JAKARTA, KUCANTIK.COM - Manicure di salon menjadi salah satu cara yang banyak dipilih untuk membuat kuku terlihat lebih rapi dan menarik. Namun, perawatan kuku yang terlalu sering ternyata dapat membawa sejumlah risiko kesehatan, terutama jika proses pengaplikasian dan penghapusan produk dilakukan secara agresif.
Dokter kulit menjelaskan bahwa proses manicure dapat membuat lapisan luar kuku terkikis serta meningkatkan paparan terhadap bahan kimia tertentu. Kondisi tersebut berpotensi membuat kuku kehilangan kelembapan alami sehingga menjadi lebih kering, tipis, dan rapuh.
1. Infeksi Bakteri dan Jamur
Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah infeksi bakteri dan jamur di sekitar kuku. Risiko ini dapat meningkat ketika kulit mengalami luka akibat proses manicure atau alat yang digunakan tidak dibersihkan dan disterilkan dengan baik.
Infeksi bakteri biasanya ditandai dengan pembengkakan, kemerahan, rasa hangat, nyeri saat ditekan, hingga munculnya nanah di sekitar kuku. Dalam kondisi tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi abses dan membutuhkan penanganan medis.
Kutikula juga memiliki peran penting sebagai pelindung alami antara kuku dan jaringan kulit di sekitarnya. Karena itu, memotong atau mendorong kutikula terlalu agresif dapat menciptakan celah yang memudahkan bakteri maupun jamur masuk.
Kebersihan salon menjadi faktor lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Sebaiknya pilih salon yang menggunakan instrumen steril, membuka peralatan dari kemasan khusus, menggunakan cairan disinfektan, dan tidak memakai kikir yang sama untuk banyak pelanggan.
2. Kuku Bisa Terangkat dan Mengelupas
Manicure yang dilakukan terlalu agresif juga dapat menyebabkan kerusakan fisik pada kuku. Salah satu kondisi yang dapat terjadi adalah onikolisis atau terlepasnya lempeng kuku dari bantalan kuku di bawahnya.
Penggunaan ekstensi kuku, pengikiran berlebihan, serta paparan aseton saat melepas gel dapat mengurangi kelembapan alami kuku. Akibatnya, kuku dapat menjadi lebih tipis, mudah retak, rapuh, bahkan terangkat dari permukaan kulit.
Rekomendasi juga buat kamu:
Jika kuku mulai menunjukkan tanda-tanda tersebut, memberikan waktu istirahat dapat membantu proses pemulihan. Jeda sekitar dua hingga tiga bulan dapat diberikan agar bagian kuku baru yang lebih sehat memiliki kesempatan untuk tumbuh.
3. Memicu Dermatitis Kontak Alergi
Produk manicure seperti gel, akrilik, dan lem kuku dapat mengandung bahan dari kelompok akrilat yang berpotensi memicu alergi. Beberapa bahan yang disebut dapat menyebabkan reaksi tersebut antara lain 2-Hydroxyethyl Methacrylate atau 2-HEMA dan Methyl Methacrylate atau MMA.
Menariknya, reaksi alergi tidak selalu muncul sejak pertama kali seseorang menggunakan produk tertentu. Paparan berulang dalam jangka waktu lama dapat membuat seseorang mengalami dermatitis kontak alergi meskipun sebelumnya tidak pernah memiliki masalah dengan produk tersebut.
Gejalanya dapat berupa rasa terbakar, gatal, kulit mengelupas, serta munculnya ruam atau sisik di sekitar kuku. Alergen juga dapat berpindah ketika tangan menyentuh wajah atau leher sehingga menyebabkan iritasi pada bagian tubuh lainnya.
4. Mempercepat Penuaan Kulit Tangan
Penggemar manicure gel juga perlu memperhatikan paparan sinar ultraviolet dari lampu pengering kuku. Lampu tersebut memancarkan UVA yang dapat menembus lapisan kulit lebih dalam dan berkontribusi terhadap proses photoaging atau penuaan dini akibat paparan radiasi.
