Atlet Menyamar Jadi Pria demi Hindari Taliban, Kini Raih Medali Asian Games

Ket. Atlet Menyamar Jadi Pria demi Hindari Taliban, Kini Raih Medali Asian Games

Doc: REUTERS/Bryan Foo

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Perjalanan Fariba Hashimi di dunia olahraga tidaklah mudah. Atlet balap sepeda asal Afghanistan itu harus menghadapi berbagai tantangan sebelum akhirnya berhasil meraih medali perak pada Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang.

Fariba bahkan pernah menyamar sebagai pria ketika berlatih di Afghanistan. Hal tersebut dilakukan demi menghindari ancaman dan serangan saat dirinya menjalani aktivitas sebagai atlet perempuan.

Atlet berusia 23 tahun itu berhasil finis di posisi kedua dalam nomor road race putri yang berlangsung di sekitar Nagoya, Selasa (22/9/2026). Ia berada di belakang atlet China, Guo Li, sementara medali perunggu diraih Wing Yee Leung dari Hong Kong.

Fariba menyebut pencapaian tersebut sebagai sesuatu yang sangat istimewa. Ia berharap medali yang diraihnya dapat menjadi inspirasi bagi perempuan Afghanistan lainnya untuk berani mengejar impian.

"Saya tidak bisa menjelaskan perasaan saya sekarang," ujar Fariba.

"Saya lahir di negara tempat perempuan yang memiliki mimpi justru diserang, dan saya sangat bahagia karena telah berjuang melawan keadaan itu," lanjutnya.

Fariba juga berharap generasi perempuan Afghanistan berikutnya dapat mengikuti jejaknya dan tampil di ajang olahraga internasional tanpa rasa takut.

"Saya berharap generasi berikutnya bisa datang ke sini dan mewakili negara mereka tanpa rasa takut," katanya.

Menyamar Jadi Pria Saat Latihan

Fariba mulai menekuni olahraga balap sepeda ketika berusia 15 tahun. Ia mengikuti jejak sang kakak, Yulduz Hashimi, yang juga merupakan atlet balap sepeda internasional.

Keduanya berasal dari Provinsi Faryab, Afghanistan. Ketika mulai berlatih, Fariba harus menghadapi kondisi yang tidak mudah karena perempuan memiliki keterbatasan dalam menjalani aktivitas di ruang publik.

Untuk dapat berlatih, Fariba mengaku selalu menyamar sebagai pria. Ia mengenakan pakaian seperti laki-laki dan menutupi wajahnya agar tidak dikenali.

"Saya selalu berpakaian seperti laki-laki ketika pergi latihan," ujar Fariba.

Ia bahkan menggunakan dua atau tiga masker sekaligus untuk menghindari pengenalan identitas.

Fariba mengatakan dirinya dan sang kakak pernah mendapat perlakuan agresif ketika bersepeda. Mereka menghadapi lemparan batu dan botol hingga harus berusaha menghindari serangan tersebut.

"Mereka berusaha membuat kami pulang dengan bersikap agresif dan menyerang kami," ungkapnya.

Meski mengalami berbagai pengalaman buruk, Fariba mengatakan dirinya tidak menganggap masyarakat Afghanistan sebagai orang-orang yang buruk. Menurutnya, kondisi dan pola pikir di wilayah tersebut memang berbeda.

"Saya mengalami masa yang sangat buruk, tetapi saya tidak mengatakan bahwa masyarakat saya buruk. Kami memiliki negara yang luar biasa. Namun, pola pikirnya berbeda," katanya.

Tinggalkan Afghanistan dan Menetap di Italia

Setelah Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021, kondisi Fariba dan para perempuan lain semakin sulit. Fariba kemudian meninggalkan negaranya untuk mengejar impian sebagai atlet.

Ia akhirnya menetap dan berlatih di Italia dengan bantuan mantan juara dunia balap sepeda asal Italia, Alessandra Cappellotto. Fariba dan Yulduz kemudian berhasil tampil di Olimpiade Paris 2024. Kini, keduanya juga mengarahkan perhatian ke Olimpiade Los Angeles 2028.

Fariba mengaku tidak ingin menyerah dalam mengejar impiannya.

"Saya tidak pernah ingin menyerah, dan mudah-mudahan kita bisa melihat apa yang terjadi lagi di Los Angeles," ujarnya.

Medali untuk Perempuan Afghanistan

Fariba mengatakan medali perak yang diraihnya bukan hanya tentang pencapaian pribadi. Ia berharap prestasi tersebut dapat menunjukkan ketangguhan perempuan Afghanistan.

"Medali perak ini bisa menunjukkan banyak ketangguhan perempuan Afghanistan, dan saya sangat bahagia," katanya.

Fariba juga merasa dirinya tidak berjuang sendirian. Ia menyebut ada jutaan perempuan dari berbagai negara yang memiliki impian serupa dan mendukung perjuangannya.

"Saya tidak sendirian. Saya tahu di belakang saya ada jutaan perempuan dari banyak negara yang memiliki impian yang sama dan mereka berdiri bersama saya," ujarnya.

Fariba juga mengucapkan terima kasih kepada tim Jepang yang turut membantu perjuangannya selama Asian Games 2026. Ia mengaku datang tanpa mekanik khusus dan harus menangani sendiri sepeda yang digunakannya.

"Kami datang tanpa mekanik, tanpa persiapan. Kami membawa satu orang dari federasi nasional dan dia hanya mengemudikan mobil," jelas Fariba.

"Kami memperbaiki sepeda sendiri. Saya menjadi mekanik untuk diri saya sendiri. Saya juga mencuci sepeda sendiri," lanjutnya.

Fariba secara khusus mengapresiasi tim Jepang yang membantunya memperbaiki sepeda.

"Terima kasih kepada tim Jepang. Mereka sangat baik kepada saya dan memperbaiki sepeda saya," katanya.

Perjalanan Fariba Hashimi di Asian Games 2026 menjadi bagian penting dari kisah perjuangannya. Setelah sebelumnya harus menyamar sebagai pria agar dapat berlatih, meninggalkan Afghanistan, dan membangun karier di Italia, kini ia berhasil membawa pulang medali perak untuk negaranya.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN