Ikan Nila hingga Caviar Masuk Daftar Seafood Red Flag, Chef Ungkap Alasan yang Bikin Kaget!

Ket. Ikan Nila dan Caviar.

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Seafood dikenal sebagai salah satu pilihan makanan favorit karena menawarkan beragam rasa, tekstur, dan kandungan nutrisi. Mulai dari ikan nila yang mudah ditemukan di warung makan, lele yang populer sebagai lauk sehari-hari, hingga caviar yang identik dengan restoran mewah, semuanya memiliki penggemar tersendiri.

Namun, tahukah Cantiks tidak semua seafood yang tersedia di pasaran menjadi pilihan para chef profesional? Di balik tampilannya yang menggugah selera, beberapa jenis seafood justru dihindari karena berbagai pertimbangan, mulai dari kualitas daging, praktik budidaya, risiko kontaminasi, hingga kelestarian lingkungan.

Menariknya, daftar seafood yang dianggap sebagai red flag ini bukan hanya mencakup ikan murah, tetapi juga makanan mewah yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Artinya, harga mahal tidak selalu menjadi jaminan suatu produk seafood memiliki kualitas terbaik.

Dilansir dari Food Republic pada 8 April 2026, terdapat lima jenis seafood yang cenderung dihindari oleh sebagian chef karena alasan tertentu. Apa saja daftarnya?

1. Ikan Nila, Murah dan Populer tetapi Kualitasnya Jadi Sorotan

Ikan nila atau tilapia merupakan salah satu ikan air tawar yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Harganya relatif terjangkau, mudah ditemukan di pasar, dan dapat diolah menjadi berbagai hidangan, mulai dari ikan goreng hingga ikan bakar.

Namun, popularitas ikan ini tidak membuat semua chef menjadikannya pilihan utama. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah standar budidaya yang dapat berbeda-beda, tergantung pada negara dan produsen yang mengelolanya.

Menurut chef MacMillan, kualitas daging tilapia juga tidak selalu seragam. Beberapa produk dinilai memiliki karakter rasa yang kurang menonjol. Dagingnya cenderung mudah menyerap cita rasa dari lingkungan maupun bahan yang digunakan selama pengolahan.

Karena rasanya relatif ringan, ikan nila terkadang dianggap membutuhkan tambahan bumbu yang cukup kuat agar menghasilkan hidangan yang lebih menggugah selera. Bahkan, sebagian chef menggunakan istilah trash fish untuk menggambarkan penilaian mereka terhadap karakter rasa ikan tersebut.

Meski demikian, bukan berarti semua ikan nila memiliki kualitas buruk. Mutu ikan tetap bergantung pada kondisi budidaya, kesegaran, penanganan setelah panen, serta cara penyimpanannya.

2. Orange Roughy, Ikan Berumur Ratusan Tahun yang Mengundang Kekhawatiran

Berikutnya ada orange roughy, ikan laut yang dahulu cukup populer berkat dagingnya yang lembut dan teksturnya yang kenyal. Ikan ini juga dikenal fleksibel untuk berbagai teknik memasak, seperti dipanggang, ditumis, maupun dibakar.

Namun, ada fakta menarik sekaligus mengkhawatirkan di balik ikan tersebut. Orange roughy dikenal memiliki umur yang sangat panjang. Sejumlah individu bahkan dapat hidup hingga sekitar 150–200 tahun.

Umur panjang ini menjadi salah satu alasan ikan tersebut mendapat perhatian dalam isu keamanan pangan. Sebagai ikan yang hidup dalam waktu lama, orange roughy dapat mengakumulasi merkuri dalam tubuhnya. Paparan merkuri yang berlebihan berisiko mengganggu sistem saraf manusia, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah tinggi atau secara berulang.

Selain persoalan kontaminasi, umur yang panjang dan pertumbuhan yang lambat juga membuat orange roughy rentan terhadap tekanan penangkapan ikan berlebihan.

Kondisi tersebut menjadi pertimbangan bagi sebagian chef yang mengutamakan keamanan pangan sekaligus keberlanjutan sumber daya laut. Jadi, meskipun teksturnya menarik dan rasanya cukup lembut, ikan ini bukan selalu pilihan utama di dapur profesional.

3. Wild Caviar, Makanan Mewah yang Tidak Selalu Jadi Pilihan Chef

Caviar kerap dianggap sebagai simbol kemewahan karena harganya yang tinggi dan penyajiannya yang identik dengan restoran eksklusif. Makanan ini berasal dari telur ikan sturgeon yang diolah secara khusus.

Namun, tidak semua caviar memiliki sumber yang sama. Salah satu jenis yang dihindari sebagian chef adalah wild caviar, yakni caviar dari ikan sturgeon yang ditangkap di alam liar.

