Studi Ungkap Protein Darah Bisa Pantau Efek Obat Alzheimer
Sabtu, 26 Sep 2026, 20:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Pasien dengan gejala awal penyakit Alzheimer dapat menerima terapi anti-amiloid seperti lecanemab untuk membantu membersihkan gumpalan protein amiloid yang menumpuk di otak. Terapi tersebut tidak menyembuhkan Alzheimer atau mengembalikan fungsi kognitif menjadi normal, tetapi telah terbukti dapat memperlambat perkembangan penyakit.
Salah satu tantangan dalam terapi anti-amiloid adalah memantau seberapa baik pengobatan bekerja pada setiap pasien. Saat ini, dokter masih mengandalkan pemindaian otak untuk memastikan perubahan pada penumpukan amiloid, sementara pemeriksaan tersebut membutuhkan biaya dan tidak selalu mudah diakses.
Studi terbaru dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis atau WashU Medicine menemukan potensi cara baru untuk memantau efek terapi tersebut melalui pemeriksaan darah. Penelitian yang melibatkan hampir 200 pasien pengguna lecanemab mengidentifikasi puluhan protein darah yang mengalami perubahan selama pasien menjalani pengobatan.
"Ketika pasien ingin mengetahui bagaimana pengobatan anti-amiloid bekerja, sulit untuk memberikan jawaban yang jelas. Kita tahu dari uji klinis bahwa pengobatan anti-amiloid kemungkinan akan membantu pasien rata-rata dengan gejala awal Alzheimer, tetapi saat ini kita memiliki alat yang terbatas untuk memantau efek pengobatan," ujar Suzanne Schindler, MD, PhD, profesor neurologi di WashU Medicine.
Schindler mengatakan tes darah yang dapat menunjukkan respons pasien terhadap terapi akan membantu dokter mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai perkembangan pengobatan. Pemeriksaan tersebut juga berpotensi menunjukkan apakah amiloid telah dibersihkan dari otak dan bagaimana kondisi otak berubah selama terapi.
Penelitian yang dipimpin Rui Mu bersama Schindler dan Carlos Cruchaga melibatkan 197 pasien dengan gejala Alzheimer stadium awal serta bukti penumpukan amiloid. Para pasien menerima infus lecanemab setiap dua minggu selama periode hingga dua tahun dan menjalani pemeriksaan darah kira-kira setiap enam bulan.
Selain pemeriksaan darah, pasien juga menjalani pengujian kognitif untuk memantau kemampuan ingatan dan berpikir. Sebagian pasien menjalani pencitraan otak sehingga peneliti dapat membandingkan perubahan protein darah dengan pembersihan amiloid yang terlihat melalui pemindaian.
Tim peneliti mengukur 130 protein dalam plasma atau bagian cair dari darah. Hasilnya menunjukkan terdapat perubahan signifikan pada 34 protein setelah pasien menjalani pengobatan lecanemab.
"Beberapa penanda patologi Alzheimer bergeser kembali ke tingkat yang ditemukan pada individu yang sehat secara kognitif, menunjukkan bahwa pengobatan tersebut membersihkan plak amiloid," kata Cruchaga, yang juga merupakan direktur pendiri Pusat NeuroGenomik dan Informatika di WashU Medicine.
Salah satu perubahan yang diamati berkaitan dengan tau terfosforilasi atau p-tau. Protein tersebut merupakan salah satu penanda penting penyakit Alzheimer karena dapat menumpuk secara tidak normal di otak penderita penyakit tersebut.
Peneliti juga menemukan peningkatan pada sejumlah protein yang berkaitan dengan peradangan. Kondisi tersebut sejalan dengan cara kerja terapi anti-amiloid yang sebagian prosesnya melibatkan aktivasi mikroglia, yaitu sel kekebalan yang berada di dalam otak.
"Mikroglia membersihkan amiloid dari otak, jadi masuk akal jika kita melihat tingkat protein yang lebih tinggi terkait dengan aktivasi mikroglia. Ini menunjukkan bahwa pengobatan tersebut mengaktifkan sistem kekebalan tubuh seperti yang diharapkan," jelas Cruchaga.
Menariknya, perubahan protein yang berkaitan dengan peradangan tersebut tidak menunjukkan hubungan dengan penurunan kemampuan kognitif yang lebih cepat. Temuan ini menjadi salah satu bagian yang diperhatikan peneliti dalam memahami respons tubuh terhadap terapi anti-amiloid.
Peneliti kemudian mengidentifikasi dua kelompok biomarker darah yang berpotensi memiliki kegunaan berbeda. Kelompok pertama menunjukkan perubahan yang berkaitan dengan pembersihan amiloid dan berpotensi membantu dokter menentukan berapa lama seorang pasien perlu menjalani terapi anti-amiloid.
Saat ini, pemindaian otak masih menjadi cara untuk memastikan apakah plak amiloid telah berkurang. Jika biomarker darah tersebut terbukti melalui penelitian lanjutan, pemeriksaan darah berpotensi menjadi alternatif yang lebih mudah digunakan untuk memantau perubahan tersebut.
Kelompok biomarker kedua berkaitan dengan perubahan kemampuan ingatan dan berpikir pasien. Temuan ini membuka kemungkinan pengembangan tes prognostik yang dapat membantu pasien dan pengasuh mendapatkan gambaran mengenai kemungkinan perkembangan penyakit.
Tes prognostik tersebut berbeda dengan tes yang secara khusus menentukan apakah lecanemab bekerja pada pasien tertentu. Pemeriksaan itu lebih ditujukan untuk memperkirakan laju perkembangan Alzheimer sehingga dapat menjadi informasi tambahan bagi pasien, termasuk mereka yang tidak menjalani terapi anti-amiloid.
Meski demikian, hasil penelitian tersebut masih memiliki keterbatasan karena dilakukan di satu klinik dan belum divalidasi di fasilitas kesehatan lain. Peneliti menilai temuan ini perlu diuji pada klinik serta kelompok pasien yang lebih beragam sebelum dapat diterapkan secara luas.
Penelitian tersebut dijadwalkan dipublikasikan pada 24 September di jurnal The Lancet Neurology. Jika hasilnya dapat dikonfirmasi melalui penelitian lanjutan, para peneliti memperkirakan pemeriksaan darah untuk memantau efek terapi yang menargetkan amiloid berpotensi tersedia di klinik dalam beberapa tahun mendatang.
- Protein
- Alzheimer
Redaktur: Afifa Khoirunnisa
Penulis: Afifa Khoirunnisa
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.