Putra Sulung Elon Musk, Vivian Wilson, Diduga Sindir Teknologi Sang Ayah Lewat Campaign Anti-AI

Doc: Instagram/@unexplnd

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Vivian Wilson, putra sulung Elon Musk, kembali menjadi sorotan setelah tampil sebagai wajah utama campaign terbaru merek busana asal Spanyol, Desigual.

Dalam campaign bertajuk Born to Disobey, transgender berusia 22 tahun tersebut menyampaikan pesan bernuansa satir tentang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sekaligus menonjolkan pentingnya keaslian manusia.

Dikenal sebagai model, aktivis LGBTQ+, dan figur yang vokal di media sosial, Vivian tampil berani dalam campaign yang mengusung semangat perlawanan terhadap sesuatu yang dianggap terlalu mengatur kehidupan manusia.

Desigual menjadikan sosoknya sebagai representasi dari kebebasan berekspresi dan keberanian untuk tidak mengikuti pola yang sudah ditentukan.

Salah satu bagian paling menarik dari campaign tersebut adalah interaksi Vivian dengan sebuah robot bernama DESI84. Alih-alih memperlakukan robot sebagai teknologi canggih yang harus dikagumi, Vivian justru memperlakukannya dengan cara yang absurd dan menggelitik.

Dalam salah satu adegan, robot tersebut digunakan sebagai alas untuk bermain golf. Pada kesempatan lain, Vivian menuntunnya menggunakan tali seperti sedang mengajak anjing peliharaan berjalan-jalan.

Ia juga mencoba mengajarkan robot tersebut untuk mengucapkan nama “Desigual”.

Namun, robot itu justru berulang kali mengalami malfungsi ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan fungsi atau programnya.

Ada pula momen ketika sebuah robot terlihat sedang memotong rumput, namun kemudian terjadi korsleting saat alat untuk menyiram tanaman dihidupkan dan mengenai tubuh robot tersebut.

Tingkah robot yang kikuk tersebut menjadi bagian penting dari pesan campaign: secanggih apa pun teknologi, tetap ada hal-hal yang sulit dilakukan mesin ketika berhadapan dengan spontanitas, kreativitas, dan perilaku manusia yang tidak selalu bisa diprediksi.

Melalui Born to Disobey, Desigual ingin menyampaikan gagasan bahwa pemberontakan tidak selalu berarti melawan sistem secara langsung. Terkadang, bentuk perlawanan justru hadir dengan menolak menjadi bagian dari sesuatu yang membuat semua orang harus mengikuti pola yang sama.

Pesan tersebut semakin kuat melalui kalimat, “Some things aren’t meant to be fixed,” atau “Beberapa hal memang tidak dirancang untuk diperbaiki.” Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa ketidaksempurnaan tidak selalu merupakan masalah yang harus diselesaikan.

Vivian sendiri menyatakan bahwa dirinya ingin mengambil sikap terhadap perkembangan AI di industri fashion.

Menurutnya, teknologi tersebut berpotensi mengambil pekerjaan para pekerja kreatif sekaligus membawa persoalan lingkungan. Ia juga menilai seni tidak sekadar menghasilkan bentuk atau visual, tetapi berkaitan erat dengan emosi dan ekspresi manusia.

Kehadiran Vivian dalam campaign ini pun terasa semakin menarik karena latar belakang keluarganya. Sebagai putri Elon Musk, salah satu tokoh teknologi yang sangat dekat dengan perkembangan AI dan robotika, kritik terhadap teknologi yang ia tampilkan dalam campaign Desigual tentu menjadi sorotan tersendiri.

Pada akhirnya, Born to Disobey bukan sekadar campaign fashion. Desigual mencoba menjadikan pakaian, humor, dan aksi provokatif sebagai medium untuk menyampaikan pesan bahwa di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, menjadi diri sendiri, kreatif, dan tidak sempurna justru bisa menjadi bentuk kebebasan yang paling manusiawi.*

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN