Kecoa Bawa Hoki! Karya Unik Desainer Surabaya Ini Sukses Tembus Paris, Bikin Dunia Fashion Melirik!
Kamis, 13 Agu 2026, 14:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Siapa sangka seekor kecoa bisa menjadi bagian dari perjalanan seorang desainer muda menuju Paris? Bagi Aldri Indrayana, serangga yang selama ini identik dengan rasa jijik dan takut justru menjadi sumber inspirasi yang membawanya selangkah lebih dekat ke panggung fashion dunia.
Desainer asal Surabaya, Jawa Timur, tersebut berhasil terpilih dalam Pintu Incubator 2026, program inkubasi mode yang digelar JF3 Fashion Festival, Lakon Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis melalui Institut Français d'Indonésie (IFI).
Kabar tersebut bahkan disampaikan langsung oleh Fabien Penone, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, dalam acara reception night di kediaman resminya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
"Congratulation Aldri," ujar Fabien saat mengumumkan peserta yang berhasil melangkah ke tahap berikutnya.
Bagi Aldri, kesempatan tersebut terasa seperti kejutan besar. Ketika mendaftar Pintu Incubator, ia mengaku sama sekali tidak membayangkan bisa mendapatkan kesempatan belajar di Paris.
"Jujur, nggak punya ekspektasi untuk ke Paris saat mendaftar Pintu. Aku pikir cuma ikut bimbingan saja, lalu menampilkan karya di panggung JF3. Aku benar-benar nggak nyangka," ujar Aldri.
Kecoa Jadi Bintang di Koleksi Fashion

Dok. JF3
Sebelum namanya terpilih untuk mengikuti program studi singkat di Ãcole Duperré Paris, Aldri terlebih dahulu melewati enam bulan proses pelatihan dan pendampingan bersama mentor dari Indonesia dan Prancis.
Hasilnya kemudian diperkenalkan melalui koleksi bertajuk "Roach Me, Roach Me Not" di runway BRI JF3 Fashion Festival 2026.
Seperti namanya, kecoa menjadi salah satu elemen paling mencolok dalam koleksi tersebut. Namun, Aldri tidak sekadar menjadikan serangga itu sebagai hiasan. Di balik desainnya terdapat gagasan mengenai bagaimana masyarakat membentuk konsep maskulinitas.
Menurut Aldri, sejak kecil banyak laki-laki dibesarkan dengan anggapan bahwa mereka harus kuat, berani, dan tidak boleh menunjukkan rasa takut.
Padahal, takut merupakan respons manusiawi yang dapat dirasakan siapa saja.
Dari situlah kecoa muncul sebagai simbol. Pria yang dikenal kuat sekalipun bisa saja secara spontan mundur atau merasa takut ketika berhadapan dengan seekor kecoa.
Aldri kemudian menerjemahkan ide tersebut ke dalam lima set busana kontemporer. Bentuk kecoa hadir sebagai bros yang menjadi bagian dari pakaian, sementara material beludru merah dan teknik screen printing memberikan karakter visual yang kuat.
Menantang Definisi Pakaian Formal

Dok. JF3
Yang menarik, koleksi Aldri bukan sekadar tentang kecoa. Ia juga mencoba membongkar anggapan mengenai seperti apa pakaian formal untuk pria.
Ia menyebut pendekatannya sebagai "alternative for formal wear".
Jas dan coat yang biasanya memiliki potongan konvensional diubah melalui berbagai bentuk asimetris. Detail tersebut dapat muncul pada bagian lapel maupun ujung lengan.
Ia juga menggunakan elemen ritsleting bukan sekadar sebagai ornamen. Ritsleting dimanfaatkan untuk menciptakan konsep busana yang bisa berubah fungsi.
Salah satu jas, misalnya, dapat diubah menjadi tampilan menyerupai vest ketika ritsleting di bagian bahu dibuka.
Eksperimen juga terlihat pada pilihan bawahan. Alih-alih selalu menggunakan celana panjang, Aldri menghadirkan celana pendek sebagai alternatif untuk busana formal.
Sementara itu, dasi tidak dikenakan secara konvensional. Aksesori tersebut justru ditumpuk dan digunakan sebagai elemen dekoratif pada pakaian maupun celana.
Dari Anting Gurita Jadi Tas Unik