Salah satu kekhawatirannya berkaitan dengan asal-usul produk dan kondisi lingkungan tempat ikan hidup. Apabila sumbernya tidak dapat ditelusuri dengan jelas, kualitas dan keamanan produknya pun lebih sulit dipastikan.

Perdagangan caviar liar juga menghadapi berbagai pembatasan hukum untuk melindungi populasi sturgeon yang terancam akibat penangkapan berlebihan. Karena itu, legalitas dan keterlacakan asal produk menjadi faktor penting sebelum caviar dipasarkan.

Sebagai alternatif, sebagian chef lebih memilih caviar hasil budidaya dari produsen yang memiliki sistem pengawasan memadai. Dalam lingkungan budidaya yang terkontrol, produsen dapat memantau kualitas air, pakan, serta kondisi pemeliharaan ikan.

Pengawasan tersebut membantu menjaga konsistensi rasa dan tekstur caviar. Bagi restoran kelas atas, konsistensi merupakan aspek penting karena kualitas bahan makanan harus sesuai dengan standar hidangan yang disajikan kepada pelanggan.

Dengan demikian, caviar yang mahal belum tentu menjadi pilihan terbaik jika asal-usul dan proses produksinya tidak jelas.

4. Lele Impor, Risiko Kontaminasi hingga Penggunaan Antibiotik Jadi Perhatian

Lele merupakan ikan yang sangat akrab dengan masyarakat Indonesia. Selain harganya terjangkau, ikan ini mudah diolah menjadi berbagai menu, seperti pecel lele, lele goreng, hingga lele bakar.

Namun, dalam konteks pasar internasional, sebagian chef menaruh perhatian khusus terhadap ikan lele impor tertentu. Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan standar budidaya, penggunaan obat-obatan, serta kondisi lingkungan tempat ikan dibesarkan.

Apabila pengawasan budidaya tidak memadai, ikan berpotensi terpapar kontaminan dari air atau lingkungan sekitarnya. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai aturan juga menjadi persoalan karena dapat berkontribusi terhadap munculnya resistensi antimikroba.

Risiko tersebut tentu tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh ikan lele impor. Keamanan produk bergantung pada negara asal, produsen, kepatuhan terhadap regulasi, serta hasil pemeriksaan yang dilakukan otoritas terkait.

Pada Maret 2025, Departemen Pertanian Amerika Serikat atau USDA dilaporkan mengeluarkan peringatan kesehatan masyarakat mengenai produk ikan lele impor yang tidak memenuhi persyaratan untuk masuk ke pasar Amerika Serikat. Kasus semacam ini memperlihatkan pentingnya pengawasan terhadap produk perikanan yang diperdagangkan lintas negara.

Bagi chef profesional, kualitas bahan baku bukan sekadar persoalan rasa. Keamanan pangan dan kepastian asal produk juga menjadi pertimbangan penting sebelum suatu bahan digunakan untuk menyajikan hidangan kepada pelanggan.

5. Belut Amerika, Dipertanyakan karena Kontaminasi dan Kelestarian

Jenis seafood terakhir yang masuk dalam daftar ini adalah belut Amerika atau American eel. Ikan tersebut dapat ditemukan di perairan Amerika Utara dan memiliki nilai komersial di sejumlah pasar.

Meski demikian, belut Amerika menghadapi sejumlah tantangan, terutama berkaitan dengan kelestarian populasi dan kualitas lingkungan perairan tempatnya hidup.

Seperti ikan lainnya, belut dapat terpapar berbagai kontaminan yang terdapat di lingkungan. Merkuri dan polutan industri menjadi perhatian apabila kadarnya terakumulasi dalam jaringan tubuh ikan. Karena itu, asal perairan dan hasil pemantauan keamanan pangan perlu diperhatikan sebelum belut dikonsumsi.

Di sisi lain, belut Amerika juga tidak selalu menjadi pilihan utama untuk hidangan unagi tradisional Jepang. Sebagian chef menilai karakter rasa dan teksturnya berbeda dari belut yang biasa digunakan dalam sajian tersebut.

Perbedaan komposisi lemak, tekstur daging, serta respons terhadap proses pemanggangan dan saus dapat memengaruhi hasil akhir hidangan. Dalam masakan Jepang, karakter bahan baku menjadi faktor penting untuk menghasilkan rasa dan tekstur yang sesuai dengan standar resep.

Selain kualitas kuliner, persoalan keberlanjutan juga perlu diperhatikan. Populasi belut Amerika menghadapi tekanan dari berbagai faktor, termasuk perubahan habitat dan aktivitas penangkapan. Memilih produk dari sumber yang bertanggung jawab menjadi salah satu cara untuk mendukung pengelolaan sumber daya perikanan.

Jadi, sebelum memilih seafood untuk menu sehari-hari, jangan hanya tergiur harga murah atau label mewah. Kualitas, keamanan, dan kejelasan asal produk tetap menjadi hal yang paling penting.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN