- Home
-
- Entertainment
-
- 6 Film Indonesia Tembus ...
6 Film Indonesia Tembus Busan International Film Festival 2026, Ada Laut Bercerita
Selasa, 15 Sep 2026, 18:30 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Busan International Film Festival (BIFF) 2026 menjadi salah satu panggung internasional yang akan menampilkan sejumlah film yang melibatkan Indonesia. Tak hanya film produksi nasional, terdapat pula karya hasil kolaborasi Indonesia dengan sejumlah negara yang masuk dalam berbagai program festival.
Kehadiran enam film tersebut menjadi kabar menarik bagi perfilman Indonesia karena beberapa di antaranya membawa cerita yang dekat dengan persoalan sosial, sejarah, keluarga, hingga perjalanan spiritual. Dua film bahkan masuk dalam program Kompetisi Utama, yakni Ibuku karya Eddie Cahyono dan Laut Bercerita garapan Yosep Anggi Noen.
1. Ibuku

Sumber: Istimewa
Film pertama yang akan hadir di BIFF 2026 adalah Ibuku arahan sutradara Eddie Cahyono. Film ini masuk dalam program Kompetisi Utama dan dijadwalkan tayang pada 24 September 2026.
Ibuku mengisahkan Sumiati yang diperankan Christine Hakim, seorang ibu yang berusaha menemui putrinya, Sri, yang diperankan Ayushita. Sri sedang menjalani hukuman di penjara Arab Saudi setelah dituduh membunuh majikannya dan dijatuhi hukuman mati.
Perjalanan Sumiati untuk bertemu sang anak membuatnya kembali berhadapan dengan luka lama dalam hubungan mereka. Selain kisah emosional ibu dan anak, film ini juga mengangkat isu buruh migran, perempuan, serta hak asasi manusia.
2. Laut Bercerita

Sumber: Istimewa
Nama lain yang cukup mencuri perhatian adalah Laut Bercerita karya sutradara Yosep Anggi Noen. Film tersebut juga masuk Kompetisi Utama dan dijadwalkan tayang pada 29 Oktober 2026.
Film ini terinspirasi dari tragedi penculikan aktivis pada masa Orde Baru tahun 1998. Ceritanya mengikuti Biru Laut, mahasiswa di Yogyakarta yang gemar membaca dan menulis sebelum akhirnya terlibat dalam gerakan mahasiswa di tengah situasi politik yang penuh tekanan.
Bersama teman-temannya, Laut bergabung dalam kelompok studi Winatra. Dari ruang diskusi hingga aksi di lapangan, mereka berusaha menyuarakan kebebasan berekspresi ketika mahasiswa menghadapi ancaman penangkapan karena membaca atau menyebarkan buku yang dianggap terlarang.
3. Empat Musim Pertiwi
![]()
Sumber: Istimewa
Film berikutnya adalah Empat Musim Pertiwi atau Four Seasons in Java yang disutradarai Kamila Andini. Film yang dibintangi Putri Marino sebagai Pertiwi tersebut masuk program A Window on Asian Cinema dan dijadwalkan tayang pada 8 Oktober 2026.
Film ini bercerita tentang Pertiwi yang kembali ke kampung halamannya setelah 20 tahun meninggalkan desa tersebut. Ia pulang dengan harapan dapat menata kembali kehidupannya, tetapi justru menemukan kampung yang berubah dan terasa semakin kelam.
Kepulangan Pertiwi juga membawanya berhadapan dengan persoalan masa lalu. Sahabatnya menikah dengan mantan kekasihnya, orang tuanya menolak kepulangannya, sementara sosok keibuan yang dahulu menjadi tempat berlindung telah terusir dari desa.
Situasi semakin rumit karena orang-orang yang pernah membuat Pertiwi dipenjara kini justru berada di posisi berkuasa. Film ini pun menghadirkan cerita mengenai kepulangan, konflik personal, serta perubahan kehidupan di sebuah desa.
4. aLPa

Sumber: Istimewa
Selanjutnya ada aLPa karya sutradara Dhiwangkara Seta yang masuk program Wide Angle - Asian Short Film Competition. Film ini mengikuti kisah Banyu yang diperankan Elang El Gibran, seorang vokalis punk yang ditangkap dan kemudian dikirim ke pusat rehabilitasi moral.
Di tempat tersebut, Banyu bertemu Deri yang diperankan Whani Darmawan. Sosok tersebut merupakan hantu dari masa lalu Banyu sekaligus ulama terhormat di kota itu.
Pertemuan tersebut membawa Banyu pada upaya untuk melawan sistem yang membelenggunya. Namun, perjalanan itu membuatnya harus menghadapi kenyataan bahwa jalan menuju kebebasan justru berkaitan dengan sosok yang paling ingin ia hindari.
5. 9 Temples to Heaven

Sumber: Istimewa
Indonesia juga terlibat dalam film internasional 9 Temples to Heaven yang disutradarai Sompot Chidgasornpongse. Film ini masuk program A Window on Asian Cinema dan merupakan hasil produksi bersama Thailand, Singapura, Prancis, Norwegia, China, Hong Kong, Indonesia, serta Qatar.
Cerita film berpusat pada Sakol yang diperankan Surachai Ningsanond. Ia melakukan perjalanan menuju sembilan kuil setelah seorang peramal memperingatkannya mengenai kemungkinan kematian sang ibu, Amara Ramnarong, yang disebut akan terjadi dalam waktu dekat.
Perjalanan menuju sembilan kuil tersebut menjadi bagian penting dalam kisah Sakol. Keterlibatan Indonesia dalam produksi bersama ini sekaligus memperlihatkan kolaborasi perfilman lintas negara yang hadir di BIFF 2026.
6. Hearing

Sumber: Istimewa
Film terakhir adalah Hearing, sebuah produksi bersama yang melibatkan Singapura, Vietnam, Norwegia, Prancis, Indonesia, Arab Saudi, Kamboja, Thailand, dan Taiwan. Film ini juga ditayangkan melalui program A Window on Asian Cinema.
Hearing mengikuti kehidupan Ninh yang tinggal bersama ibunya dan masih menyimpan kerinduan terhadap mantan istrinya, Ngoc, serta anak-anak mereka. Sebagai mekanik yang memasang alat pengukur kebisingan di ruang publik dan rumah, Ninh melihat bagaimana keheningan dapat memengaruhi hubungan antarmanusia.
Di tengah kehidupannya, Ninh juga berharap kedua orang tuanya yang telah lama berpisah dapat kembali berdamai. Ketakutan kehilangan orang-orang yang dicintainya membuat Ninh harus menghadapi berbagai perubahan dan ritme kehidupan yang sulit diprediksi.
Enam film tersebut menunjukkan beragam wajah perfilman Indonesia di Busan International Film Festival 2026. Mulai dari isu buruh migran dan sejarah politik hingga konflik keluarga, perjalanan spiritual, serta kolaborasi produksi internasional, karya-karya tersebut membawa cerita Indonesia dan keterlibatan sineas Indonesia ke panggung perfilman Asia.
- rekomendasi film
- film indonesia
Redaktur: Afifa Khoirunnisa
Penulis: Afifa Khoirunnisa
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.