Dok. JF3
Selain kecoa, Aldri juga mengeksplorasi bentuk hewan lain dalam koleksinya.
Salah satu model terlihat membawa benda menyerupai boneka gurita. Namun, benda tersebut ternyata merupakan tas yang dapat digunakan untuk menyimpan berbagai barang, termasuk ponsel.
Ide tas gurita itu berasal dari koleksi aksesori Aldri sebelumnya yang menampilkan anting berbentuk gurita. Konsep tersebut kemudian dikembangkan setelah mendapat masukan dari Susan Budihardjo, pendiri Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo sekaligus salah satu mentor Pintu.
Tas tersebut dibuat menggunakan material plastik. Ke depannya, Aldri bahkan berencana menggunakan plastik daur ulang sebagai bagian dari upayanya mengurangi limbah fashion.
Hasil akhirnya terasa unik: serius dari sisi konsep, tetapi tetap memiliki sisi jenaka dan playful yang memungkinkan pemakainya tampil lebih ekspresif.
Produk dari label Aldrie sendiri saat ini dipasarkan dengan harga mulai sekitar Rp650 ribu hingga Rp5 juta.
Dulu Malah Tidak Suka Fashion

Dok. JF3
Perjalanan Aldri menuju dunia fashion juga terbilang tidak biasa.
Berbeda dengan banyak desainer yang sejak kecil gemar menggambar pakaian atau bermain dengan kain, Aldri justru mengaku tidak menyukai fashion ketika masih kecil.
Bahkan, saat duduk di sekolah dasar, hampir seluruh nilai pelajarannya mencapai angka 9, kecuali mata pelajaran seni.
"Saya dulu nggak suka fashion sama sekali," kenangnya.
Setelah lulus sekolah, Aldri memilih mengambil jurusan teknik elektro di Sydney, Australia. Namun, kehidupan kuliahnya justru mempertemukannya dengan dunia yang kemudian menjadi jalan kariernya.
Ia sempat menjalani magang di sebuah studio fashion. Dari pengalaman tersebut, ketertarikannya terhadap industri mode mulai tumbuh.
Aldri kemudian mendapatkan kesempatan belajar di sekolah bisnis fashion. Ia mulai melihat dunia mode dari perspektif berbeda, terutama setelah menyaksikan bagaimana orang-orang di industri tersebut bekerja dengan penuh dedikasi.
Ia akhirnya mengikuti kursus singkat di London sebelum kembali ke Indonesia atas permintaan orangtuanya.
Pada 2015, Aldri yang berbasis di Surabaya mendirikan label Aldrie.
Sempat Terpuruk karena Pandemi
Perjalanan bisnisnya tidak selalu mulus. Setelah sempat berkembang selama beberapa tahun, pandemi Covid-19 ikut memukul daya beli konsumen dan membuat bisnis fashion Aldri melambat.
Meski demikian, ia tidak sepenuhnya meninggalkan label tersebut.
Untuk bertahan, Aldri sempat bekerja sebagai desainer grafis dan mengajar dalam berbagai program pelatihan bagi pelaku UMKM yang digelar sejumlah instansi pemerintah di berbagai daerah.
Di saat yang sama, ia terus mengembangkan ide untuk menghidupkan kembali Aldrie.
Setelah merasa menemukan formula yang tepat, Aldri mencoba mendaftarkan diri ke Pintu Incubator. Kali ini ia juga mengambil arah baru dengan lebih fokus pada fashion pria, setelah sebelumnya banyak menggarap busana perempuan.
Paris Bukan Akhir Perjalanan
Kesempatan belajar di Paris menjadi pencapaian penting bagi Aldri, tetapi perjalanan menuju pasar global ternyata masih panjang.
Menurut Thresia Mareta, pendiri Lakon Indonesia sekaligus salah satu inisiator Pintu Incubator, para desainer peserta program masih membutuhkan pendampingan agar produk mereka benar-benar siap menghadapi pasar internasional.
Karena itu, Pintu Incubator kini menghadirkan Pintu Accelerator sebagai tahap lanjutan sebelum peserta diarahkan menuju trade show internasional.
Pada tahun-tahun sebelumnya, peserta Pintu berkesempatan mengikuti Premiere Classe, salah satu pameran fashion B-to-B besar di Paris yang mempertemukan pelaku industri dengan buyer dari berbagai negara.
Meski belum langsung menjual koleksinya di ajang tersebut, Aldri tetap berencana datang untuk melihat perkembangan pasar secara langsung.
"Aku mau lihat apa yang dicari buyer di sana, dan kira-kira apa yang aku bisa kasih sesuatu yang baru," katanya.
Dari teknik elektro hingga dunia mode, dari Surabaya hingga Paris, perjalanan Aldri membuktikan bahwa inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan dari seekor kecoa. Yang membuatnya berbeda bukan hanya keberanian menghadirkan ide tak biasa, tetapi juga keberaniannya mempertanyakan kembali arti maskulinitas dan pakaian formal lewat fashion.
- Aldri Indrayana
- pintu incubator
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.