Skincare Viral di TikTok Bisa Bikin Kulit Rusak? Ini 5 Masalah yang Paling Sering Muncul!
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Cantiks, siapa yang sering tergoda mencoba skincare viral di TikTok karena melihat hasil kulit glowing para beauty influencer? Mulai dari serum dengan kandungan aktif berkonsentrasi tinggi hingga rutinitas skincare berlapis-lapis, berbagai tips kecantikan kini mudah ditemukan hanya dengan beberapa kali scroll.
Sebuah penelitian yang dipresentasikan dalam European Academy of Dermatology and Venereology (EADV) Congress 2026 menyoroti kaitan antara penggunaan produk kecantikan yang dipromosikan melalui media sosial dan munculnya berbagai gangguan kulit.
Penelitian tersebut mengamati 94 pasien dermatologi selama 12 bulan. Para pasien mengalami masalah kulit baru atau kondisi yang memburuk setelah menggunakan produk kecantikan yang mereka temukan melalui media sosial.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa tren skincare di internet tidak selalu sejalan dengan kebutuhan kulit setiap orang. Lantas, masalah kulit apa saja yang paling sering ditemukan dan bahan aktif apa yang perlu digunakan dengan hati-hati? Simak ulasannya berikut ini!
1. Dermatitis Kontak Iritan, Kulit Merah hingga Terasa Perih
Masalah kulit yang paling banyak ditemukan dalam penelitian tersebut adalah dermatitis kontak iritan. Kondisi peradangan kulit ini dialami sekitar 42% pasien yang diamati.
Berbeda dari dermatitis kontak alergi yang melibatkan reaksi sistem kekebalan terhadap alergen tertentu, dermatitis kontak iritan terjadi ketika kulit mengalami kerusakan akibat paparan bahan atau faktor yang mengiritasi.
Gejalanya dapat berupa kemerahan, rasa perih, kulit kering, bersisik, hingga sensasi terbakar. Risiko ini bisa meningkat ketika seseorang menggunakan produk dengan bahan aktif yang kuat secara berlebihan atau menggabungkan beberapa produk yang berpotensi mengiritasi.
Salah satu kebiasaan yang perlu diperhatikan adalah mengikuti rutinitas skincare influencer tanpa menyesuaikannya dengan kondisi kulit sendiri. Produk yang cocok untuk seseorang belum tentu memberikan hasil yang sama pada orang lain.
Karena itu, Beauties sebaiknya memperkenalkan produk baru secara bertahap dan memperhatikan reaksi kulit sebelum menambahkan produk lain.
2. Jerawat Muncul atau Semakin Parah
Siapa yang ingin mendapatkan kulit glowing, tetapi justru berakhir dengan jerawat baru? Kondisi ini juga menjadi salah satu masalah yang ditemukan dalam penelitian tersebut.
Hampir 30% pasien mengalami jerawat atau kondisi jerawat yang semakin memburuk setelah menggunakan produk kecantikan yang dipromosikan di media sosial.
Ada berbagai faktor yang dapat memicu kondisi ini, termasuk penggunaan produk yang tidak sesuai dengan jenis kulit, formula yang menyumbat pori-pori pada sebagian orang, serta iritasi akibat pemakaian bahan aktif yang berlebihan.
Kebiasaan menumpuk banyak produk sekaligus juga bisa menyulitkan seseorang mengidentifikasi produk yang menjadi pemicu masalah. Ketika jerawat muncul, pengguna mungkin tidak mengetahui apakah penyebabnya adalah satu produk tertentu, kombinasi beberapa bahan, atau faktor lain.
Jika kulit mulai berjerawat setelah mencoba skincare baru, hindari langsung menambahkan banyak produk untuk mengatasinya. Evaluasi rutinitas yang digunakan dan konsultasikan dengan dokter kulit apabila jerawat terus memburuk.
3. Rosacea Kambuh dan Kemerahan Sulit Mereda
Masalah berikutnya adalah kekambuhan rosacea atau munculnya dermatitis yang menyerupai rosacea. Dalam penelitian tersebut, sekitar 12% pasien mengalami kondisi ini.
Rosacea merupakan kondisi kulit kronis yang dapat menyebabkan kemerahan menetap, pembuluh darah kecil terlihat jelas, serta benjolan yang menyerupai jerawat. Gejalanya dapat berbeda pada setiap orang.
Pada kulit yang rentan mengalami kemerahan, penggunaan produk dengan bahan aktif yang terlalu kuat berpotensi memperburuk iritasi. Eksfoliasi berlebihan dan terlalu sering mengganti produk juga dapat membuat kulit semakin sulit ditoleransi.
Karena itu, pemilik kulit sensitif atau yang memiliki riwayat rosacea perlu lebih berhati-hati saat mengikuti tren kecantikan. Rutinitas sederhana dengan pembersih lembut, pelembap yang sesuai, dan tabir surya dapat menjadi dasar perawatan sehari-hari.
Jika kemerahan berlangsung lama, terasa panas, atau disertai gejala lain, sebaiknya periksakan kondisi kulit kepada dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.
4. Hiperpigmentasi Pascaperadangan, Bekas Gelap yang Mengganggu
Masalah kulit tidak selalu berhenti setelah kemerahan atau jerawat mereda. Pada sebagian orang, peradangan dapat meninggalkan bercak gelap yang dikenal sebagai hiperpigmentasi pascaperadangan atau post-inflammatory hyperpigmentation (PIH).
Dalam penelitian tersebut, lebih dari 10% pasien mengalami hiperpigmentasi setelah peradangan kulit.
Kondisi ini terjadi ketika peradangan memicu peningkatan produksi atau perubahan distribusi melanin, yaitu pigmen yang memberikan warna pada kulit. Bekasnya dapat bertahan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, tergantung pada kondisi kulit dan tingkat keparahannya.
Alih-alih langsung menggunakan banyak serum pencerah, penting untuk mengatasi penyebab peradangan terlebih dahulu. Penggunaan bahan aktif secara berlebihan justru berpotensi memperburuk iritasi dan membuat bekas gelap semakin terlihat.
Penggunaan tabir surya secara teratur juga penting untuk membantu mencegah bercak hiperpigmentasi menjadi lebih gelap akibat paparan sinar matahari.
5. Luka Bakar Kimia Superfisial Akibat Bahan Aktif
Risiko yang tidak kalah serius adalah luka bakar kimia superfisial. Sekitar 7% pasien dalam penelitian tersebut mengalami kondisi ini.
Luka bakar kimia pada kulit dapat terjadi ketika kulit terpapar bahan yang terlalu kuat atau digunakan dengan cara yang tidak tepat. Dalam konteks skincare, risiko dapat meningkat akibat penggunaan produk eksfoliasi berkonsentrasi tinggi secara berlebihan, mengabaikan petunjuk pemakaian, atau menggabungkan beberapa bahan aktif yang mengiritasi.
Gejalanya bisa meliputi rasa terbakar, nyeri, kemerahan intens, dan kulit yang mengalami pengelupasan. Kondisi yang lebih berat membutuhkan pemeriksaan medis.
Jika setelah memakai skincare kulit terasa sangat panas, nyeri, melepuh, atau mengalami iritasi berat, segera hentikan produk tersebut dan cari bantuan medis. Jangan mencoba menetralkan bahan kimia dengan mencampurkan produk lain karena tindakan tersebut dapat memperburuk kondisi kulit.
AHA, BHA, hingga Retinoid: Bahan Aktif yang Perlu Digunakan dengan Hati-Hati
Penelitian tersebut juga mengidentifikasi sejumlah bahan aktif yang digunakan oleh pasien sebelum mengalami reaksi kulit.
Sekitar 35% pasien mengalami reaksi setelah menggunakan produk chemical peeling yang mengandung alpha-hydroxy acids (AHA) atau beta-hydroxy acids (BHA). Produk retinoid yang dijual bebas dikaitkan dengan 27% kasus, serum vitamin C berkonsentrasi tinggi dengan 14%, dan produk niacinamide dengan 11%.
Angka tersebut menggambarkan bahan yang digunakan pada kelompok pasien yang diteliti, bukan berarti bahan-bahan tersebut pasti menyebabkan masalah kulit atau berbahaya bagi semua orang.
AHA dan BHA membantu proses eksfoliasi, sedangkan retinoid digunakan dalam perawatan berbagai masalah kulit, termasuk jerawat dan tanda penuaan. Vitamin C dan niacinamide juga memiliki manfaat dalam perawatan kulit. Namun, konsentrasi, formulasi, frekuensi pemakaian, serta kondisi kulit dapat memengaruhi toleransi terhadap produk.
Penelitian itu juga menemukan bahwa 63% pasien menggunakan lebih dari tiga bahan aktif dalam rutinitas skincare mereka. Sebanyak 14% menjalankan rutinitas berlapis-lapis yang menggabungkan berbagai bahan aktif yang berpotensi mengiritasi.
Temuan tersebut menyoroti pentingnya memperhatikan cara penggunaan produk, bukan sekadar mengikuti daftar bahan yang sedang viral.
Dokter Ingatkan agar Tidak Asal Mengikuti Skincare Viral
Tren kecantikan di TikTok memang bisa menjadi sumber inspirasi untuk menemukan produk atau mengenal bahan perawatan kulit. Namun, rekomendasi kreator konten tidak selalu didasarkan pada evaluasi medis yang sesuai dengan kondisi setiap penonton.
Dokter kulit Ife J. Rodney, MD, pendiri Eternal Dermatology plus Aesthetics di Columbia, Maryland, mengingatkan bahwa kreator konten belum tentu memiliki pengetahuan ilmiah yang memadai untuk memberikan saran medis. Pernyataan tersebut dikutip dari Allure.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics pada 2025 turut menyoroti rutinitas skincare kreator kecantikan berusia 18 tahun atau lebih muda. Analisis terhadap 100 video menemukan bahwa setiap rutinitas menggunakan rata-rata enam produk. Sementara itu, 25 video dengan jumlah penonton tertinggi menggunakan rata-rata 11 bahan aktif yang berpotensi mengiritasi kulit, bahkan ada yang mencapai 21 bahan aktif.
Dokter kulit Cindy Wassef, MD, dari Premier Health Associates di Randolph, New Jersey, juga menyarankan masyarakat agar lebih kritis terhadap rekomendasi skincare di media sosial. Penting untuk memahami siapa yang memberikan rekomendasi, alasan produk tersebut dipromosikan, serta apakah informasi yang disampaikan memiliki dasar yang dapat dipercaya.
Jika ingin mencoba produk yang sedang viral, periksa komposisinya, ikuti petunjuk penggunaan, dan jangan langsung menggabungkan banyak bahan aktif dalam satu rutinitas. Bagi pemilik kulit sensitif, riwayat jerawat, atau masalah kulit tertentu, konsultasi dengan dokter kulit dapat membantu menentukan produk yang sesuai.
Pada akhirnya, kulit sehat tidak harus dicapai dengan rutinitas yang panjang atau produk yang sedang populer. Mengenali kebutuhan kulit sendiri, menggunakan produk secara tepat, dan konsisten menjalani perawatan dasar jauh lebih penting daripada mengikuti setiap tren yang muncul di TikTok.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Skincare Viral di TikTok Bisa Bikin Kulit Rusak? Ini 5 Masalah yang Paling Sering Muncul! .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!