Pangeran Harry Depresi Usai Tinggalkan Kerajaan Inggris dengan Meghan Markle, Trauma Kematian Putri Diana?

Ket. Pangeran Harry dan Meghan Markle

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Pangeran Harry akhirnya blak-blakan mengenai kondisi mentalnya setelah memutuskan meninggalkan keluarga Kerajaan Inggris dan pindah ke Kanada bersama Meghan Markle. Di balik keputusannya untuk memulai kehidupan baru jauh dari sorotan kerajaan, Harry mengaku sempat mengalami depresi hingga merasa kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari.

Pengakuan mengejutkan tersebut disampaikan Harry dalam sesi MasterClass bertajuk Redefining Grief: Building Resilience Through Loss yang ditayangkan pada 8 Oktober 2026. Dalam sesi tersebut, Duke of Sussex itu menceritakan bagaimana perubahan lingkungan justru membuatnya berhadapan dengan perasaan yang selama ini ia pendam.

Mengutip People, Harry mengungkapkan mengalami penurunan kadar adrenalin secara drastis hanya dalam dua hingga tiga hari setelah tiba di Kanada. Sebelumnya, ia terbiasa hidup dalam situasi penuh tekanan yang membuat tubuhnya seolah terus berada dalam kondisi siaga.

"Saat berada di Kanada, jauh dari lingkungan penuh tekanan, di mana tubuh saya mungkin terus-menerus dipenuhi adrenalin, dalam waktu dua atau tiga hari, saya mengalami penurunan drastis kadar adrenalin ini; sesuatu yang belum pernah saya alami sebelumnya," ungkap Harry.

Ia bahkan merasa kesulitan melakukan berbagai aktivitas ketika berada di rumah. Harry mengaku terbiasa mengandalkan stres dan adrenalin untuk membuat dirinya tetap berfungsi di tengah tekanan kehidupan yang dijalani.

"Rasanya seolah-olah saya membutuhkan stres untuk memicu adrenalin agar otak saya bisa berfungsi, karena saya menjadi tidak bisa melakukan apa-apa di rumah. Saya bahkan sempat mengalami depresi selama sekitar dua minggu dan merasa tidak bisa berfungsi tanpa adanya adrenalin," lanjutnya.

Pengakuan tersebut memperlihatkan keputusan meninggalkan kehidupan kerajaan ternyata tidak langsung membuat Harry merasa lebih tenang. Di tengah upayanya mencari kebebasan, ia justru mulai menyadari persoalan emosional yang selama bertahun-tahun tidak benar-benar dihadapinya.

Konflik dengan Pangeran William Jadi Sorotan

Harry dan Meghan Markle pindah ke Kanada pada 2019 bersama putra mereka, Pangeran Archie, yang saat itu masih bayi. Keputusan tersebut diambil ketika hubungan Harry dengan keluarga kerajaan dilaporkan tengah mengalami ketegangan.

Seperti diberitakan Entertainment Weekly, Harry disebut menghadapi konflik dengan kakaknya, Pangeran William. William kabarnya tidak menyetujui cara Harry dan Meghan menjalani kehidupan sebagai anggota kerajaan.

Situasi tersebut menjadi salah satu bagian dari dinamika keluarga yang akhirnya mengantarkan Harry dan Meghan pada keputusan besar dalam hidup mereka. Pada Januari 2020, keduanya mengumumkan pengunduran diri sebagai anggota senior keluarga kerajaan yang menjalankan tugas resmi.

Harry menjelaskan kepindahan ke Kanada memberinya ruang untuk menjauh dari berbagai tekanan dan mencoba berpikir lebih jernih. Namun, ketika tidak lagi disibukkan oleh lingkungan yang penuh tuntutan, ia justru mulai merasakan kesedihan yang selama ini tertutupi.

Trauma Kematian Putri Diana Kembali Muncul

Salah satu pengalaman paling menyakitkan yang kembali menghantui Harry adalah kehilangan ibunya, Putri Diana, yang meninggal dunia akibat kecelakaan mobil di Paris pada 1997. Kala itu, Harry baru berusia 12 tahun.

Dalam sesi MasterClass tersebut, Harry mengaku selama 15 hingga 20 tahun terbiasa menyembunyikan perasaannya. Ketika orang lain bertanya apakah dirinya baik-baik saja, ia hampir selalu memberikan jawaban yang sama tanpa benar-benar mengungkapkan apa yang dirasakan.

"Selama 15 atau 20 tahun, ketika orang bertanya, 'Apakah kamu baik-baik saja?', jawaban saya selalu, 'Saya baik-baik saja.' Itu adalah mati rasa, penutupan emosi. Dan tanpa saya sadari, adrenalinlah yang terus mendorong dan memacu saya," jelasnya.

Harry juga mengungkapkan dirinya bergabung dengan militer pada usia 20 tahun. Kesibukan dan tuntutan tugas di lingkungan militer menjadi pengalih perhatian yang membuatnya tidak perlu terlalu banyak memikirkan persoalan emosional yang dialami.

Ia menilai pengalaman tersebut turut membantunya mulai melepaskan sebagian trauma yang telah lama dipendam sejak kehilangan sang ibu. Meski demikian, proses menghadapi kesedihan itu bukanlah sesuatu yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat.

Sempat Mengalami Serangan Panik saat Perjalanan Kerja

Harry juga menceritakan pengalaman lain yang membuatnya mulai menyadari kondisi mentalnya membutuhkan perhatian lebih serius.

Ia pernah merasa seperti tercekik hanya karena mengenakan kemeja biasa. Saat kerah baju terasa menekan lehernya, sensasi tersebut terasa begitu nyata hingga membuatnya merasa seolah-olah benar-benar kesulitan bernapas.

Tak hanya itu, Harry mengaku pernah mengalami serangan panik ketika berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju tempat kerja.

Pengalaman tersebut menjadi titik penting baginya untuk menyadari ada persoalan lebih besar yang perlu dipahami. Ia mulai mempertanyakan kondisi dirinya dan menyadari perasaan yang selama ini diabaikan tidak bisa terus-menerus disembunyikan.

Pengakuan Harry sekaligus memperlihatkan sisi lain kehidupan seorang figur publik yang selama ini dikenal melalui berbagai pemberitaan tentang keluarga kerajaan. Di balik sorotan dunia, ia juga menghadapi kehilangan, tekanan, dan pergulatan emosional yang membutuhkan waktu untuk dipahami.

Tinggalkan Kanada dan Pindah ke California

Kehidupan Harry dan Meghan di Kanada ternyata tidak berlangsung lama. Setelah mundur dari tugas resmi kerajaan, keduanya kemudian menetap di Amerika Serikat dan membeli rumah mewah di Montecito, California.

Kawasan tersebut menjadi tempat mereka membangun kehidupan baru bersama Archie dan putri mereka, Lilibet. Perpindahan itu menandai babak berbeda dalam perjalanan keluarga Sussex setelah meninggalkan Inggris.

Meski demikian, kisah yang dibagikan Harry menunjukkan berpindah tempat tidak selalu berarti seluruh beban masa lalu ikut menghilang. Baginya, menjauh dari tekanan justru membuka kesempatan untuk menyadari kesedihan yang selama ini terpendam.

Pengakuan mengenai depresi, serangan panik, dan trauma kehilangan Putri Diana pun kembali menyoroti perjalanan personal Harry dalam memahami kondisi mentalnya. Pengalaman tersebut menjadi pengingat seseorang tidak selalu menunjukkan pergulatan emosional yang sebenarnya melalui penampilan atau kehidupan yang terlihat dari luar.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN