Keringat Bikin Bau Badan? Jangan Salah, Ternyata Ini Biang Kerok yang Sebenarnya
Jum'at, 28 Agu 2026, 21:35 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Keringat kerap dianggap sebagai biang utama munculnya bau badan. Tak sedikit orang bahkan berusaha menghentikan keringat dengan menggunakan produk antiperspirant karena menganggap tubuh yang tidak berkeringat akan terbebas dari aroma tidak sedap.
Padahal, keringat sendiri sebenarnya bukan penyebab utama bau badan. Bau badan lebih berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme yang secara alami hidup di permukaan kulit.
Ketika komponen tertentu dalam keringat berinteraksi dengan bakteri di kulit, proses tersebut dapat menghasilkan senyawa yang menimbulkan aroma khas yang kemudian dikenal sebagai bau badan.
Artinya, persoalannya bukan semata-mata seberapa banyak seseorang berkeringat, melainkan apa yang terjadi pada kulit setelah keringat keluar.
Keringat Sebenarnya Dibutuhkan Tubuh
Berkeringat merupakan proses alami tubuh yang memiliki fungsi penting, salah satunya membantu mengatur suhu tubuh.
Ketika suhu tubuh meningkat, misalnya akibat cuaca panas atau aktivitas fisik, kelenjar keringat akan bekerja menghasilkan cairan. Saat cairan tersebut menguap dari permukaan kulit, panas tubuh ikut dilepaskan sehingga membantu tubuh mempertahankan suhu yang lebih stabil.
Karena itu, berkeringat tidak selalu berarti tubuh sedang dalam kondisi tidak sehat atau tidak bersih.
Masalah biasanya muncul ketika keringat berada di permukaan kulit dan berinteraksi dengan mikroorganisme. Area seperti ketiak menjadi salah satu bagian tubuh yang lebih mudah menghasilkan bau karena kondisi lingkungan kulit dan aktivitas bakteri di area tersebut.
Pemahaman inilah yang kemudian mendorong munculnya pendekatan berbeda dalam memilih produk perawatan tubuh. Alih-alih hanya berusaha menghentikan keringat, perhatian mulai diarahkan pada bagaimana mengendalikan bau sekaligus mempertahankan kondisi alami kulit.
Bakteri Kulit Bukan Selalu Musuh
Tubuh manusia secara alami dihuni berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri yang hidup di permukaan kulit. Keberadaan mikroorganisme tersebut merupakan bagian dari ekosistem kulit atau yang sering disebut sebagai mikrobioma kulit.
Karena itu, pendekatan terhadap bau badan tidak selalu berarti harus menghilangkan seluruh bakteri yang ada di kulit.
Konsep menjaga keseimbangan mikrobioma kemudian menjadi salah satu perhatian dalam perkembangan produk perawatan tubuh. Tujuannya bukan sekadar membuat tubuh wangi, tetapi juga menjaga kondisi kulit agar tetap nyaman.
Dalam konteks inilah sejumlah produk deodoran mulai menggunakan pendekatan yang berbeda dari antiperspiran konvensional.
Deodoran dan Antiperspiran Punya Fungsi Berbeda
Deodoran dan antiperspiran sering dianggap sebagai produk yang sama karena sama-sama digunakan pada area ketiak. Padahal, keduanya memiliki tujuan yang berbeda.
Deodoran pada dasarnya digunakan untuk membantu mengendalikan atau menutupi bau badan. Sementara itu, antiperspirant dirancang untuk mengurangi produksi keringat pada area tertentu.
Perbedaan fungsi tersebut penting dipahami karena berkeringat sendiri merupakan proses fisiologis normal.
Bagi orang yang banyak beraktivitas, misalnya berolahraga atau bekerja di luar ruangan, keringat hampir tidak mungkin dihindari. Yang kemudian menjadi persoalan adalah bagaimana menjaga tubuh tetap nyaman dan segar tanpa harus menganggap keringat sebagai sesuatu yang harus selalu dilawan.
Director of Utama Spice, Ria Templer, menjelaskan bahwa berkeringat memiliki peran penting dalam membantu mengatur suhu tubuh. Menurutnya, persoalan yang sebenarnya perlu diperhatikan bukanlah keringat itu sendiri, melainkan bau badan.
Ria juga menyebut pemahaman tersebut menjadi dasar dalam mengembangkan pendekatan perawatan tubuh yang bekerja lebih selaras dengan fungsi alami tubuh.
Tren Deodoran Mulai Bergeser
Perubahan cara pandang terhadap keringat turut mendorong berkembangnya pilihan produk deodoran dengan pendekatan yang berbeda.
Salah satunya adalah penggunaan bahan yang ditujukan untuk membantu mengontrol bau sekaligus menjaga kondisi kulit. Utama Spice, misalnya, memperkenalkan Probiotic Deodorant yang menggunakan kombinasi probiotic ferments, Triethyl Citrate, dan Zinc Ricinoleate.
Formula tersebut diklaim ditujukan untuk membantu menetralkan bau, sementara kandungan aloe vera dan gliserin digunakan untuk membantu menjaga kelembapan serta kenyamanan kulit.
Namun, keberadaan produk dengan pendekatan seperti ini lebih menarik dilihat sebagai bagian dari perubahan cara masyarakat memandang perawatan tubuh, bukan semata-mata menghilangkan keringat, tetapi mengelola bau dan menjaga kondisi kulit.
Sebagai catatan, bau badan tidak selalu sama pada setiap orang. Selain aktivitas bakteri kulit, aroma tubuh dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi lingkungan, aktivitas fisik, kebersihan, pakaian, serta kondisi tubuh masing-masing.
Itulah sebabnya seseorang yang banyak berkeringat belum tentu memiliki bau badan lebih kuat dibandingkan orang yang hanya sedikit berkeringat.
Aktivitas fisik memang meningkatkan produksi keringat. Namun, selama tubuh tetap terjaga kebersihannya dan area yang mudah lembap dirawat dengan baik, keringat tidak otomatis membuat seseorang mengeluarkan bau tidak sedap.
Pada akhirnya, menjaga tubuh tetap segar tidak selalu berarti harus menghentikan setiap proses alami yang dilakukan tubuh.
Keringat memiliki fungsi penting bagi tubuh, sementara bau badan merupakan persoalan yang berbeda. Dengan memahami perbedaan keduanya, seseorang dapat memilih cara perawatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan kulit dan aktivitas sehari-hari.
Jadi, ketika ketiak mulai berkeringat, tidak perlu langsung menganggapnya sebagai masalah. Yang perlu diperhatikan justru adalah bagaimana menjaga kebersihan, mengelola bau, dan mempertahankan kondisi kulit tetap nyaman.
- penyebab bau badan
- penyebab keringat di badan
Redaktur: Fitrya A Kusumah
Penulis: Fitrya A Kusumah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.