Klepon Masuk 100 Dessert Terbaik Dunia 2026, Ternyata Punya Filosofi Mendalam!

Ket. Klepon.

Doc: TasteAtlas

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Kuliner tradisional Indonesia kembali mencuri perhatian dunia. Kali ini, klepon, jajanan pasar berwarna hijau dengan isian gula merah cair dan balutan kelapa parut, berhasil masuk dalam daftar 100 Best Desserts in the World 2026 versi TasteAtlas. Tak sekadar lezat, kue tradisional ini ternyata menyimpan sejarah panjang dan filosofi kehidupan yang menarik untuk diketahui.

Dalam daftar yang dirilis pada Rabu (30/9/2026), klepon menempati posisi ke-37 dengan rating 4,27. Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa cita rasa khas Nusantara mampu bersaing dengan beragam hidangan penutup dari berbagai negara.

Di balik bentuknya yang mungil dan tampilannya yang sederhana, klepon memiliki cerita menarik tentang asal-usul, makna setiap bahan, hingga beragam nama yang digunakan masyarakat di berbagai daerah. Lantas, bagaimana perjalanan klepon hingga dikenal luas seperti sekarang?

Asal-Usul Klepon, Jajanan Tradisional yang Mendunia

Klepon sudah lama menjadi bagian dari kekayaan kuliner Indonesia dan dikenal sebagai salah satu jajanan tradisional yang berasal dari Jawa Timur.

Mengutip informasi yang dilansir detikJatim, keberadaan klepon tercatat dalam buku Indisch Leven in Nederland karya JM Meulenhoff. Buku tersebut menyebutkan bahwa klepon telah dikenal sejak era 1950-an dan diyakini pertama kali diperkenalkan ke Belanda oleh seorang imigran asal Pasuruan, Jawa Timur.

Seiring berjalannya waktu, popularitas klepon semakin meluas. Jajanan yang awalnya identik dengan pasar tradisional ini kemudian hadir di berbagai restoran di Belanda, termasuk tempat makan yang menyajikan hidangan Indonesia dan Asia.

Kini, klepon bukan hanya dikenal sebagai camilan khas Nusantara, tetapi juga menjadi salah satu representasi kuliner Indonesia yang menarik perhatian pencinta makanan internasional.

Arti Nama Klepon yang Jarang Diketahui

Klepon ternyata memiliki latar belakang tersendiri. Dalam bahasa Jawa, kata klepon dikaitkan dengan istilah untuk indung telur hewan, yang merujuk pada bentuknya yang kecil dan bulat.

Di Indonesia, klepon biasanya dijual bersama aneka jajanan pasar lainnya, seperti getuk, cenil, dan kue putu. Perpaduan tekstur kenyal, rasa manis gula merah, serta gurihnya kelapa parut membuat makanan ini memiliki ciri khas yang sulit dilupakan.

Cara menikmatinya pun sederhana. Namun, siapa sangka, sensasi ketika gula merah cair meletus di dalam mulut justru menjadi salah satu daya tarik utama klepon.

Bukan Sekadar Manis, Klepon Menyimpan Filosofi Kehidupan

Di balik bahan-bahannya yang sederhana, klepon ternyata menyimpan pesan filosofis tentang kehidupan. Berdasarkan buku Belajar dari Makanan Tradisional Jawa karya Dawud Achroni yang dirujuk Portal Informasi Indonesia, setiap bagian klepon dapat dimaknai sebagai pengingat untuk menjalani hidup dengan bersahaja.

Bahan-bahannya yang mudah ditemukan dan tidak berlebihan mencerminkan pentingnya kesederhanaan. Kebahagiaan tidak selalu harus diperoleh melalui kemewahan, sebab hal-hal kecil yang dilakukan dengan tulus juga bisa membawa kebahagiaan.

Gula merah cair yang tersembunyi di bagian dalam klepon melambangkan kebaikan hati. Seseorang tidak harus selalu menunjukkan kebaikannya kepada orang lain karena ketulusan justru dapat dirasakan melalui tindakan nyata.

Sementara itu, kelapa parut yang menyelimuti klepon menggambarkan perjalanan manusia dalam menghadapi berbagai tantangan. Seperti kelapa yang perlu melalui beberapa proses sebelum dapat dinikmati, manusia juga perlu melewati beragam pengalaman untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Bentuk bulat klepon turut dimaknai sebagai simbol siklus kehidupan yang terus berjalan. Bentuknya yang tidak selalu sempurna menjadi pengingat bahwa kehidupan memiliki beragam fase, mulai dari kebahagiaan hingga kesedihan.

Proses pembuatannya pun membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Adonan harus memiliki tekstur yang tepat agar gula merah tidak bocor saat direbus. Hal ini dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa sesuatu yang baik membutuhkan usaha dan perhatian.

Adapun warna hijau klepon biasanya berasal dari daun pandan atau daun suji. Warna tersebut melambangkan kehidupan dan kesejahteraan, sedangkan kelapa parut menjadi bagian dari keseluruhan simbol perjalanan hidup manusia.

Punya Nama Berbeda di Berbagai Daerah Indonesia

Menariknya, klepon tidak selalu disebut dengan nama yang sama di seluruh Indonesia. Perbedaan penyebutan ini memperlihatkan kekayaan bahasa dan tradisi kuliner Nusantara.

Di Bengkulu, Sulawesi Tenggara, dan Sumatera Barat, klepon dikenal dengan nama onde-onde. Penyebutan ini berbeda dari onde-onde yang populer di banyak daerah lain, yaitu jajanan berbentuk bulat dengan lapisan biji wijen.

Masyarakat Sambas, Kalimantan Barat, mengenalnya sebagai kelapon pancit. Sementara itu, masyarakat Banjar menggunakan nama kalalapun atau kelelepon.

Di Lombok, jajanan ini disebut kelepon kecerit. Kata kecerit merujuk pada sensasi gula merah yang pecah atau menyembur ketika klepon digigit. Menariknya, klepon di daerah tersebut umumnya berbentuk lonjong.

Sementara itu, masyarakat Makassar mengenalnya dengan nama umba-umba. Popularitas klepon juga meluas hingga negara tetangga, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.

Masuknya klepon ke dalam daftar 100 dessert terbaik dunia 2026 menunjukkan bahwa makanan tradisional dengan bahan sederhana tetap memiliki daya tarik lintas negara. Lebih dari sekadar jajanan manis, klepon membawa cerita sejarah, identitas budaya, dan filosofi kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Jadi, ketika menikmati klepon, bukan hanya rasa manis gula merah dan gurihnya kelapa yang bisa dirasakan, tetapi juga kekayaan tradisi Indonesia yang tersimpan di dalamnya.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN