JAKARTA, KUCANTIK.COM - Bagi sebagian orang, amputasi mungkin menjadi salah satu keputusan hidup yang paling sulit dibayangkan. Namun, bagi Jess Burkinshaw, perempuan asal Inggris berusia 20 tahun, keputusan tersebut justru menjadi jalan yang dipilih setelah bertahun-tahun hidup dengan rasa sakit luar biasa.
Jess meminta agar kakinya diamputasi setelah mengalami complex regional pain syndrome (CRPS), kondisi yang menyebabkan nyeri kronis dan ekstrem. CRPS bahkan kerap dijuluki sebagai "penyakit bunuh diri" karena rasa sakit yang ditimbulkannya dapat berlangsung lama dan sangat berat.
Perjalanan Jess menghadapi penyakit tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak masih bayi. Ia diketahui mengalami radang sendi kronis. Memasuki usia 15 tahun, kondisi pada pergelangan kaki kanannya semakin memburuk hingga akhirnya ia didiagnosis mengalami CRPS.
Sejak saat itu, kehidupan sehari-harinya berubah drastis. Jess mengatakan dirinya tidak pernah benar-benar mengetahui bagaimana rasanya menjalani hidup tanpa rasa sakit. Bahkan, dalam kesehariannya, tingkat nyeri yang dirasakan disebut tidak pernah berada di bawah angka tujuh dari skala satu hingga 10.
Rasa sakit tersebut bukan sekadar membuatnya tidak nyaman. Aktivitas sederhana yang bagi kebanyakan orang dilakukan tanpa berpikir, seperti memakai kaus kaki atau sepatu, justru bisa menjadi pengalaman yang sangat menyiksa bagi Jess.
Kondisinya juga berdampak pada pendidikan dan kehidupan sosialnya. Jess harus mengikuti ujian sekolah dari rumah. Ia bahkan pernah berada dalam kondisi sangat parah hingga hampir tidak meninggalkan kamar selama delapan bulan.
Menurut Jess, periode tersebut menjadi salah satu titik terendah dalam hidupnya. Rasa sakit yang terus muncul membuatnya kesulitan keluar rumah dan menjalani aktivitas seperti biasanya.
Berbagai upaya medis pun dilakukan untuk mengatasi kondisinya. Jess sempat menjalani operasi penggabungan sendi pergelangan kaki dan menggunakan spinal cord stimulator, sebuah perangkat yang digunakan untuk membantu mengendalikan nyeri tertentu.
Namun, berbagai penanganan tersebut belum memberikan perubahan yang diharapkannya. Setelah berdiskusi dengan dokter selama lebih dari dua tahun, Jess kemudian mulai mempertimbangkan amputasi sebagai pilihan untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.
Keputusan tersebut tidak diambil secara terburu-buru. Jess berkonsultasi dengan tiga dokter sebelum akhirnya menjalani amputasi pada April 2026.
Yang mengejutkan, setelah operasi, Jess justru merasakan perubahan besar dalam kehidupannya. Ia mengaku rasa sakit yang selama bertahun-tahun menghantuinya berkurang. Pola tidurnya juga membaik dan ia mulai lebih sering keluar rumah.
Dengan bantuan kaki prostetik, Jess perlahan mendapatkan kembali kemandiriannya. Baginya, amputasi bukan sekadar kehilangan bagian tubuh, melainkan sebuah kesempatan untuk mengurangi rasa sakit sekaligus memperoleh fungsi tubuh yang lebih baik.
Jess mengatakan dirinya bersedia menjalani keputusan tersebut demi meningkatkan kualitas hidup. Setelah bertahun-tahun kehidupannya dibatasi oleh nyeri, ia kini merasa memiliki kesempatan untuk melakukan lebih banyak hal.
Pengalaman tersebut kemudian dibagikan Jess melalui media sosial. Ia aktif menceritakan kehidupannya sebagai penyandang disabilitas sekaligus berbagi pengalaman mengenai perjalanan panjangnya menghadapi CRPS dan proses setelah amputasi.
Meski keputusan untuk menjalani amputasi mungkin terdengar ekstrem bagi sebagian orang, Jess mengaku tidak menyesal. Setelah hidup bertahun-tahun dengan nyeri kronis yang membatasi hampir setiap aspek kehidupannya, amputasi justru menjadi titik balik yang membantunya kembali menjalani kehidupan dengan lebih mandiri.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Idap Penyakit Bunuh Diri Sejak Remaja, Wanita Ini Rela Kaki Diamputasi .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!