang lebih kaya serat dan nutrisi.

Cantiks bisa memilih kentang panggang sebagai alternatif dan menggunakan saus secukupnya. Dengan begitu, kentang tetap bisa dinikmati tanpa terlalu banyak tambahan lemak dan garam.

7. Es Krim dengan Topping Berlapis

Es krim yang dipadukan dengan biskuit, cokelat, saus karamel, dan aneka topping menjadi dessert yang menarik untuk dicoba. Kreasi ini juga sering viral karena tampilannya yang cantik dan kombinasi rasanya yang beragam.

Namun, es krim dengan topping berlapis dapat mengandung gula tambahan, lemak jenuh, dan kalori yang cukup tinggi. Semakin banyak topping manis yang ditambahkan, semakin besar pula kemungkinan kandungan gula dan kalorinya meningkat.

Mengonsumsi makanan tinggi gula secara berlebihan dan terus-menerus dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan, termasuk kerusakan gigi dan kenaikan berat badan.

Jika ingin menikmati es krim, cantiks bisa memilih porsi kecil, mengurangi saus tambahan, atau memadukannya dengan potongan buah segar.

Tips Menikmati Makanan Viral agar Tetap Sehat

Makanan viral bukan berarti selalu tidak sehat. Dampaknya terhadap kesehatan bergantung pada kandungan bahan, porsi, frekuensi konsumsi, dan pola makan secara keseluruhan.

Agar tetap bisa mengikuti tren kuliner tanpa mengabaikan kesehatan, cantiks bisa menerapkan beberapa kebiasaan berikut:

  • Perhatikan ukuran porsi. Pilih porsi yang sesuai dan hindari makan berlebihan hanya karena penasaran dengan tren.
  • Kurangi gula dan garam tambahan. Saat memungkinkan, mintalah tingkat kemanisan atau jumlah bumbu yang lebih rendah.
  • Jangan lupakan makanan bergizi. Pastikan menu sehari-hari tetap mencakup sayuran, buah, protein, dan sumber karbohidrat yang sesuai kebutuhan.
  • Batasi makanan ultra-proses. Produk tinggi gula, garam, dan lemak sebaiknya tidak menjadi pilihan utama setiap hari.
  • Jangan mudah terpengaruh tren. Tidak semua makanan yang populer harus dicoba, apalagi jika bahan atau kandungan gizinya tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Nah, itulah beberapa makanan viral yang sebaiknya dikonsumsi secara bijak. Cantiks tetap bisa menikmati kuliner yang sedang tren tanpa harus merasa bersalah, selama memperhatikan porsi dan menjaga keseimbangan pola makan.

Sebab, pola makan sehat bukan berarti harus berhenti menikmati makanan favorit, melainkan mengetahui kapan dan seberapa banyak makanan tersebut sebaiknya dikonsumsi.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN