5 Mitos Eksim yang Masih Dipercaya, Ternyata Nggak Menular!

Rabu, 30 Sep 2026, 16:30 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Eksim atau dermatitis atopik masih menjadi salah satu kondisi kulit yang kerap disalahpahami. Kulit merah, kering, bersisik, hingga rasa gatal yang muncul berulang kali sering membuat penderitanya mendapat berbagai saran yang belum tentu benar.

Mulai dari anggapan eksim bisa menular lewat sentuhan, penderita wajib menghindari banyak makanan, sampai ketakutan menggunakan obat steroid. Padahal, tidak semua informasi yang beredar tersebut sesuai dengan kondisi medis sebenarnya.

dr. Tomi Nugraha, Sp.DVE menjelaskan sejumlah mitos seputar eksim yang masih banyak dipercaya masyarakat. Menurutnya, penanganan dermatitis atopik perlu disesuaikan dengan kondisi setiap pasien karena pemicu dan tingkat keparahan eksim dapat berbeda-beda.

Berikut lima mitos eksim yang penting untuk diketahui.

1. Mitos: Eksim Bisa Menular Lewat Sentuhan

Melihat kulit seseorang yang sedang mengalami eksim mungkin membuat sebagian orang khawatir untuk melakukan kontak fisik. Padahal, eksim bukan penyakit infeksi yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain.

“Eksim atau dermatitis atopik tidak menular sama sekali,” tegas dr. Tomi dalam acara “Beyond the Flare, Every Skin Has a Story” di ERHA Center Iskandarsyah.

Dermatitis atopik berkaitan dengan kondisi atopi, yaitu kecenderungan seseorang mengalami penyakit alergi tertentu. Faktor tersebut juga dapat memiliki kaitan dengan riwayat keluarga.

Artinya, seseorang dapat memiliki kecenderungan mengalami kondisi atopik karena faktor genetik. Namun, hal tersebut berbeda dengan konsep penularan. Jadi, bersentuhan, berjabat tangan, atau berada dekat dengan penderita eksim tidak membuat seseorang otomatis mengalami eksim.

2. Mitos: Penderita Eksim Wajib Pantang Banyak Makanan

Ket. Foto: Ilustrasi eksim. — Sumber: Istimewa

Mitos berikutnya berkaitan dengan makanan. Karena alergi tertentu dapat berhubungan dengan kondisi kulit, penderita eksim terkadang langsung diminta menghindari berbagai jenis makanan.

Padahal, tidak semua penderita dermatitis atopik memiliki alergi makanan.

Menurut dr. Tomi, pembatasan makanan sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan. Jika memang dicurigai terdapat makanan tertentu yang menjadi pencetus, pemeriksaan alergi dapat dilakukan untuk membantu mengidentifikasi pemicunya.

Jika alergi terhadap makanan tertentu memang ditemukan, makanan tersebut dapat dihindari. Sebaliknya, makanan yang tidak terbukti menjadi pencetus tidak perlu otomatis masuk daftar pantangan.

Jadi, jangan sampai karena takut eksim kambuh, seseorang justru membatasi terlalu banyak jenis makanan tanpa alasan yang jelas.

3. Mitos: Eksim Bisa Sembuh Total dan Tidak Akan Kambuh Lagi

Ketika kulit sudah kembali terlihat mulus dan rasa gatal menghilang, bukan berarti dermatitis atopik tidak akan pernah muncul kembali.

Eksim merupakan kondisi yang dapat mengalami kekambuhan, terutama ketika seseorang kembali terpapar faktor pencetus. Karena itu, menjaga kondisi kulit tetap sehat menjadi bagian penting dari perawatan, termasuk mempertahankan skin barrier.

“Kalau sudah terkontrol, saya tidak pernah mengatakan kepada pasien eczema-nya sudah sembuh. Saya lebih memilih mengatakan kondisinya sudah terkontrol dan kulitnya harus terus dijaga supaya tidak kambuh lagi,” jelas dr. Tomi.

Dengan kata lain, kondisi kulit yang sudah membaik sebaiknya tetap dirawat. Jangan baru melakukan perawatan ketika eksim kembali kambuh.

4. Mitos: Obat Steroid Sama Sekali Tidak Boleh Digunakan untuk Eksim

Steroid juga sering menjadi salah satu hal yang membuat penderita eksim khawatir. Tidak sedikit orang menganggap obat tersebut berbahaya sehingga harus dihindari sepenuhnya.

Padahal, kortikosteroid topikal dapat digunakan untuk membantu mengatasi peradangan pada kondisi kulit tertentu, termasuk eksim, dengan penggunaan yang disesuaikan oleh dokter.

Yang perlu diperhatikan justru cara penggunaannya. Jenis obat, kekuatan, frekuensi pemakaian, area kulit yang diberikan obat, serta durasi penggunaan perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.

Penggunaan obat tanpa aturan, terlalu lama, atau tanpa pengawasan medis dapat menimbulkan masalah. Karena itu, ketakutan terhadap steroid sebaiknya tidak membuat penderita menghentikan atau menghindari pengobatan yang memang diresepkan dokter.

5. Mitos: Semua Penderita Eksim Bisa Mengikuti Perawatan yang Sama

Punya eksim bukan berarti semua orang harus menjalani rutinitas perawatan kulit yang identik.

Setiap penderita bisa memiliki tingkat keparahan, kondisi skin barrier, lokasi munculnya lesi, hingga faktor pencetus yang berbeda. Karena itu, perawatan yang cocok untuk satu orang belum tentu memberikan hasil yang sama pada orang lain.

“Tidak bisa dibuat satu aturan untuk semua penderita eksim. Misalnya anak A boleh mandi dengan cara tertentu, belum tentu anak lain kondisinya sama. Semuanya harus disesuaikan dengan kondisi eksim masing-masing,” ujar dr. Tomi.

Mengetahui pemicu juga menjadi bagian penting. Jika seseorang sudah mengetahui faktor yang membuat eksimnya mudah kambuh, pemicu tersebut dapat dihindari. Namun, hal-hal yang tidak terbukti menjadi pencetus sebaiknya tidak dibatasi secara berlebihan.

Pada akhirnya, eksim bukan sekadar masalah kulit kering atau gatal. Kondisi ini membutuhkan perawatan yang konsisten dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing penderita.

Memahami fakta di balik berbagai mitos juga penting agar penderita tidak melakukan pantangan atau pengobatan sendiri yang justru tidak diperlukan. Jika keluhan terus berulang, semakin berat, atau mengganggu aktivitas, pemeriksaan oleh dokter kulit dapat membantu menentukan penanganan yang sesuai.

  • eksim
  • Mitos Eksim

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.