Paparan tersebut dapat membuat kulit di punggung tangan lebih cepat mengalami keriput dan munculnya flek hitam. Pembuluh darah halus pada kulit juga dapat menjadi lebih terlihat seiring bertambahnya paparan.
Belum ada batas frekuensi yang secara pasti dinyatakan aman untuk manicure gel dengan lampu UV. Namun, penggunaan secara berkala dalam interval pendek dapat meningkatkan akumulasi paparan radiasi pada kulit.
5. Kekhawatiran terhadap Kanker Kulit
Paparan lampu UV atau LED dalam proses manicure gel juga kerap dikaitkan dengan kekhawatiran terhadap kanker kulit. Meskipun lampu LED membutuhkan waktu pengeringan yang lebih singkat, perangkat tersebut tetap dapat memancarkan radiasi ultraviolet.
Skin Cancer Foundation menyebut tingkat radiasi dari alat pengering kuku relatif rendah jika dibandingkan dengan tanning bed. Sejumlah dokter kulit juga menilai risiko penuaan dini pada kulit tangan akibat paparan sinar matahari sehari-hari lebih nyata dibandingkan risiko kanker kulit dari manicure gel.
Manicure Apa yang Lebih Aman?
Di antara berbagai jenis perawatan, cat kuku konvensional atau tradisional dinilai memiliki risiko lebih rendah terhadap kesehatan kuku. Jenis ini tidak membutuhkan lampu UV untuk proses pengeringan dan proses penghapusannya umumnya tidak membutuhkan pengikisan lapisan kuku secara intensif.
Sementara itu, akrilik dan dip powder biasanya melibatkan lebih banyak proses pengikiran, tekanan fisik, serta paparan bahan akrilat. Manicure gel memang cenderung lebih tahan lama, tetapi prosesnya melibatkan paparan lampu kuku dan penggunaan aseton ketika produk dilepas.
Memberikan jeda atau nail break juga dapat menjadi bagian dari perawatan kuku. Cat kuku konvensional dapat diberi jeda beberapa hari, sedangkan penggunaan gel dapat diselingi istirahat sekitar dua hingga tiga minggu setelah beberapa kali perawatan berturut-turut.
Untuk akrilik dan dip powder, waktu pemulihan yang disarankan dapat mencapai setidaknya empat minggu atau lebih. Durasi tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi kuku dan tingkat kerusakan yang dialami.
Cara Manicure Tetap Aman
Bagi yang tetap ingin melakukan manicure, beberapa langkah pencegahan dapat dilakukan untuk mengurangi risikonya. Salah satunya adalah menggunakan sunscreen pada punggung tangan sekitar 15-20 menit sebelum kuku dikeringkan dengan lampu gel atau menggunakan sarung tangan pelindung UV tanpa ujung jari.
Kutikula juga sebaiknya tidak dipotong atau dikikis secara agresif karena bagian tersebut berfungsi sebagai pelindung alami kuku. Selain itu, menjaga kelembapan dengan hand cream dan cuticle oil dapat membantu mengurangi efek kering setelah penggunaan aseton.
Pemilihan salon dengan standar kebersihan yang baik juga tidak boleh diabaikan. Pastikan alat yang digunakan steril, kemasan peralatan dibuka di depan pelanggan bila memungkinkan, serta teknisi tidak mengikir permukaan kuku hingga terlalu tipis.
Dengan memperhatikan kebersihan, kondisi kutikula, bahan yang digunakan, dan jeda antarperawatan, manicure tetap dapat dilakukan dengan lebih aman. Jika muncul infeksi, alergi, kuku terangkat, atau kerusakan yang tidak kunjung membaik, sebaiknya hentikan sementara perawatan dan pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter kulit.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Kuku Cantik Tak Selalu Aman, Ini 5 Risiko jika Terlalu Sering Manicure .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!